Forum Cangkrukan Ekonomi Pancasila Dorong Insentif Pajak UMKM, Hasil Rekomendasi Akan Disampaikan ke Presiden - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 5 Agu 2026 14:57 WIB ·

Forum Cangkrukan Ekonomi Pancasila Dorong Insentif Pajak UMKM, Hasil Rekomendasi Akan Disampaikan ke Presiden


 Ketua Forum Cangkrukan Pancasila, Dr. Djoni Sudjatmoko, menyerahkan buku tentang Ekonomi Pancasila kepada GS Kikin. (ist) Perbesar

Ketua Forum Cangkrukan Pancasila, Dr. Djoni Sudjatmoko, menyerahkan buku tentang Ekonomi Pancasila kepada GS Kikin. (ist)

BACAMALANG.COM – Forum Cangkrukan Ekonomi Pancasila yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan lahirnya kebijakan ekonomi yang lebih berpihak kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satu rekomendasi utama yang disampaikan adalah perluasan insentif perpajakan bagi UMKM sebagai wujud implementasi Ekonomi Pancasila.

Forum yang berlangsung di NK Cafe, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Rabu (5/8/2026), itu menjadi ruang diskusi berbagai kalangan untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang dinilai mampu memperkuat sektor usaha kecil tanpa menghambat pertumbuhan usaha besar.

Ketua Pelaksana Forum Cangkrukan Ekonomi Pancasila, Dr. Djoni Sudjatmoko, mengatakan konsep Ekonomi Pancasila sejalan dengan arah pembangunan ekonomi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, konsep tersebut menekankan keberpihakan kepada masyarakat kecil, namun tetap memberi ruang bagi dunia usaha untuk berkembang.

“Inti dari Ekonomi Pancasila yang kami pahami adalah kebijakan harus tegas kepada perusahaan-perusahaan besar dan para penguasa, tetapi tetap mengayomi pelaku usaha kecil. UMKM harus benar-benar mendapatkan perlindungan dan insentif,” ujarnya.

Sebagai contoh implementasi kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil, Djoni menyinggung langkah Kementerian Pertanian dalam memberantas mafia beras dan mafia pupuk, sekaligus menaikkan harga pembelian gabah petani dari sekitar Rp5.000 menjadi Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram.

“Ini bukti keberpihakan kepada masyarakat bawah. Negara harus memastikan hasil pengelolaan sumber daya alam benar-benar kembali untuk menyejahterakan rakyat,” katanya.

Djoni menilai regulasi perpajakan saat ini masih belum sepenuhnya mendukung pertumbuhan UMKM, terutama bagi pelaku usaha yang omzetnya telah melampaui Rp4,8 miliar. Menurutnya, batas tersebut membuat pelaku usaha langsung masuk skema perpajakan umum, sehingga ruang untuk berkembang menjadi lebih sempit.

“Kami mengusulkan agar kemudahan perpajakan diperluas. Jangan sampai baru sedikit berkembang sudah dianggap perusahaan besar. Kalau ingin ekonomi nasional melesat, pelaku usaha harus diberi kesempatan tumbuh lebih dulu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tingginya tingkat persaingan usaha di Indonesia yang memiliki sekitar 59 juta pelaku UMKM. Karena itu, menurutnya, negara harus memberikan perlindungan dan dukungan agar usaha kecil mampu bertahan sekaligus berkembang.

“Dengan jumlah UMKM yang sangat besar, persaingan juga semakin ketat. Karena itu mereka perlu ruang untuk bertumbuh, bukan justru dibebani sejak awal,” imbuhnya.

Hasil diskusi dalam Forum Cangkrukan Ekonomi Pancasila tersebut, lanjut Djoni, akan dirumuskan menjadi rekomendasi yang akan disampaikan kepada Kementerian Keuangan hingga Presiden Republik Indonesia. Bahkan, apabila tidak mendapat tindak lanjut, pihaknya membuka peluang menempuh jalur judicial review terhadap regulasi yang dinilai belum berpihak kepada UMKM.

Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin, menegaskan bahwa pembahasan mengenai insentif bagi UMKM sangat relevan karena sebagian besar warga Nahdliyin bergerak di sektor usaha mikro dan kecil.

“Kita memiliki banyak warga yang menjalankan usaha mikro dan kecil. Mereka membutuhkan pendampingan, dukungan, dan perlakuan khusus agar usahanya dapat berkembang,” ujarnya.

Menurut Gus Kikin, PWNU Jawa Timur akan terus mendorong penguatan ekonomi warga melalui jaringan organisasi hingga tingkat ranting dan anak ranting. Ia berharap Forum Cangkrukan Ekonomi Pancasila mampu melahirkan rekomendasi yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku UMKM.

Ia juga berharap pemerintah memberikan kebijakan perpajakan yang lebih ringan bagi pelaku usaha kecil.

“Kalau bisa, pelaku usaha mikro dan kecil tidak dibebani pajak. Mereka sudah menanggung banyak beban operasional dan kebutuhan keluarga. Jika mereka berhenti berusaha, justru negara yang akan menanggung dampaknya,” pungkasnya.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Diduga Belum Kantongi Izin BPOM, Produk Premix Kue Jadi Temuan LPK RI saat Sidak di Malang

3 Agustus 2026 - 17:45 WIB

Groundbreaking Prime Plaza Hotel Batu, Hotel Bintang Empat 90 Kamar Siap Bidik Pasar MICE

3 Agustus 2026 - 13:01 WIB

BRI Malang Gandeng Asabri dan Taspen, Beri Apresiasi Sekaligus Edukasi Keamanan Transaksi bagi Nasabah Pensiunan

3 Agustus 2026 - 12:26 WIB

Pasar Sore Kedai Tepi Rel Kepanjen Kini Buka Setiap Hari, Jadi Magnet Kuliner Murah dan Penggerak UMKM Warga

31 Juli 2026 - 13:33 WIB

Bidik Pasar Mahasiswa, Metro Point Sigura-Gura Tawarkan Investasi Rumah Kost Premium Berkonsep Japandi Tropical

30 Juli 2026 - 16:34 WIB

OJK Malang Perkuat Budaya Menabung Pelajar, Libatkan Ratusan Guru dan Komite Sekolah di Kabupaten Probolinggo

30 Juli 2026 - 12:59 WIB

Trending di EKOBIZ

©Hak Cipta Dilindungi !