Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng: Menjaga Relevansi Tradisi - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EVENT & ACARA · 25 Jul 2026 11:13 WIB ·

Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng: Menjaga Relevansi Tradisi


 Para anggota kirab berdiri menunggu acara di depan tumpeng-tumpeng mereka. (Wawan Eko Yulianto)
Perbesar

Para anggota kirab berdiri menunggu acara di depan tumpeng-tumpeng mereka. (Wawan Eko Yulianto)

Oleh: Wawan Eko Yulianto *)

BACAMALANG.COM-Mempertahankan tradisi sambil terus merespons perkembangan zaman menjadi daya tarik utama Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng di Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Perpaduan nilai-nilai budaya dengan pendekatan modern membuat tradisi bersih desa ini tidak hanya tetap lestari, tetapi juga semakin relevan sebagai bagian dari pengembangan desa wisata.

Tradisi bersih desa yang digelar setiap dua tahun sekali ini memiliki nama khusus, yakni Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng. Nama tersebut bukan sekadar penanda acara, tetapi telah menjadi identitas budaya desa yang memiliki makna tersendiri.

Tahun 2026, Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng digelar belum lama ini, tepatnya pada Sabtu, 27 Juni. Jauh sebelum hari pelaksanaan, atmosfer perayaan sudah mulai terasa. Sejumlah RT di lingkungan tersebut tampak sibuk membuat tandu untuk mengangkut tumpeng-tumpeng raksasa yang akan diarak menuju lokasi utama acara. Penulis sendiri berkesempatan menghadiri kegiatan ini atas undangan Desa Sanankerto, mengingat Universitas Ma Chung pernah menjalin kerja sama dengan desa tersebut.

Atmosfer Ritual yang Sarat Makna

Pagi itu, rangkaian Grebeg Sesucen diawali dengan prosesi adat di Balai Desa Sanankerto. Suasana kental dengan nuansa tradisional. Kepala Desa H. Subur, S.E., beserta perangkat desa berjalan beriringan menuju pendopo balai desa yang dilanjutkan dengan prosesi penyerahan keris kepada Nova Ahmad.

“Prosesi ini merupakan simbol penyerahan mandat untuk melaksanakan rangkaian bersih desa,” ujar Sekretaris Desa Sanankerto, Khafid.

Rombongan Kirab Meninggalkan Balai Desa Sanankerto dengan Kendaraan Sound System dan MC. (Wawan Eko Yulianto)

Usai seremoni, rombongan memulai kirab membawa 1001 tumpeng menuju kawasan wisata Boonpring Andeman yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari balai desa. Sepanjang perjalanan, iring-iringan beberapa kali berhenti di sejumlah titik. Warga berjejer di sisi jalan menyambut rombongan, sementara banyak rumah mendadak berubah menjadi lapak kecil yang menjual makanan dan minuman bagi para pengunjung.

Suasana kirab semakin hidup berkat iringan gamelan dan narasi berbahasa Jawa yang dibawakan dua pembawa acara, Bayu Jati Prasetyo dan Ajeng. Mereka menjelaskan makna berbagai jenis tumpeng, seperti Tumpeng Margono, Tumpeng Seger, hingga filosofi masing-masing bentuk sajian.

Narasi tersebut menjadi pengalaman edukatif, terutama bagi mahasiswa yang berasal dari luar Jawa. Penulis menilai, ke depan, akan lebih menarik apabila tersedia narasi pendamping dalam bahasa Indonesia sehingga nilai edukasi budaya dapat dinikmati lebih luas.

Dari Punden hingga Panggung Utama

Sesampainya di Boonpring, Kepala Desa bersama perangkat desa terlebih dahulu menuju punden atau pesarean Mbah Singorejo, tokoh yang diyakini sebagai pembabat alas Desa Sanankerto. Di lokasi tersebut mereka memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Sementara itu, para tamu undangan, peserta kirab, serta pembawa tumpeng diarahkan menuju lapangan utama di tepi embung Boonpring. Di sinilah seluruh tumpeng dari 23 RT mulai ditata.

Sebanyak 23 tumpeng utama berdiri megah di atas tandu dengan bentuk yang beragam. Di sekelilingnya berjajar ratusan tumpeng kecil hingga jumlah keseluruhannya mencapai 1001 tumpeng, sesuai nama acara.

Setelah seluruh prosesi doa selesai, rombongan perangkat desa bergabung di panggung utama. Semua tumpeng telah berada di posisi masing-masing, menciptakan pemandangan yang megah sekaligus sarat makna.

Budaya Berpadu dengan Wisata

Menjelang pukul 10.00 WIB, panggung utama telah dipenuhi jajaran tamu kehormatan, mulai dari Kapolsek, Danramil, anggota DPRD Kabupaten Malang, hingga berbagai tokoh masyarakat. Di bawah tenda hadir para ketua RT, organisasi desa, tamu dari perguruan tinggi, serta mahasiswa Universitas Ma Chung dan Universitas Kepanjen yang turut membawa tumpeng.

Di sisi lapangan, para peserta kirab tetap mendampingi tandu-tandu tumpeng yang mereka usung. Area tengah sengaja dikosongkan sebagai ruang pertunjukan seni.

Matahari bersinar terik, namun semilir angin dari rimbunnya hutan bambu Boonpring membuat suasana tetap nyaman. Kawasan wisata ini memang dikenal memiliki lebih dari 100 spesies bambu yang menjadi daya tarik utama.

Di sela-sela rangkaian acara budaya, aktivitas wisata di Boonpring tetap berlangsung normal. Gemericik air, suara anak-anak bermain di kolam renang, hingga pengunjung yang kemudian ikut menyaksikan pertunjukan menciptakan perpaduan unik antara ritual budaya dan aktivitas rekreasi.

Anak-anak sekolah dari Sanankerto menampilkan Tari Turtyantapadha (Ayuning Budhi Prawesti)

Acara dibuka dengan Tari Turtyantapadha yang dibawakan siswa-siswi dari sejumlah sekolah dan madrasah di Desa Sanankerto. Penonton juga disuguhi permainan alat musik bambu oleh seniman asal Tumpang, Joko Tebon, termasuk didgeridoo, alat musik tiup khas suku Aborigin Australia, yang mampu menghasilkan berbagai suara alam.

Kondisi ini menjadikan Grebeg Sesucen bukan hanya peristiwa budaya yang sakral, tetapi juga atraksi wisata yang hidup. Dari perspektif pariwisata berkelanjutan, pendekatan semacam ini justru memperkuat aspek socio-cultural sustainability, yakni ketika kegiatan wisata mampu menjaga dan memperkuat budaya lokal, bukan menggesernya.

Hal tersebut sejalan dengan capaian Desa Sanankerto yang telah memperoleh sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata pada 2024.

Tradisi yang Terus Berkembang

Tradisi bersih desa merupakan bagian dari budaya masyarakat Kabupaten Malang yang lazim digelar pada bulan Suro atau Muharram. Namun, Sanankerto memberi identitas tersendiri melalui nama Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng.

Keunikan tersebut semakin diperkuat ketika dokumentasi video kegiatan ini didaftarkan sebagai Hak Cipta di Kementerian Hukum dan HAM. Dengan demikian, Grebeg Sesucen tidak hanya hidup sebagai tradisi masyarakat, tetapi juga tercatat secara administratif sebagai karya budaya yang memiliki identitas hukum.

Kepala desa H. Subur,S.E. bersama para tamu kehormatan. (Wawan Eko Yulianto)

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Sanankerto memperkuat posisinya sebagai desa wisata yang siap bersaing di tingkat internasional, termasuk dalam ajang World Tourism Village Award yang diselenggarakan United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Terlepas dari apakah penghargaan menjadi tujuan utama, standar tersebut telah menjadi motivasi bagi desa untuk terus meningkatkan kualitas tata kelola wisata dan pelestarian budayanya.

Menariknya lagi, Desa Sanankerto juga cukup dikenal dalam dunia akademik. Jika menelusuri Google Scholar maupun Portal Garuda, nama desa ini termasuk yang paling kerap muncul dalam berbagai penelitian mengenai desa wisata, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemberdayaan masyarakat, hingga pariwisata berkelanjutan.

Hal itu menunjukkan bahwa Sanankerto bukan hanya menarik sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang terus menjadi perhatian para peneliti.

Tradisi yang tetap hidup, wisata yang terus berkembang, serta dukungan akademik yang kuat menjadi modal penting agar Grebeg Sesucen 1001 Tumpeng tetap relevan di tengah perubahan zaman. Tradisi tidak sekadar dipertahankan, tetapi terus diberi makna baru tanpa kehilangan akar budayanya.

Apakah sidang pembaca punya saran desa mana lagi yang bisa dikunjungi dan digali tradisi bersih desanya? Kapan kita ke mana?

*) Blogeer dan Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Bolen Apel Fairuziba, Oleh-oleh Khas Malang Binaan Pertamina yang Ikut Berdayakan Petani Pisang dan Apel Lokal

24 Juli 2026 - 21:44 WIB

Eksekusi Lahan di Pakisaji Berjalan, PN Kepanjen: Putusan Sudah Berkekuatan Hukum Tetap

24 Juli 2026 - 18:49 WIB

HUT Demokrat ke-25, DPC Kota Malang Gelar Donor Darah dan Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI

24 Juli 2026 - 18:12 WIB

GRIB JAYA dan CV Langbuana Jemput Bola Sosialisasikan PSN Bongkar Raton 2026, Petani Tebu Malang Diajak Dukung Swasembada Gula

24 Juli 2026 - 16:03 WIB

Tumpukan Palet Kayu di Lawang Ludes Terbakar, Kerugian Rp 30 Juta

24 Juli 2026 - 13:45 WIB

Resmi! Mulai 1 Agustus, Kendaraan Roda Empat Dilarang Melintas di Puncak Bendungan Lahor

24 Juli 2026 - 07:18 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !