Aroma Menyengat dari Saluran Got Resahkan Warga Tlekung, Pengelolaan Limbah Disorot - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 10 Jun 2026 17:29 WIB ·

Aroma Menyengat dari Saluran Got Resahkan Warga Tlekung, Pengelolaan Limbah Disorot


 Tim lapangan bagian peninjauan DLH Kota Batu, saat tengah Sidak ke lokasi. (Yan) Perbesar

Tim lapangan bagian peninjauan DLH Kota Batu, saat tengah Sidak ke lokasi. (Yan)

BACAMALANG.COM – Warga RT 06 RW 06, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari limbah kotoran sapi milik salah satu peternakan di kawasan tersebut. Bau yang muncul dari saluran got di depan rumah warga disebut mengganggu kenyamanan hingga memicu keluhan kesehatan.

Salah seorang warga, Kharisma, mengaku telah bertahun-tahun merasakan dampak dari aliran limbah kotoran sapi yang mengalir ke saluran drainase di depan rumahnya. Menurutnya, aroma menyengat yang diduga berasal dari gas amonia dan metana kerap menimbulkan rasa mual, pusing, serta mengganggu pernapasan keluarganya.

“Terus terang ini sudah bertahun-tahun. Baunya sangat menyengat. Kami juga merasa malu kalau ada tamu datang karena mereka ikut mencium bau tidak sedap. Apalagi ibu saya yang sedang sakit merasa sangat terganggu hingga mengalami sesak napas,” ujar Kharisma, Rabu (10/6/2026).

Perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut mengatakan, aliran limbah kerap muncul pada pagi, siang, sore hingga malam hari. Akibatnya, bau menyengat sering masuk ke dalam rumah dan membuat keluarganya tidak nyaman.

Ia mengaku kerap enggan membuka pintu maupun jendela rumah saat menerima tamu karena khawatir aroma tidak sedap masuk ke dalam ruangan.

“Kami sangat terganggu dan tidak nyaman. Bau itu sering masuk ke rumah, sehingga membuat kami malu ketika ada tamu datang. Kondisi ibu saya yang sedang sakit juga semakin terganggu karena bau tersebut,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi disebut semakin parah saat penampungan limbah penuh hingga terjadi rembesan yang mendekati area tembok rumah warga.

DLH Kota Batu Turun Tangan

Menindaklanjuti keluhan warga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi peternakan untuk melihat kondisi pengelolaan limbah.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Latif, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait dugaan pencemaran lingkungan akibat aliran limbah kotoran sapi yang mengalir ke saluran umum di kawasan permukiman.

“Apalagi rumah Bu Kharisma berada sangat dekat dengan lokasi. Mereka berharap ada penanganan agar limbah tidak lagi mencemari saluran got di depan rumah. Karena itu hari ini kami melakukan sidak ke lokasi,” kata Latif.

Dari hasil pemeriksaan sementara, peternak diketahui telah memanfaatkan kotoran sapi untuk produksi biogas melalui tabung digester guna menghasilkan gas metana yang digunakan untuk kebutuhan memasak.

Meski demikian, DLH menilai masih diperlukan pengelolaan limbah cair yang lebih baik agar tidak langsung mengalir ke saluran umum.

“Kami menyarankan agar memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Tujuannya agar air sisa pembersihan kandang dapat disaring dan dinetralkan terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Limbah tidak boleh langsung dibuang ke got karena dapat menimbulkan bau tidak sedap,” tegasnya.

Pemerintah Desa Akui Sudah Beri Peringatan

Sementara itu, Kepala Desa Tlekung, Mardi, mengaku telah beberapa kali mengingatkan pemilik peternakan agar memperbaiki sistem pengelolaan limbahnya.

“Sudah sering kali saya ingatkan, tetapi belum ada perubahan. Rencananya nanti saluran tersebut akan dicor agar tidak menimbulkan bau, namun masih menunggu anggaran dari kas lingkungan,” ujarnya.

Keluhan warga ini kembali menyoroti pentingnya pengelolaan limbah peternakan yang ramah lingkungan, terutama di kawasan permukiman padat penduduk, guna mencegah pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat.

Pewarta: Eko Sabdianto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Bansos KKS Disalurkan di Pakisaji, Camat Pastikan Bantuan Tepat Sasaran untuk Warga Kurang Mampu

10 Juni 2026 - 17:52 WIB

Tinta Pencetak e-KTP Habis Gegara Efesiensi, Anggota DPRD Kabupaten Malang Fakih Pilihan Angkat Bicara

10 Juni 2026 - 12:22 WIB

Honda Beat Mahasiswi Raib di Teras Rumah, Hilang Saat Ditinggal Makan Malam

10 Juni 2026 - 11:40 WIB

Dua Pemuda Gasak Lima Motor, Polsek Sukun Bongkar Komplotan Curanmor yang Beraksi di Rumah Kos

9 Juni 2026 - 19:13 WIB

Satreskrim Polres Batu Perkuat Sinergi dengan Media, AKP Zaenal Arifin Ajak Kolaborasi Sajikan Informasi Akurat

9 Juni 2026 - 19:06 WIB

Serahkan SK PNS, Wali Kota Wahyu Tekankan Semangat Pengabdian dan Profesionalisme ASN

9 Juni 2026 - 14:40 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !