BACAMALANG.COM – Saat ini masyarakat pedesaan menghadapi tantangan ekonomi di tengah derasnya arus digitalisasi. Meski demikian, koperasi masih menjadi salah satu pilar penting dalam membangun kemandirian ekonomi lokal. Namun, agar mampu bertahan dan berkembang, koperasi dituntut bertransformasi menjadi lebih modern, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Semangat itulah yang dibawa tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat menjalankan program pengabdian masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dihelat pada 10 Desember 2025. Melalui pendampingan intensif, mereka mendorong transformasi Koperasi Merah Putih agar memiliki daya saing lebih kuat, baik dari sisi kelembagaan maupun pemasaran digital.
Program tersebut dilaksanakan oleh Prof. Dr. Wahyudi, M.Si., Aditya Dwi Putra Bhakti, M.Med.Kom., dan Novin Farid Styo Wibowo, M.Si. Fokus utamanya adalah memperkuat kelembagaan koperasi berbasis nilai toleransi antar umat beragama, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, membangun digital branding, hingga memperluas akses pasar melalui integrasi kanal distribusi online dan offline.
Menariknya, Koperasi Merah Putih yang menjadi mitra dalam program ini beranggotakan masyarakat dengan latar belakang agama dan etnis yang beragam. Keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan utama yang ingin diangkat sebagai identitas koperasi.

Peningkatan kapasitas anggota Koperasi Merah Putih di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan pendampingan digital branding dari tim dosen UMM. (ist)
“Di Timor Tengah Selatan, keberagaman bukan sekadar realitas sosial, tetapi modal sosial yang sangat berharga. Kami ingin nilai toleransi ini menjadi fondasi dalam penguatan kelembagaan koperasi sekaligus menjadi identitas yang membedakan mereka dari pelaku usaha lainnya,” ungkap Prof. Wahyudi.
Melalui kegiatan ini, tim UMM melakukan pendampingan dalam membangun sistem branding digital yang lebih professional, utamanya terhadap produk unggulan daerah seperti kopi lokal, tenun ikat, hingga pangan olahan khas Timor yang didorong agar memiliki identitas merek yang kuat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Aditya Dwi Putra Bhakti menambahkan, bahwa banyak produk lokal memiliki kualitas yang baik, namun belum didukung strategi komunikasi yang efektif agar produk tersebut dikenal dan dipercaya oleh konsumen.
“Banyak produk lokal yang sebenarnya sangat potensial, tetapi belum memiliki strategi komunikasi yang kuat. Karena itu kami membantu koperasi membangun website, memperkuat media sosial, menyusun narasi branding, hingga mengoptimalkan marketplace sebagai sarana pemasaran,” jelasnya.
Tidak hanya soal promosi, program ini juga memberikan pelatihan kepada pengurus dan anggota koperasi terkait pengelolaan usaha berbasis teknologi. Mulai dari manajemen digital, pengelolaan konten, pemasaran online, hingga penguatan tata kelola organisasi menjadi bagian dari materi pendampingan.

Tim dosen UMM saat program pengabdian masyarakat dari UMM di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 10 Desember 2025 lalu. (ist)
Sedangkan Novin Farid Styo Wibowo menilai, keberhasilan transformasi digital tidak semata bergantung pada perangkat teknologi yang digunakan, melainkan pada kemampuan manusia yang mengoperasikannya.
“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana SDM koperasi mampu mengoperasikan dan memanfaatkannya secara optimal. Karena itu kami fokus pada peningkatan kapasitas anggota agar mampu mengelola usaha secara modern dan mandiri,” tegasnya.
Tak berhenti pada pemasaran digital, tim pengabdian UMM juga mendorong koperasi memperluas jaringan distribusi melalui kombinasi strategi online dan offline. Produk-produk koperasi diarahkan untuk masuk ke berbagai jaringan ritel, sektor pariwisata, hingga berbagai ajang promosi ekonomi kreatif.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penetrasi pasar sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi anggota koperasi dan masyarakat sekitar.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan penetrasi pasar sekaligus memperbesar peluang ekonomi bagi anggota koperasi dan masyarakat sekitar.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal.
Dengan menggabungkan nilai toleransi, penguatan kelembagaan, dan transformasi digital, Koperasi Merah Putih diharapkan dapat berkembang menjadi model koperasi modern yang berdaya saing sekaligus menjadi simbol harmoni sosial di Timor Tengah Selatan.
“Ketika toleransi dan ekonomi dapat berjalan beriringan, maka yang lahir bukan hanya pertumbuhan usaha, tetapi juga penguatan persatuan masyarakat,” pungkas Prof. Wahyudi.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































