BACAMALANG.COM – Sedikitnya 800 pengunjung memadati kawasan BUMDesa Amanah Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, dalam Amadanom Coffee & Culture Festival (AMKOFEST) 2026, Sabtu (8/8/2026). Festival tersebut menjadi ruang perayaan berakhirnya musim panen sekaligus memperkenalkan kopi robusta Amadanom melalui perpaduan budaya, edukasi, UMKM, dan kreativitas masyarakat.
AMKOFEST digelar oleh tim independen yang diketuai Havidz Ageng Prakoso dengan dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang disalurkan melalui LPDP. Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang publik yang mempertemukan petani kopi, masyarakat, pelaku UMKM, komunitas, generasi muda, hingga pengunjung dari luar Desa Amadanom.
AMKOFEST mengusung konsep Coffee & Culture Festival, yang sengaja dihadirkan untuk memperkenalkan kopi tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk mengenal kehidupan masyarakat, potensi ekonomi, serta kekayaan budaya Desa Amadanom. Konsep ini mengintegrasikan unsur budaya, edukasi, ekonomi kreatif, dan pariwisata dalam satu ruang perayaan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Ketua AMKOFEST, Havidz Ageng Prakoso, menuturkan, bahwa tingginya jumlah pengunjung menunjukkan besarnya potensi Amadanom untuk dikembangkan melalui kekuatan lokal yang dimiliki masyarakat.
“Kehadiran hampir 800 pengunjung tentu saja menjadi energi bagi masyarakat Amadanom. Kami ingin orang datang ke sini, menikmati kopinya, mengenal masyarakatnya, kemudian memahami bahwa Amadanom memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui kopi dan budaya,” ujar Havidz di sela kegiatan.
Kopi Robusta Jadi Identitas Amadanom
Sebagai informasi, Desa Amadanom merupakan salah satu wilayah penghasil kopi robusta di Kecamatan Dampit. Tradisi bertani kopi telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi, sosial, sekaligus kultural masyarakat.
Berdasarkan data penyelenggara, produktivitas kebun kopi di kawasan tersebut mencapai sekurangnya 800 kilogram per hektare per tahun. Pada puncak musim panen, produksi dapat mencapai sekitar 1.200 kilogram biji kopi kering per hektare.
Amadanom juga menjadi bagian dari lanskap kopi AMSTIRDAM, yang merupakan akronim dari Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, dan Dampit. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra produksi kopi robusta di Kabupaten Malang.
Dalam dokumen AMKOFEST disebutkan, kopi dari kawasan AMSTIRDAM bahkan telah menembus pasar internasional hingga 45 negara.
“Potensi tersebut kemudian diangkat dalam AMKOFEST melalui berbagai kegiatan yang memperkenalkan perjalanan kopi dari hulu hingga hilir, dengan rangkaian festival yang meliputi pameran dan bazar kopi serta UMKM lokal, literasi kopi, pertunjukan seni budaya, pelatihan barista, demo brewing, hingga pengenalan kebun dan proses produksi kopi masyarakat,” paparnya.
ia mengatakan, pengunjung tidak hanya dapat menikmati kopi, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai proses panjang yang dilakukan petani sejak tanaman berada di kebun, proses panen dan pengolahan, hingga menjadi minuman yang siap disajikan.

AMKOFEST mengusung konsep Coffee & Culture Festival, yang sengaja dihadirkan untuk memperkenalkan kopi tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk mengenal kehidupan masyarakat, potensi ekonomi, serta kekayaan budaya Desa Amadanom. (ist)
500 Cup Kopi Robusta Amadanom Dibagikan Gratis
Sementara itu, salah satu kegiatan yang menarik perhatian pengunjung adalah pembagian 500 cup kopi robusta Amadanom secara gratis. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mencicipi langsung kopi yang ditanam dan diproduksi oleh petani setempat.
Pembagian kopi sekaligus menjadi bentuk promosi produk unggulan desa. Kopi yang selama ini tumbuh dan diproduksi di kawasan Amadanom dapat dinikmati langsung di wilayah asalnya, sekaligus diperkenalkan kepada pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
“Hal ini menjadi bukti bahwa Festival juga memberikan ruang bagi petani, UMKM, dan pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk mereka secara langsung kepada konsumen,” tegas Havidz.
Tari Kopi Tandai Berakhirnya Musim Panen
Tidak hanya mengangkat kopi sebagai komoditas, AMKOFEST juga menempatkan budaya sebagai bagian penting dari perayaan masyarakat. Salah satunya melalui Tari Kopi, yang dipentaskan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen kopi sekaligus menandai berakhirnya masa panen di Amadanom.
Pertunjukan tersebut merepresentasikan kedekatan antara kehidupan masyarakat, aktivitas pertanian, dan kebudayaan yang tumbuh di desa. Aktivitas petani dan cerita tentang kebun serta panen diterjemahkan ke dalam gerak tari dan dipersembahkan di hadapan ratusan pengunjung.
Kehadiran Tari Kopi juga memperlihatkan bagaimana aktivitas pertanian dapat diterjemahkan menjadi ekspresi seni sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Konsep tersebut sejalan dengan tujuan AMKOFEST untuk menghidupkan ruang publik desa sebagai tempat interaksi sosial dan budaya, dialog antargenerasi, serta ruang ekspresi kolektif masyarakat Amadanom.

Penyelenggaraan AMKOFEST menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Petani kopi, Karang Taruna, pelaku UMKM, pemerintah desa, komunitas kopi, pelaku kreatif, hingga akademisi terlibat dalam ekosistem kegiatan. (ist)
Dari Warga untuk Amadanom
Penyelenggaraan AMKOFEST menggunakan pendekatan partisipatif dan kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Petani kopi, Karang Taruna, pelaku UMKM, pemerintah desa, komunitas kopi, pelaku kreatif, hingga akademisi terlibat dalam ekosistem kegiatan.
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut terlibat sebagai mitra akademik dalam pendampingan kegiatan, penguatan kapasitas, serta dokumentasi. Kolaborasi tersebut mempertemukan berbagai elemen, mulai dari pemerintah desa, kelompok tani, komunitas kopi, pelaku usaha, komunitas seni, hingga masyarakat umum.
Bagi penyelenggara, kehadiran hampir 800 pengunjung menjadi modal penting untuk mengembangkan AMKOFEST secara berkelanjutan. Festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda perayaan, tetapi berkembang menjadi ruang promosi potensi lokal sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis kopi dan budaya.
“Harapannya, AMKOFEST dapat terus berkembang menjadi agenda yang dimiliki masyarakat. Festival ini menjadi salah satu cara untuk mempertemukan potensi kopi, budaya, UMKM, dan kreativitas warga dalam satu ruang bersama,” pungkas Havidz.
Dengan semangat tersebut, AMKOFEST 2026 tidak sekadar merayakan berakhirnya musim panen kopi. Festival ini menjadi cara masyarakat Amadanom memperkenalkan identitas desanya melalui secangkir kopi, seni budaya, kreativitas, dan potensi ekonomi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































