BACAMALANG.COM – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Jawa Timur terus mendorong pengungkapan aktor intelektual di balik kasus teror air keras melalui kegiatan reuni, doa bersama, serta Diskusi Online Nasional.
Mengusung tema “Dari UU TNI ke Teror Air Keras: Menguak Dalang dan Jaringan Kekuasaan di Balik Serangan terhadap Andri Yunus,” kegiatan ini diikuti sekitar 253 peserta dari berbagai daerah di Indonesia melalui platform Zoom Meeting. Diskusi berlangsung mulai pukul 19.45 WIB hingga 22.15 WIB.
Perwakilan panitia, Vernando (Mando), menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi nasional mahasiswa. Menurutnya, di tengah suasana hari raya, mahasiswa tetap menghadirkan ruang diskusi untuk bertukar gagasan bersama tokoh nasional dan aktivis ’98.
Koordinator BEM Nusantara Jawa Timur, Deni Oktaviano Pratama, mengapresiasi kehadiran para narasumber yang telah berbagi pemikiran kritis dan motivasi. Ia menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap berpijak pada kepentingan rakyat tanpa muatan pragmatis.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Sekretaris Jenderal Federasi KontraS, Andy Irfan, menekankan pentingnya mengungkap aktor intelektual di balik kasus tersebut, tidak hanya berhenti pada pelaku di lapangan. Ia menegaskan bahwa proses hukum harus dilakukan secara menyeluruh oleh aparat berwenang.
Pengamat sosial-politik Ubedillah Badrun menyoroti perlunya dua langkah strategis, yakni proses melalui peradilan sipil serta pembentukan tim pencari fakta gabungan untuk mengungkap kebenaran secara utuh.
Dari perspektif hukum dan kemanusiaan, Prof. Dr. Hj. Hesti Armiwulan, S.H., M.Hum menyatakan bahwa kasus ini merupakan tragedi kemanusiaan yang dalam KUHP Baru dapat dikategorikan sebagai penganiayaan berat.
Sementara itu, perwakilan Amnesty Internasional, Usman Hamid, menegaskan bahwa akuntabilitas tidak cukup hanya melalui pernyataan formal. Ia menilai, pengungkapan kebenaran harus dilakukan secara transparan melalui proses hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur LBH Surabaya, Habibus Solihin, juga menyoroti pentingnya konsistensi penegakan hukum guna menjaga kepercayaan publik, terutama dalam menangani kasus-kasus yang menjadi perhatian luas masyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Salah satu peserta menyinggung ruang aksi demonstrasi, yang ditanggapi para narasumber sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran demokrasi mahasiswa.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan pernyataan moderator yang menegaskan harapan besar terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Ia berharap diskusi ini menjadi bekal untuk memperkuat gerakan yang lebih terarah, sehingga suara mahasiswa dapat didengar dan tidak diabaikan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































