Di Halaman Selatan Gunung Tengger

Yono Ndoyit, penulis prapatan, penikmat seni budaya dan ruang sosial. (ist)

Oleh: Yono Ndoyit*

“Inspirasinya muncul dari pelaku seni tradisional jaranan. Mereka orang-orang militan yang konsisten bergerak dari halaman-halaman kampung untuk mengekspresikan bentuk keseniannya sebagai representasi dari laku budaya,” ucap Redy Eko Prastyo, menjawab pertanyaan salah seorang pengunjung, mengapa Duo Etnicholic (DE) menggelar pentas kelilingnya di tempat seperti itu.

Redy kemudian menyambungnya dengan sedikit mengisahkan kedekatan hubungannya dengan Sang Troubadour, musisi pengelana yang amat menikmati karier musiknya di jalanan, Leo Kristi.

Dwi Cahyono menyebutnya sebagai seorang Ambara. Berbeda dengan konser sebelumnya, Tour Konser Nandur Kamulyan Kelima yang bertempat di Omah Mantri Jabung, (19/07/2022), kali ini ditambahkan sesi diskusi pasca pentas sebagai penutup acara.

Iroel dari Komunitas Gubuk Baca Jabung menjadi moderator sedang Dwi Cahyono, salah seorang sejarawan dan arkeolog Malang yang dikenal “unik” menjadi pembicara dadakan.

Rupanya Redy tahu, sebenarnya penulis enggan datang kalau tak ada “sesuatu atau narasi baru yang ditawarkan” dalam rangkaian tour pertunjukannya. Apalagi lokasi konsernya cukup jauh dan sama sekali tak ada bekal “amunisi” untuk sedikit menghangatkan tubuh di tempat yang cukup dingin, di Kecamatan Jabung, yang oleh Dwi Cahyono disebut sebagai halaman selatan Gunung Tengger.

Dan upaya Redy dengan menginformasikan kehadiran Dwi Cahyono nyatanya cukup manjur, dia berhasil menggelitik penulis untuk datang dalam pertunjukannya.

Dalam sebuah seminar nasional di Borobudur Writers and Cultural Festival 2016, agenda tahunan yang kala itu bertema “Setelah 200 Tahun Serat Centhini: Erotisme dan Religiusitas, Musyawarah Akbar Kitab-kitab Nusantara,” penulis sempat menyaksikan keunikan dari penampilan Dwi Cahyono yang saat itu menjadi salah satu pembicara, bersanding dengan para sejarawan nasional kondang lainnya.

Dia satu-satunya pembicara yang dalam paparannya, turun dari mimbar, mendekati para peserta seminar.

Mantan anggota Teater Melarat yang saat itu memaparkan hasil penelitiannya tentang arca-arca Bima berpenis raksasa di Blitar dengan gaya santai.

Di kesempatan itu, penulis sempat mendokumentasikan dalam bentuk video sekitar tiga puluh detik yang membuat seluruh hadirin tertawa, “…kalau memakai penis belt berbunyi klinting-klinting. Hal yang bagi ibu-ibu menjadi penting karena bisa memonitor gerak suami…”

Karena geliatnya yang tidak biasa pada budaya, terutama kesejarahan, beberapa kawan di Malang menyebut Dwi Cahyono sebagai “aset” kota Malang.

Dengan ringannya, dia bersedia datang menerima undangan untuk berbagi pengetahuan sejarah di manapun dan pada siapapun.

Siapa penggiat kesejarahan di Malang yang tak mengenalnya? Sayang, beberapa hari sebelumnya, penulis mendengar kabar yang belum terkonfirmasi kalau Dwi Cahyono sudah pensiun – atau dipensiunkan – dari kegiatan mengajarnya di salah satu perguruan tinggi di Malang.

Dengan formasi yang sama ketika tampil di kedai milik Arif Ipong , Koopen Ijen – Anggar Gusti pada vokal, Redy pada dawai cempluk, David Andrea pada bass gitar, Oceb’Rock Percussion pada drum dan Wahyu pada gitar – malam itu Duo Etnicholic berkonser di halaman Omah Mantri, rumah dengan bangunan bertingkat yang oleh Mas Dwi dikatakan berarsitektur jengki.

Salam baik dan sehat selalu,
Yono Ndoyit, 21 Juli 2022.

*Yono Ndoyit, adalah : Penulis prapatan, penikmat seni budaya dan ruang sosial.