BACAMALANG.COM – Aksi demonstrasi di Jakarta berakhir tragis setelah seorang pengemudi ojek online (ojol) tewas dilindas kendaraan taktis milik Brimob. Korban diketahui bernama Affan Kurniawan, warga Menteng, Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai tulang punggung keluarganya.
Tokoh masyarakat Dampit, Miskari, menyampaikan tanggapannya terkait insiden tersebut. Ia menilai demonstrasi merupakan bentuk kontrol masyarakat terhadap jalannya pemerintahan.
Demonstrasi hadir sebagai respon atas praktik penyelenggaraan negara yang dianggap melenceng dari nilai-nilai bangsa dan jauh dari Pancasila, ujarnya.
Miskari juga menyoroti kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja. Ia menyebutkan masalah ekonomi yang memburuk, ketimpangan sosial akibat penumpukan kapital di kelompok elit, serta maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ditambah lagi, defisit anggaran besar memaksa pemerintah melakukan efisiensi dan menaikkan pajak.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah harus mawas diri dan tidak provokatif dalam komentar. Aparat juga harus berhati-hati agar tidak represif, karena hal itu bisa memicu gelombang besar yang lebih besar lagi, tambahnya.
Ia mengingatkan bahwa situasi saat ini sangat berbahaya dan alarm bangsa sedang berbunyi, terlebih dengan isu disintegrasi yang menguat akibat ketidakpuasan banyak daerah.
Pietra Widiadi, seorang praktisi pembangunan sosial dan pendiri Yayasan Dial di Pendopo Kembangkopi, Dusun Ngemplak, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, turut menyampaikan pandangannya. Alumni Sosiologi Universitas Airlangga ini menyebut bahwa rakyat kini menjadi martir demi perubahan.
“Ojol tewas dilindas rantis brimob dalam demo, jadi Martir demi perubahan,” tandasnya.
Menurutnya, rezim saat ini kehilangan martabat karena ucapan dan tindakan tidak selaras. Negara seharusnya hadir untuk melindungi, mengayomi, dan menguatkan rakyat, bukan justru membagi-bagi uang rakyat kepada lingkaran kekuasaan sendiri. “Sementara itu, hak-hak rakyat diabaikan, pengangguran meningkat, dan pajak semakin mencekik. Dalam kondisi seperti ini, rakyat terpaksa melindungi dirinya sendiri,” tegasnya.
Affan Kurniawan, korban dalam insiden tersebut, tinggal bersama tujuh anggota keluarganya di sebuah kontrakan berukuran tiga kali sebelas meter di Jalan Tayu, Menteng. Ia sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojol untuk membantu ekonomi keluarga, dan sebelumnya sempat bekerja sebagai satpam di kawasan Menteng. Sosok Affan dikenal rajin dan bertanggung jawab, kerap keluar rumah sejak pukul lima tiga puluh pagi untuk bekerja, lalu kembali beraktivitas di sore hari setelah beristirahat sejenak di siang hari.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































