BACAMALANG.COM – Masih melekat stigma di masyarakat, bahwa penderita down syndrome itu merupakan disabilitas yang kurang dapat berperan. Sekelompok relawan yang menamakan diri mereka Chroma Rangers, mencoba mematahkan stigma negatif ini dengan menggelar kampanye kesehatan bertajuk Chromawesome. Seperti yang tampak di Taman Merbabu Kota Malang, Minggu (9/10/2022).
Suasana di tempat tersebut menjadi semarak dengan fashion show yang dibawakan sejumlah anak Down Syndrome. Gaya mereka tak kalah dengan anak-anak normal, apalagi para penonton yang terdiri dari orang tua, pendamping dan para relawan terus memberi support kepada mereka.
Usai bergaya di panggung, mereka juga tak canggung melanjutkan aksinya berjalan di kawasan taman Merbabu itu layaknya di catwalk.
Ketua pelaksana Chromawesome Muhammad Royyan Pranowo menuturkan, fashion show bertajuk Chroma-show ini merupakan puncak dari rangkaian kampanye Chromawesome.
“Sebelumnya mungkin perlu dipahami mengapa kami memakai chroma, yang sebenarnya merujuk kepada kata kromosom, dan down syndrome merupakan kelainan dari kromosom 21 yang berlebih,” terangnya di sela kegiatan.
Dijelaskan Royyan, kampanye ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan yang telah digelar sebelumnya. Antara lain, live Instagram dengan dua organisasi komunitas penderita down syndrome nasional, kunjungan ke House of Fatima Child Center, salah satu pusat terapi anak berkebutuhan khusus yang dikelola dr. Ariani, M.Kes., Sp.A.
“Dan kami sengaja memilih Chroma-show sebagai puncak acara karena kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa anak-anak ini dapat berbuat lebih banyak dari yang dibayangkan sebelumnya, salah satunya lewat fashion show,” beber mahasiswa Semester III Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini.
Dalam acara ini, imbuhnya, warna yang dominan digunakan adalah biru kuning yang merupakan warna dari down syndrome di seluruh dunia.
“Dan bulan Oktober adalah bulan penghargaan untuk down syndrome,” tukasnya.
Namun Royyan mengaku bahwa kesuksesan acara ini bagaimanapun juga adalah peran dari orang tua anak-anak tersebut. Kondisi mental dan fisiknya benar-benar membutuhkan bimbingan dan arahan para orang tua.
“Ada yang sudah berumur 30 tahun, tapi tingkah lakunya masih seperti anak kecil, sehingga peran orang tua sangat besar di sini,” ungkapnya.
Menurut Royyan, saat ini tercatat lebih dari 150 anak penderita down syndrome yang tersebar di Malang Raya. Ia berpendapat semakin banyak yang bergabung ke komunitas akan lebih baik.
“Karena selain dapat berinteraksi dan sharing pengalaman, akan diketahui minat dan bakat mereka yang dapat lebih difokuskan sesuai dengan kondisi mentalnya yang cenderung tidak stabil, karena terbukti banyak yang ternyata pandai mewarna, memanah, bahkan fashion show seperti saat ini,” paparnya.
Oleh karena itu Royyan sengaja memilih tema Chromawesome dalam kampanye ini.
“Mereka adalah anak-anak yang awesome,” tandasnya.
Salah satu orang tua, Ida, mengaku kegiatan seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri kepada anaknya.
“Dengan berinteraksi seperti ini, Nizam anak saya dapat lebih percaya diri serta punya kesempatan untuk lebih banyak bereksplorasi, terutama kepada minat dan bakatnya,” ujarnya.
Ida menambahkan, upaya ini jika dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil. Nizam, yang saat ini berusia 14 tahun dan duduk di bangku SMP ini telah banyak meraih banyak prestasi. Mulai foto model, fashion, bahkan lomba azan dan hafalan Al Quran.
“Saya justru menyebut anak saya dan anak-anak lainnya dengan anak berkelebihan khusus, karena mereka punya kelebihan di balik kekurangannya,” ujarnya.
Ida berpesan kepada orang tua lainnya agar tidak merasa malu dengan anak down syndrome dan percaya diri bahwa anak-anak itu punya potensi.
“Mereka berbeda, namun bukan untuk dibeda-bedakan. Sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk menempatkan anak-anak ini di masyarakat, layak dan setara dengan anak-anak lainnya,” pungkasnya. (ned)





















































