Gunung Katu, Menara Rajasa Batara Amurwabhumi

Pietra Widiadi, Sosiolog dan Founder Yayasan DIAL (dial.or.id) yang mengembangkan brand Pendopo Kembangkopi, tinggal di Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang. (ist)

Oleh: Pietra Widiadi*

Ken Angrok, Sang Pembaharu, dalam kesejarahannya adalah legenda yang agung, bagi Malang.

Catatan para sejarahwan yang melakukan kajian tentang Ken Angrok, yang umumnya merujuk pada Kitab Pararaton dan Negarakertagama, seperti halnya seorang Dwi Cahyono.

Meski secara harafiah bisa diartikan sebagai “menyerang dengan mati-matian” atau saya lebih mengartikan sebagai “menyerang dengan penuh semangat, atau penyerbuan yang menggelora, atau pantang menyerah”.

Catatan-catatan tersebut kemudian difokuskan pada sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1222, sebuah perjalanan sejarah yang mungkin banyak tidak disimak, yaitu pertempuran antara Ken Angrok yang menantang Raja yang berkuasa di Kerajaan Panjalu, dengan ibukota di Daha (baca Kediri), yang dikenal dengan sebutan Dandang Gendis, atau Kertarajasa di sebuah tempat di Ngantang, yang disebut dengan Ganter (Dwi Cahyono, 2020).

Sebuah penaklukan yang dianggap luar biasa, yang dalam versi tertentu dilakukan oleh brandal, yang terkenal ahli strategi perang dan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling dan dikenal sangat berani, disegani dan egaliter.

Profil ini, mungkin tidak pernah disadari menjadi sebuah stereotipe dari kelompok masyarakat yang kemudian dianggap sebagai sebuah warna sub-budaya Jawa (baca Jawa Timuran) yang disebut dengan budaya Arek.

Akhir tahun lalu, komunitas jaringan Jawi Kawi, melakukan Caru, upacara menyelaraskan dengan semesta, melakukannya pada jejak leluhur Malang (baca Tumapel).

Tahun 2022, dianggap sebagai penanda bahwa tahun ke-800 di mana Sang Angrok, menobatkan diri sebagai Rajasa Batara Amurwabhumi di Tumapel.

Kegiatan 800 tahun Tumapel Jayanti ini, tidak hanya dilakukan oleh Komunitas Jawi Kawi, tetapi juga komunitas Bawarasa, komunitas Jawi di Mesem, Tumpang.

Upacara Caru atau Mecaru adalah upacara untuk yang mengingatkan pada kita untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam semesta.

Hal ini juga merupakan manifestasi berbakti pada leluhur dengan upaya mengembalikan keselarasan pada kemampuan diri supaya tetap melakukan laku harmoni dengan semesta.

Upacara ini, pada hakekatnya merupakan upaya merawat 5 unsur alam, yakni tanah, air, udara, api dan ether.

Upacara Caru ini dilaksanakan dan merupakan upacara Agung. Pada 800 tahun Tumapel Jayanti, atau juga disebut dengan Singasari Jayanti, dilakukan upacara di Gunung Katu, yang terletak di dusun Sumberpang, Desa Sumbersuko, Kecamatan, Wagir – Kabupaten Malang.

Gunung kecil ini, juga disebut dengan Rabut ini, disematkan dalam paparan Pararaton di mana sang Rajasa Batara Amurwabhumi Rajasa Batara Amurwabhumi didharmakan.

Upacara ini, bagi komunitas Jawi Kawi merupakan bentuk bhakti pada leluhur, dalam upacara agung dengan persembahan yang berupa penyucian Bhuta Kala dan segala kotoran yang ada supaya segala keburukan tidak dialami lagi pada masa mendatang.

Persembahan ini berupa nasi lima warna, lauk-pauk 5 ayam, brumbuhan dan disertai tuak.

Upacara ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual kepada setiap insan agar selalu menjaga dan merawat alam dan lingkungan keseharian di mana mereka hidup.

Dengan upacara Caru di Gunung Katu, komunitas Jawi Kawi mengejawantahkan bhakti pada leluhur dengan melakukan upaya keselarasan keharmonian alam dan manusia.

Bahwa dalam laku keseharian, komunitas Jawi Kawi, yang berbasis di Pendopo Kembangkopi, di Lereng Gunung Kawi sini Timur puncak Pitra, berupaya melakukan, atau laku taat pada kehendak semesta dengan melakukan pelestarian lingkungan sumber daya alam.

Salah satunya upaya mendorong kegiatan menghijaukan Kawasan Gunung Kawi, Gunung Katu untuk tetap mampu menyediakan air bersih bagi warga masyarakat di Kawasan Malang Raya.

Dalam langkah ke depan, upacara yang dilakukan adalah laku hidup sehari-hari dengan menyelaraskan diri dengan kesemestaan, terutama dalam Kawasan Gunung Kawi.

*) Penulis: Pietra Widiadi, Sosiolog dan Founder Yayasan DIAL (dial.or.id) yang mengembangkan brand Pendopo Kembangkopi, tinggal di Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian dari BacaMalang.com