BACAMALANG.COM – Bagi pasien gagal ginjal kronis (GGK), menjalani hemodialisis atau cuci darah bukan sekadar datang ke rumah sakit dua hingga tiga kali dalam sepekan. Di balik proses tersebut, terdapat satu syarat utama yang sering kali belum dipahami masyarakat, yakni akses vaskular sebagai “jalur kehidupan” yang memungkinkan darah keluar dan kembali ke tubuh melalui mesin dialisis.
Pentingnya akses vaskular tersebut menjadi salah satu materi utama dalam Seminar Edukasi Komunitas Hidup Ginjal Muda (HGM) bertajuk “Pentingnya AV-Shunt Pasien Hemodialisa serta Manajemen Gizi dan Cairan bagi Pasien Gagal Ginjal Kronis” yang digelar di Ruang H Kampus ABM STIE Malangkuçeçwara, Kota Malang, Minggu (28/6/2026).
Dokter spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular RS Lavalette (IHC) Malang, dr. Kresna Agung Prabowo, Sp.B., Subsp.BVE(K) PESBEVI, menjelaskan bahwa akses vaskular merupakan komponen vital dalam terapi pengganti ginjal (Renal Replacement Therapy).
“Melalui akses inilah darah pasien dapat ditarik keluar menuju mesin dialisis untuk dibersihkan, kemudian dikembalikan lagi ke tubuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat dua jenis akses vaskular yang umum digunakan. Pertama, Catheter Double Lumen (CDL) yang bersifat sementara dan dapat langsung digunakan. Kedua, AV Fistula (AV-Shunt) yang merupakan akses permanen dan harus melalui tindakan operasi dengan masa pematangan sekitar dua bulan sebelum siap dipakai.
“Fungsinya sama-sama sebagai jalur keluar masuk darah selama proses pembersihan racun dan kelebihan cairan oleh mesin dialisis,” jelas dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut.
Menurut dr. Kresna, pembuatan AV Fistula sebaiknya dilakukan sejak pasien memasuki stadium tiga atau empat, bukan menunggu hingga kondisi sudah mencapai stadium 5 atau akhir.
“Skrining awal maupun deteksi dini sangat penting. Jika fungsi ginjal mulai menurun pada stadium tiga atau empat, akses vaskular permanen sudah bisa dipersiapkan sehingga pasien tidak terlambat menjalani terapi,” terangnya.
Ia pun mengapresiasi penyelenggaraan seminar edukasi yang dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan ginjal.
“Dari kegiatan seperti ini masyarakat menjadi lebih aware dan tidak panik ketika menghadapi penurunan fungsi ginjal,” katanya.

Sesi ice breaking lewat magic show oleh Teguh, salah satu pasien hemodialisis dari RSUB (kiri), yang menunjukkan bahwa gagal ginjal bukan gagal hidup, karena masih dapat berkarya positif. (Nedi Putra AW)
Materi berikutnya adalah terkait gizi bagi pasien HD, yang disampaikan Kepala Instalasi Dialisis RS Universitas Brawijaya sekaligus Kepala Instalasi Dialisis Persada Hospital, dr. Etik Mertianti, Sp.PD., FINASIM.
Ia menekankan bahwa gizi pasien HD tidak bisa disamaratakan, dimana pengaturan pola makan bagi pasien GGK sangat berbeda dengan masyarakat umum. Bahkan sumber makanan yang selama ini dikenal sehat, seperti sayur dan buah, belum tentu aman dikonsumsi dalam jumlah tertentu.
“Pasien dialisis itu unik. Tidak semua sayur dan buah cocok karena kandungan kalium, fosfor, maupun zat lainnya harus disesuaikan dengan kondisi fungsi ginjal yang sudah menurun,” jelasnya.
Menurut dr. Etik, terdapat empat prinsip utama diet pasien gagal ginjal kronis, yakni mengontrol asupan protein, membatasi kalium, mengurangi natrium atau garam, serta mengendalikan konsumsi fosfor.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak ada pola makan yang berlaku sama bagi seluruh pasien.
“Tidak ada satu diet yang cocok untuk semua pasien hemodialisis. Penyebab gagal ginjal setiap orang berbeda, mulai dari hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung. Karena itu kebutuhan gizinya pun berbeda,” paparnya.
Ia menyarankan pasien rutin menjalani pemeriksaan laboratorium, berkonsultasi dengan ahli gizi, serta melakukan evaluasi berkala agar pengaturan makanan benar-benar sesuai kondisi masing-masing.
Dalam paparannya, dr. Etik juga mengingatkan bahwa diabetes melitus dan hipertensi masih menjadi penyebab utama gagal ginjal kronis di Indonesia.
Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) 2024, jumlah pasien yang membutuhkan hemodialisis terus meningkat setiap tahun, sementara pertambahan mesin dialisis maupun tenaga kesehatan belum mampu mengimbangi kenaikan tersebut.
“Sebagian besar pasien baru datang ketika fungsi ginjal sudah menurun lebih dari 90 persen. Padahal bila terdeteksi lebih awal, penanganannya bisa dilakukan lebih optimal,” ujar peserta didik SP2 Nefrologi Hipertensi FKUB/RSSA sejak tahun 2024 ini.
Ia menambahkan, pembiayaan penyakit ginjal kronis juga menjadi salah satu beban terbesar dalam sistem kesehatan nasional. Pada tahun 2024, biaya pelayanan penyakit ini melalui BPJS Kesehatan mencapai sekitar Rp11 triliun.
Seminar tersebut semakin menginspirasi saat menghadirkan Ivan Adiwijaya, ST, penyintas gagal ginjal kronis yang telah menjalani hemodialisis selama 24 tahun.
Divonis menderita gagal ginjal stadium lima pada usia 22 tahun, Ivan mengaku tantangan terbesar bukan terletak pada kondisi fisik, melainkan bagaimana menjaga kesehatan mental agar tetap mampu menjalani hidup secara produktif.
“Dari yang saya baca, manusia memiliki sekitar 78 organ. Ketika ginjal kita bermasalah, berarti kita kehilangan dua organ saja. Kita masih memiliki 76 organ lain yang harus tetap dijaga kesehatannya. Jangan fokus pada yang hilang, tetapi syukurilah yang masih ada,” tuturnya.
Menurut Ivan, pasien gagal ginjal tetap memiliki kesempatan menjalani kehidupan normal selama disiplin menjalani terapi, baik melalui hemodialisis, Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), maupun transplantasi ginjal apabila memungkinkan.
Pria asal Surabaya juga menyoroti pentingnya keberadaan komunitas sebagai ruang berbagi pengalaman, informasi, dan dukungan psikologis bagi para penyandang gagal ginjal kronis maupun keluarganya.
“Komunitas membuat kita bisa saling belajar dengan pasien dari rumah sakit lain, dari kota lain, bahkan dari luar negeri. Percaya atau tidak, dengan 24 tahun hemodialisis saya masih tergolong junior dibanding beberapa pasien di luar negeri,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak lupa, Ivan menyampaikan apresiasi kepada keluarga yang selama ini menjadi pendamping utama pasien gagal ginjal.
“Keluarga adalah support system terbesar. Tapi pasien juga harus punya semangat untuk membalas pengorbanan mereka,” kata pria yang akrab disapa Ko Ivan ini.
Ia mengenang bagaimana pada awal menjalani hemodialisis pada tahun 2002, biaya pengobatan masih sangat besar karena belum seluruhnya ditanggung jaminan kesehatan.
“Sekarang pasien jauh lebih beruntung karena sebagian besar biaya sudah ditanggung BPJS Kesehatan maupun asuransi. Dulu orang tua saya mengeluarkan biaya yang sangat besar selama bertahun-tahun. Itu menjadi motivasi saya untuk terus bekerja dan menjadi orang yang bermanfaat,” ungkapnya.
Menutup sesi motivasi, dia mengajak seluruh pasien untuk terus belajar memahami penyakitnya dan tidak berhenti mencari informasi melalui kegiatan edukasi.
“Tujuan kita adalah kembali menjalani hidup senormal mungkin dengan gaya hidup yang lebih sehat. Kenali diri sendiri, jangan berhenti belajar, dan teruslah mengikuti edukasi,” pungkas Ko Ivan.
Seminar ini dilanjutkan dengan pemeriksaan USG AV-Shunt gratis oleh dr. Kresna Agung Prabowo, Sp.B., Subsp.BVE(K) PESBEVI bersama tim Sehat Vaskular, yang merupakan platform edukasi dan informasi kesehatan spesialis bedah vaskular & endovaskular kepada para peserta seminar.
Selain itu dihadirkan pula sesi ice breaking lewat magic show oleh salah satu pasien hemodialisis, yang menunjukkan bahwa gagal ginjal bukan gagal hidup, karena masih dapat berkarya positif.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































