BACAMALANG.COM – Momen pilkada Kabupaten Malang menjadi saat yang dinantikan jutaan warga Kabupaten Malang. Betapa tidak, nasib 5 tahun ke depan masyarakat bumi Ken Arok ini, ditentukan dalam pesta demokrasi yang menelan cost politik besar tersebut.
Beragam pandangan dan telaah dari berbagai pihak, selayaknya menjadi aspirasi positif untuk perbaikan wajah politik di kawasan terluas kedua se-Indonesia setelah Banyuwangi ini.
“Minimnya calon alternatif non-petahana menunjukkan bahwa rapot petahana sudah cukup baik adalah argumen yang bisa dipahami,” tandas Ketua DPK Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Fakultas Tarbiyah Universitas Al Qolam Malang, Moch Imam Royani, kepada BacaMalang.
Dikatakannya, jika seorang petahana dianggap berhasil dalam menjalankan tugasnya, hal ini mungkin mengurangi minat atau keberanian calon lain untuk mencalonkan diri karena mereka melihat bahwa tantangannya cukup besar untuk mengungguli petahana yang populer dan berprestasi.
Namun, ada beberapa faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan, semisal kendala struktural dan politik.
Dalam beberapa kasus, minimnya calon alternatif bisa disebabkan oleh kendala struktural, seperti sistem politik yang menguntungkan petahana, atau partai politik yang kuat yang mendukung petahana secara dominan.
Meskipun petahana memiliki catatan kinerja yang baik, tidak berarti tidak ada ruang untuk perbaikan.
Minimnya calon alternatif bisa menunjukkan kepuasan publik yang tinggi terhadap petahana, tetapi juga bisa mencerminkan kurangnya keberanian atau motivasi dari pihak lain untuk menawarkan visi yang berbeda.
Jadi, meskipun rapot petahana yang baik bisa menjadi salah satu alasan minimnya calon alternatif, situasi ini seringkali lebih kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Ia menyebutkan bagaimana menilai rapot kinerja itu dinilai baik. Menilai rapor kinerja seorang petahana atau pemimpin dapat dilakukan melalui berbagai ukuran, yang seringkali mencakup kombinasi indikator kuantitatif dan kualitatif.
Dan masih belum bisa dikatakan baik karena ada beberapa ukuran yang umum untuk digunakan penilaian tersebut yaitu dengan indikator ekonomi, sosial, lingkungan dan lain-lain.
Ukuran-ukuran ini perlu dilihat secara holistik karena keberhasilan dalam satu bidang tidak selalu mencerminkan keberhasilan secara keseluruhan.
Evaluasi yang komprehensif biasanya melibatkan analisis data kuantitatif dan kualitatif, serta pertimbangan konteks lokal dan temporal.
**Alasan Pilihan Parpol, Penghematan, Koalisi dan Kekuasaan**
Partai politik yang bersikap pragmatis dan oportunis, terutama yang cenderung pasif dan memilih untuk mendukung calon yang sudah mendapatkan rekomendasi atau dianggap memiliki peluang menang besar, bisa memiliki berbagai alasan dan pertimbangan di balik sikap tersebut.
Beberapa di antaranya meliputi, minim risiko mendukung calon yang sudah kuat atau populer dapat mengurangi risiko kekalahan bagi partai tersebut.
Dengan menempel pada calon yang berpeluang besar menang, partai berharap dapat mengamankan posisi dan kekuasaan tanpa harus mengeluarkan banyak sumber daya.
Proses pencalonan dan kampanye membutuhkan sumber daya yang besar. Dengan bergabung mendukung calon yang sudah mendapat rekomendasi, partai dapat menghemat waktu, uang, dan tenaga yang mungkin lebih baik digunakan untuk keperluan lain.
Mendukung calon yang kuat memungkinkan partai tersebut mendapatkan posisi strategis dalam pemerintahan jika calon tersebut menang.
Ini bisa berarti akses terhadap jabatan atau pengaruh dalam pengambilan keputusan.
Proses seleksi calon bisa menimbulkan konflik internal dalam partai.
Menghindari Konflik Internal. Dengan mendukung calon yang sudah ada, partai bisa menghindari pertikaian internal yang bisa merusak kohesi partai.
Namun, sikap pragmatis dan oportunis ini juga bisa menimbulkan kritik. Partai yang terlalu pragmatis mungkin dianggap tidak memiliki prinsip atau ideologi yang kuat, dan lebih mementingkan kekuasaan daripada kepentingan publik.
Selain itu, ketergantungan pada calon yang kuat juga bisa membuat partai kehilangan identitas dan daya tariknya di mata pemilih yang mencari alternatif baru atau perubahan.
Di sisi lain, pemilih dan masyarakat memiliki peran penting dalam mengawasi dan mengevaluasi partai-partai politik, memastikan bahwa mereka tetap bertanggung jawab dan berkomitmen pada kepentingan publik, bukan hanya kekuasaan.
Ia mengungkapkan harapan ke depan. Harapan untuk Pilgub 2024 bisa menghasilkan
kepemimpinan Meritokrasi.
Ia menuturkan semoga pemimpin yang terpilih adalah individu yang benar-benar memiliki kapabilitas dan integritas, bukan sekadar hasil dari pragmatisme dan oportunisme partai politik.
Peningkatan Partisipasi Aktif Partai Politik. Diharapkan partai politik lebih proaktif dalam mencalonkan kandidat berkualitas daripada hanya mendukung calon yang sudah populer atau mendapat rekomendasi. Partai harus berani mengambil risiko untuk memperjuangkan kepentingan publik.
Transparansi dalam Proses Pencalonan. Semoga proses seleksi calon dilakukan dengan transparan, melibatkan penilaian publik, dan berdasarkan kriteria yang objektif, sehingga menghasilkan calon yang benar-benar kompeten.
**Keterlibatan Masyarakat,
Kolaborasi Multi-Pihak. Akuntabilitas – Transparansi**
Masyarakat diharapkan lebih kritis dan aktif dalam mengawasi dan mengevaluasi kinerja partai politik dan calon yang diajukan, sehingga pilihan mereka benar-benar mencerminkan aspirasi rakyat.
Diharapkan pemimpin yang terpilih mampu membangun kolaborasi yang efektif dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, daerah lain, sektor swasta, dan masyarakat sipil, untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih baik.
Pemimpin yang terpilih harus berkomitmen pada prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi dalam menjalankan pemerintahan, sehingga masyarakat dapat terus memantau dan menilai kinerja mereka.
Dengan mempertimbangkan masalah pragmatisme dan oportunisme partai politik, harapan-harapan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pilgub 2024 menghasilkan pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan keberlanjutan bagi masyarakat dan daerah.
Pewarta/Editor: Hadi Triswanto




















































