BACAMALANG.COM – Status Kepanjen sebagai ibukota Kabupaten Malang membawa dampak pada meningkatnya kebutuhan penginapan harian. Mobilitas pekerja dari luar kota yang semakin tinggi membuat penginapan short time dengan tarif terjangkau kini banyak diburu.
Tren tersebut dimanfaatkan pelaku usaha penginapan syariah yang menawarkan konsep aman, nyaman, dan selektif dalam menerima tamu. Selain harga bersaing, sistem kontrol 24 jam juga menjadi nilai tambah yang diminati para pekerja harian maupun pelancong.
Salah satu pelaku usaha yang menekuni bisnis ini adalah Fitri Astutik. Sejak 2021, ia mengelola penginapan syariah di wilayah Kepanjen dengan tarif mulai Rp100 ribu per hari. Mayoritas tamunya berasal dari luar kota yang datang untuk urusan pekerjaan maupun perjalanan singkat.
“Pelancong dan urusan kerja biasanya,” ujar Fitri Astutik kepada Bacamalang.com, Jumat (22/5/2026).
Menurut Fitri, tingkat okupansi penginapannya hampir penuh setiap hari. Meski demikian, ia tetap menerapkan sistem selektif terhadap tamu yang menginap. Konsep syariah menjadi pembeda utama dibanding penginapan lain di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan, pengawasan dilakukan melalui CCTV yang dipasang di area teras selama 24 jam. Sementara di dalam kamar tidak dipasang kamera demi menjaga privasi tamu.
Fitri menilai, usaha penginapan syariah harian di Kepanjen masih tergolong jarang. Banyak pelaku usaha lain memilih sistem yang lebih bebas agar tingkat hunian tetap tinggi, khususnya untuk kos bulanan.
Menurutnya, bisnis penginapan tidak bisa dijalankan tanpa perhitungan matang. Penentuan harga, desain tempat, hingga segmen pasar harus disesuaikan agar usaha tidak berakhir merugi.
Kepanjen sendiri dinilai berkembang pesat sejak resmi menjadi ibukota Kabupaten Malang. Pertumbuhan kawasan perkotaan dan aktivitas masyarakat membuat kebutuhan tempat menginap terus meningkat dari waktu ke waktu.
Meski permintaan cukup tinggi, Fitri mengaku usahanya belum mencapai break even point (BEP) atau balik modal. Salah satu penyebabnya adalah harga tanah di wilayah Kepanjen yang kini mencapai kisaran Rp400 juta.
Di tengah kondisi ekonomi saat ini, ia tetap bersyukur karena usaha penginapan tersebut mampu memberikan pemasukan rutin. Dalam sebulan, omzet rata-rata yang diperoleh mencapai sekitar Rp4,8 juta.
Dengan lokasi strategis, tarif terjangkau, dan segmen pasar yang jelas, usaha penginapan syariah di Kepanjen dinilai masih memiliki prospek panjang. Kehadirannya menjadi alternatif bagi pekerja harian luar kota yang membutuhkan tempat menginap aman dan nyaman dalam waktu singkat.
Pewarta : Hadi Triswanto
Editor : Rahmat Mashudi Prayoga




















































