BACAMALANG.COM – Bisnis penjualan aki di wilayah Kepanjen, Kabupaten Malang, tengah menghadapi persaingan yang semakin ketat. Munculnya sejumlah toko baru serta maraknya penjualan melalui platform daring membuat pelaku usaha yang lebih dulu beroperasi harus berjuang mempertahankan pasar.
Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Bhoesrozie, pemilik toko aki yang berada di kawasan selatan Stasiun Kereta Api Kepanjen. Ia mengaku omzet penjualannya merosot hingga 60 persen dibandingkan sebelumnya.
“Penjualan turun sekitar 60 persen. Sekarang di Kepanjen ada empat toko aki baru, sementara toko lama ada tiga. Belum lagi penjualan melalui online juga semakin banyak,” ujar Bhoesrozie kepada Bacamalang.com, Senin (6/7/2026).
Meski demikian, Bhoesrozie yang juga personel Nababa Band menilai prospek bisnis aki masih sangat menjanjikan. Tingginya kebutuhan masyarakat mendorongnya membuka cabang baru di Sumbermanjing Wetan untuk memperluas jangkauan layanan.
“Permintaan sebenarnya tinggi. Peluangnya masih besar, karena kebutuhan aki selalu ada. Itu yang membuat saya berani melakukan ekspansi,” katanya.
Mantan pegawai Kecamatan Kromengan itu memulai usaha sejak Februari 2018. Pada awal merintis, ia mengandalkan promosi dari mulut ke mulut melalui jaringan pertemanan. Kini, ia melengkapi usahanya dengan layanan antar sekaligus pemasangan aki langsung di lokasi pelanggan oleh teknisi berpengalaman.
Menurutnya, layanan tersebut menjadi nilai tambah karena memberikan kemudahan bagi konsumen yang tidak perlu datang ke toko.
Bhoesrozie menyebut merek aki Incoe dan GS masih menjadi pilihan utama pelanggan. Dengan usia pakai rata-rata sekitar dua tahun, harga aki saat ini mengalami kenaikan sekitar lima persen dibandingkan sebelumnya.
“Pembelian dalam jumlah besar jarang. Mayoritas pembeli datang untuk kebutuhan motor maupun mobil. Permintaannya bergantian, tetapi setiap hari tetap ada,” jelasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut membuat permintaan aki relatif stabil dan berpotensi terus tumbuh seiring bertambahnya populasi kendaraan.
Namun, peluang tersebut juga dibarengi berbagai tantangan. Selain persaingan usaha yang semakin ketat, pelaku usaha harus menghadapi kenaikan harga bahan baku, minimnya edukasi masyarakat mengenai perawatan aki, hingga gempuran produk impor dengan harga lebih murah.
Untuk mempertahankan usahanya, Bhoesrozie memilih fokus meningkatkan kualitas layanan serta menjaga loyalitas pelanggan lama.
Ia berharap pemerintah dan pelaku industri dapat memberikan dukungan melalui edukasi mengenai pentingnya perawatan aki secara berkala, sekaligus mendorong pengembangan teknologi aki buatan dalam negeri agar mampu bersaing dari sisi kualitas dan daya tahan.
“Kalau masyarakat semakin paham cara merawat aki dan produk lokal kualitasnya semakin baik, saya yakin bisnis ini bisa berkembang dalam jangka panjang,” ujarnya.
Selain itu, ia berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat.
“Harapannya perekonomian membaik, daya beli masyarakat naik lagi. Kalau kondisi ekonomi bagus, kebutuhan mengganti aki juga akan kembali normal,” pungkasnya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































