BACAMALANG.COM – Aktivitas uji coba mobil hemat energi milik mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) di kawasan Jalan Jakarta hingga Simpang Ijen, Kota Malang, belakangan menjadi perhatian masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Dosen Teknik Mesin UM sekaligus pembimbing tim mobil hemat energi, Yahya Zakaria, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari persiapan menghadapi kompetisi tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Yahya, tim mobil hemat energi UM telah mencatatkan sederet prestasi membanggakan selama beberapa tahun terakhir. Sejak 2018, tim ini konsisten meraih juara pertama pada ajang Kompetisi Mobil Hemat Energi (KMHE) tingkat nasional. Tak hanya itu, mereka juga berhasil menjadi juara pertama pada kompetisi internasional di Qatar selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2025 dan 2026.
“Prestasi yang diraih mahasiswa ini bukan sesuatu yang instan. Mereka berlatih dan melakukan berbagai pengujian secara rutin untuk menghasilkan kendaraan yang memiliki tingkat efisiensi bahan bakar sangat tinggi,” ujar Yahya.
Ia menjelaskan, konsep utama mobil hemat energi adalah menciptakan kendaraan yang mampu menempuh jarak sejauh mungkin dengan konsumsi bahan bakar seminimal mungkin. Dalam perlombaan, peserta tidak diminta mengendarai kendaraan hingga ribuan kilometer, melainkan diuji melalui lintasan tertentu dengan jumlah bahan bakar yang telah ditetapkan. Efisiensi kemudian dihitung berdasarkan konsumsi bahan bakar selama menyelesaikan lintasan tersebut.
Salah satu pencapaian terbaik tim UM tercatat saat mengikuti kompetisi di Qatar. Kendaraan hasil pengembangan mahasiswa mampu mencatat efisiensi setara 1.109 kilometer per liter bahan bakar.
“Angka tersebut merupakan hasil konversi dari pengujian yang dilakukan panitia. Jadi bukan berarti kendaraan benar-benar dijalankan sejauh 1.109 kilometer, melainkan dihitung berdasarkan konsumsi bahan bakarnya selama menyelesaikan lintasan yang telah ditentukan,” jelasnya.
Terkait penggunaan jalan umum sebagai lokasi latihan, Yahya mengatakan tim membutuhkan lintasan yang relatif datar dan minim hambatan agar hasil pengujian lebih akurat. Kondisi seperti itu dinilai sulit ditemukan di area kampus karena banyaknya polisi tidur maupun hambatan lain yang dapat memengaruhi performa kendaraan.
“Karena itulah kami menggunakan ruas jalan seperti Jalan Jakarta. Kami membutuhkan jalan yang datar dan minim hambatan agar data pengujian kendaraan lebih valid,” katanya.
Ia juga membantah anggapan bahwa aktivitas tersebut menyerupai balap liar atau mengganggu pengguna jalan. Menurutnya, seluruh kegiatan dilakukan untuk kepentingan riset dan persiapan kompetisi dengan tetap mengutamakan keselamatan serta ketertiban umum.
Latihan dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan dengan menyesuaikan jadwal kuliah para mahasiswa. Waktu pelaksanaannya umumnya pada malam hari, seperti malam Jumat atau malam Sabtu.
Saat ini, tim mobil hemat energi UM tengah mempersiapkan diri menghadapi KMHE tingkat nasional yang akan digelar di Jember pada September mendatang. Selain itu, mereka juga menerima undangan untuk mengikuti Global Championship di Qatar pada Januari tahun depan.
“Anggota tim dari UM berjumlah sekitar 30 mahasiswa. Kami terus melakukan persiapan agar dapat mempertahankan prestasi sekaligus membawa nama baik Universitas Negeri Malang dan Indonesia di kancah internasional,” pungkas Yahya.
Sementara itu, Ketua RW 04 Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Agustinus Tedja Bawana, menyatakan pihaknya tetap mendukung kegiatan riset dan uji coba mobil hemat energi yang dilakukan mahasiswa UM di kawasan Jalan Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul surat keluhan dari salah seorang warga terkait aktivitas pengujian kendaraan yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Agustinus menjelaskan, pengurus RW bersama perangkat lingkungan telah melakukan penelaahan dan verifikasi lapangan. Hasilnya, kegiatan mahasiswa dinilai masih berjalan sesuai koridor yang telah disepakati bersama warga dan perangkat lingkungan setempat.
“Kegiatan yang dilakukan mahasiswa ini merupakan bagian dari riset akademik dan pengembangan teknologi. Selama ini mereka juga telah berkoordinasi dengan perangkat lingkungan sebelum melakukan uji coba,” ujarnya.
Menurutnya, kendaraan yang digunakan merupakan mobil hemat energi berbasis listrik untuk kepentingan penelitian dan kompetisi. Karena menggunakan teknologi listrik, kendaraan tersebut tidak menghasilkan suara mesin maupun emisi seperti kendaraan konvensional.
Agustinus menambahkan, lokasi pengujian di Jalan Jakarta telah digunakan sebagai bagian dari kegiatan penelitian selama kurang lebih dua tahun. Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari RT, RW, serta sejumlah perwakilan warga melalui forum komunikasi lingkungan.
Pemilihan waktu uji coba pada malam hingga dini hari dilakukan untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap aktivitas warga maupun arus lalu lintas yang lebih padat pada siang hari.
Ia menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan balap liar ataupun kegiatan yang melanggar ketertiban umum, melainkan bagian dari proses penelitian untuk menghasilkan inovasi di bidang teknologi transportasi hemat energi.
“Kami berharap seluruh pihak dapat melihat kegiatan ini sebagai bagian dari upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang membawa nama baik daerah maupun perguruan tinggi,” katanya.
Pihak RW juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga suasana lingkungan yang kondusif serta mengedepankan komunikasi apabila terdapat hal-hal yang perlu diklarifikasi.
“Kami ingin lingkungan tetap harmonis. Jika ada perbedaan pendapat, sebaiknya diselesaikan melalui dialog dan musyawarah sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” pungkas Agustinus.





















































