HUT Arema ke-39: Merayakan Kebanggaan, Menolak Lupa Tragedi Kanjuruhan - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 11 Agu 2026 01:26 WIB ·

HUT Arema ke-39: Merayakan Kebanggaan, Menolak Lupa Tragedi Kanjuruhan


 Perayaan HUT AREMA ke-39 di Kota Malang. (yog) Perbesar

Perayaan HUT AREMA ke-39 di Kota Malang. (yog)

Oleh: Rahmat Mashudi Prayoga (Pendiri Forum Arema Kampus, Ketua Bidang Platform Digital JMSI Jatim)

HUT Arema ke-39 kembali menjadi momentum bagi Aremania untuk merayakan kebanggaan terhadap klub, dan identitas yang selama ini melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Malang Raya.

Jalanan dipenuhi atribut biru. Bendera dikibarkan. Nyanyian terdengar dari berbagai sudut kota. Konvoi dan berbagai kegiatan digelar untuk menandai bertambahnya usia Arema.

Namun, di tengah gegap gempita perayaan itu, ada satu hal yang tidak boleh ikut dilupakan: Tragedi Kanjuruhan.

Waktu boleh berjalan. Generasi boleh berganti. Tetapi 1 Oktober 2022 tidak seharusnya menjadi sekadar tanggal dalam kalender. Ada 135+ nyawa yang menjadi pengingat bahwa sepak bola, sebesar apa pun kecintaan kita kepadanya, tidak boleh kehilangan sisi kemanusiaannya.

Karena itu, HUT Arema ke-39 semestinya tidak hanya menjadi perayaan tentang kebanggaan, tetapi juga momentum untuk melakukan refleksi.

Sudah saatnya budaya sepak bola bergerak ke arah yang lebih dewasa.

Kebanggaan Tak Harus Menghujat

Kebanggaan terhadap Arema tidak harus ditunjukkan dengan merendahkan klub lain. Loyalitas kepada Aremania tidak harus diwujudkan dengan menghujat suporter lain. Dan kecintaan terhadap tim tidak perlu dibuktikan dengan menumbuhkan kebencian kepada mereka yang berbeda warna.

Sudah seharusnya tidak ada lagi nyanyian-nyanyian yang menghujat suporter lain, apalagi nyanyian yang secara terang-terangan mengandung kebencian, penghinaan, atau ajakan untuk memusuhi kelompok lain.

Ini bukan persoalan soal apakah sebuah nyanyian hanya dianggap sebagai bagian dari ekspresi di tribun.

Persoalannya jauh lebih besar.

Hari ini, apa yang terjadi di tribun tidak berhenti di tribun.

Seseorang bisa merekam nyanyian tersebut menggunakan telepon genggam. Video kemudian diunggah ke media sosial. Dalam hitungan menit, potongan video bisa menyebar ke berbagai platform, ditonton ribuan bahkan jutaan orang, dipotong kembali, diberi narasi, dikomentari, lalu disebarkan oleh akun-akun lain.

Di titik inilah persoalannya menjadi serius.

Nyanyian yang awalnya hanya terdengar di antara kelompok suporter tertentu dapat berubah menjadi konsumsi publik. Kalimat-kalimat yang mengandung penghinaan bisa menjadi bahan provokasi. Ejekan bisa dipersepsikan sebagai tantangan. Dan kebencian yang sebelumnya hanya terdengar di tribun dapat menyebar jauh melampaui stadion.

Media sosial memiliki daya ungkit yang sangat besar.

Ia bisa digunakan untuk memperkuat persaudaraan, tetapi pada saat yang sama juga sangat ampuh untuk memperluas kebencian.

Satu unggahan dapat memancing ribuan komentar. Satu potongan video dapat mempertemukan dua kelompok yang sebelumnya tidak berada di tempat yang sama. Dan satu kalimat provokatif dapat menjadi bahan bakar bagi permusuhan yang terus dipelihara di ruang digital.

Karena itu, kita tidak boleh lagi melihat konten-konten bernuansa kebencian antar-suporter sebagai sesuatu yang sepele.

Sebab apa yang ditanam di media sosial hari ini, bukan tidak mungkin menjadi masalah di dunia nyata ketika suporter dari klub yang berbeda akhirnya bertemu.

Kita tentu tidak ingin rivalitas yang seharusnya hanya berlangsung selama 90 menit berubah menjadi permusuhan yang dibawa ke jalanan.

Kita tidak ingin sebuah nyanyian di tribun berubah menjadi ejekan di media sosial, kemudian berkembang menjadi provokasi, dan pada akhirnya memicu benturan antarsuporter.

Usulan yang Pernah Disampaikan

Kekhawatiran terhadap persoalan ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Penulis pernah menyampaikan gagasan tersebut dalam Forum Group Discussion (FGD) Perumusan Implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dengan topik pembahasan mengenai suporter, di Le Meridien Hotel, Jakarta, Jumat (14/10/2022).

Dalam forum tersebut, penulis mengusulkan agar PSSI dan Kemenpora dapat berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika—yang kini menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi)—serta Siber Polri untuk mengambil langkah terhadap konten-konten oknum suporter di media sosial yang mengandung ujaran kebencian dan berpotensi memicu konflik.

Gagasannya sederhana: jangan menunggu kebencian di dunia maya berubah menjadi benturan di dunia nyata.

Jika terdapat unggahan yang jelas-jelas mengandung ujaran kebencian, penghinaan, provokasi, atau konten yang berpotensi memicu permusuhan antarkelompok, semestinya ada mekanisme bersama untuk melakukan penindakan sesuai ketentuan hukum maupun pembatasan terhadap penyebarannya.

Tentu, langkah tersebut harus tetap dilakukan secara terukur, berdasarkan aturan yang jelas, dan tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam kritik atau ekspresi suporter yang sah.

Tetapi terhadap konten yang memang sengaja diproduksi untuk menghasut kebencian dan permusuhan, negara, federasi, platform digital, dan komunitas suporter tidak boleh berpangku tangan.

PSSI tidak bisa hanya berbicara tentang regulasi pertandingan.

Kemenpora tidak cukup hanya berbicara tentang pembinaan suporter.

Aparat penegak hukum tidak semestinya baru bergerak setelah konflik terjadi.

Dan komunitas suporter juga harus menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar terhadap apa yang mereka produksi, nyanyikan, rekam, dan sebarkan.

Sebab era media sosial telah mengubah wajah rivalitas sepak bola.

Dulu, sebuah nyanyian mungkin hanya terdengar di stadion dan hilang setelah pertandingan selesai.

Sekarang tidak.

Nyanyian tersebut bisa direkam, diunggah, disimpan, dicari kembali, dipotong, disebarluaskan, dan dikonsumsi oleh generasi yang bahkan tidak berada di stadion ketika nyanyian itu pertama kali dinyanyikan.

Artinya, setiap nyanyian yang mengandung kebencian memiliki potensi untuk menjadi arsip permusuhan.

Dan ketika arsip itu terus diproduksi serta disebarkan, kita sebenarnya sedang membangun ingatan kolektif yang salah tentang bagaimana seharusnya rivalitas dalam sepak bola dijalankan.

Jangan Wariskan Kebencian

Kalau yang terus diwariskan adalah ejekan dan kebencian, maka kita sedang mewariskan permusuhan kepada generasi berikutnya.

Sebaliknya, jika yang kita wariskan adalah rasa hormat, persaudaraan, sportivitas, dan kecintaan terhadap sepak bola, maka tribun akan menjadi ruang yang jauh lebih sehat.

Aremania memiliki sejarah panjang dalam mendukung Arema. Identitas itu tidak akan menjadi lebih kuat hanya karena mampu berteriak paling keras atau menyanyikan hinaan paling tajam kepada lawan.

Justru kebesaran sebuah kelompok suporter terlihat ketika mereka mampu menunjukkan bahwa rivalitas tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Kita boleh berbeda klub. Boleh berbeda warna. Boleh berbeda pilihan ketika pertandingan berlangsung.

Tetapi setelah peluit akhir berbunyi, kita tetap manusia yang memiliki keluarga, memiliki kehidupan, dan memiliki masa depan yang harus dijaga.

Terlebih setelah Tragedi Kanjuruhan, seharusnya ada kesadaran kolektif bahwa keselamatan dan kemanusiaan jauh lebih penting daripada kemenangan dalam sebuah pertandingan.

Menolak Lupa Berarti Belajar

Menolak lupa bukan berarti terus hidup dalam kesedihan.

Menolak lupa berarti belajar.

Belajar agar kesalahan tidak terulang. Belajar agar sepak bola tidak lagi menjadi ruang yang menormalisasi kekerasan dan kebencian. Belajar agar stadion menjadi tempat yang aman bagi siapa pun—anak-anak, perempuan, keluarga, pemain, suporter, maupun seluruh pekerja yang berada di dalamnya.

HUT Arema ke-39 bisa menjadi titik penting untuk memulai babak baru.

Babak ketika Aremania tetap bernyanyi, tetapi nyanyiannya tidak menghina.

Tetap berkumpul, tetapi tidak mencari musuh.

Tetap bangga menjadi Aremania, tetapi juga mampu menghormati mereka yang berbeda.

Dan yang paling penting, tetap merayakan Arema sambil terus mengingat bahwa di balik sejarah panjang klub ini, ada luka besar yang belum boleh dilupakan.

Karena mencintai Arema bukan tentang seberapa besar kita membenci yang lain.

Mencintai Arema adalah tentang bagaimana kita menjaga nama, nilai, dan masa depan sepak bola Malang.

HUT Arema ke-39 hendaknya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia.

Tetapi juga menjadi pengingat:

bahwa sepak bola harus menyatukan, bukan memecah.

Bahwa rivalitas harus menghadirkan gairah, bukan kebencian.

Bahwa nyanyian suporter seharusnya membangkitkan semangat, bukan menyebarkan permusuhan.

Dan bahwa media sosial harus digunakan untuk memperkuat persaudaraan, bukan menjadi mesin penyebar kebencian antarsuporter.

Dan yang paling penting, Tragedi Kanjuruhan tidak boleh pernah menjadi sekadar kenangan.

Selamat ulang tahun Arema.

Teruslah menjadi kebanggaan warga Malang.

Dan mari kita buktikan bahwa kebanggaan itu bisa berjalan bersama dengan persaudaraan, kemanusiaan, dan perdamaian. (*)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Suroan Plus 17-an, Digeser Sound Horeg

10 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Muktamar ke-35 dan Ilusi Etalase: Menatap Wajah Penggerak Anonim NU di Abad Kedua

9 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Mata Hati Semesta Tidak Bisa Dibutakan: Membangun Kembali Peradaban Integritas di Tengah Krisis Kepercayaan

3 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Refleksi Peringatan Hari Ikrar Gerakan Pramuka

30 Juli 2026 - 12:23 WIB

Bangsa dalam Lorong Krisis Sistemik: Sebuah Ulasan Kritis tentang Hukum, Ekonomi, Keadilan, dan Kerusakan Peradaban

28 Juli 2026 - 08:33 WIB

Jangan Mudah Membid’ahkan, Islam Mengajarkan Kebijaksanaan

21 Juli 2026 - 09:19 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !