BACAMALANG.COM – Fasilitas umum (fasum) berupa badan jalan di kawasan Jalan Kartini dan Jalan Sudiro, tepatnya di sekitar Alun-Alun Kota Batu, kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, area yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan akses umum tersebut berubah menjadi lapak pedagang kaki lima (PKL).
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan jalur pedestrian dipenuhi berbagai lapak jualan. Bahkan, beberapa di antaranya telah berdiri semi permanen menggunakan material cor, besi, hingga instalasi listrik seadanya.
Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat karena fasilitas umum dinilai tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.
Pernah Direlokasi ke BTC, PKL Disebut Kembali Lagi
Setyo, warga Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, menilai Pemerintah Kota Batu harus segera mengambil langkah tegas dengan merelokasi para PKL ke lokasi yang lebih layak.
“Setahu saya dulu sempat dipindah ke BTC, tapi ternyata para PKL kembali lagi dengan alasan sepi,” ujar Setyo, Kamis (28/5/2026).
Meski demikian, ia berharap penanganan persoalan tersebut tetap mengedepankan solusi terbaik bagi para pedagang.
“Karena ini menyangkut urusan perut, jadi Pemkot Batu harus bersikap tegas. Salah satunya dengan relokasi ke tempat lain yang lebih tepat, sehingga tidak lagi menggunakan fasilitas umum dan badan jalan untuk berjualan,” katanya.
Ia juga menyoroti adanya dugaan praktik jual beli lapak yang sebelumnya ramai diberitakan dan meminta agar persoalan tersebut diusut tuntas.
“Kalau memang ada dugaan jual beli lapak, tentu harus diusut sampai tuntas,” tambah pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek itu.
DPRD Kota Batu Desak Penataan dan Penertiban
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua II DPRD Kota Batu, Ludi Tanarto, S.P dari Fraksi PKS mendesak Pemkot Batu melalui dinas terkait agar segera melakukan penataan dan penertiban.
“Itu tugas dinas terkait. Pemkot Batu perlu melakukan penataan, salah satunya dengan relokasi ke tempat lain supaya kawasan tetap nyaman dan tidak mengganggu hak pejalan kaki maupun kendaraan yang melintas,” tegas Ludi.
Menurutnya, aktivitas PKL di kawasan tersebut berlangsung setiap hari, namun hingga kini belum terlihat langkah tegas dari pemerintah.
“Belum ada jadwal maupun ketegasan yang jelas sampai sekarang. Dampaknya, pejalan kaki harus berbagi ruang dengan lapak-lapak PKL yang jumlahnya semakin banyak,” ujarnya.
Politisi PKS itu mengingatkan, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, citra Kota Batu sebagai kota wisata dapat terdampak negatif.
“Badan jalan yang semestinya digunakan sesuai peruntukan malah berubah menjadi pasar permanen,” katanya.
Ludi menegaskan, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut estetika kota, tetapi juga fungsi ruang publik yang harus dijaga.
“Jadi memang harus ditertibkan, jangan malah dibiarkan sebelum Alun-Alun Kota Batu benar-benar kehilangan fungsinya,” pungkasnya.
Pewarta: Eko Sabdianto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































