BACAMALANG.COM – Sejarah Kota Malang tidak hanya dibentuk oleh bangunan-bangunan tua maupun berbagai peristiwa besar, tetapi juga oleh perjalanan beragam komunitas yang hidup, tumbuh, dan berkontribusi selama berabad-abad. Salah satunya adalah etnis Tionghoa yang memiliki peran penting dalam perkembangan sosial, ekonomi, budaya, kesehatan hingga pendidikan di Kota Malang.
Ingatan kolektif tersebut diangkat dalam buku “Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang: Dari Singhasari sampai Reformasi”, karya Bambang AW dan Dika Sri Pandanari. Buku ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan panjang komunitas Tionghoa sejak masa Kerajaan Singhasari hingga era Reformasi.
Melalui penelusuran arsip, dokumen sejarah, foto, dan berbagai kisah nyata, penulis menghadirkan potongan-potongan sejarah yang selama ini jarang mendapat perhatian. Buku setebal 234 halaman ini menggambarkan bagaimana interaksi budaya telah berlangsung sejak masa awal Nusantara, berlanjut pada era kerajaan, kolonial, kemerdekaan, hingga dinamika sosial-politik pada masa Reformasi.
Bak menyusuri lorong waktu, Bambang membagi buku ini ke dalam beberapa periode, yakni Selintas Zaman Kerajaan, Kolonial Belanda, Pendudukan Jepang, Kemerdekaan, Masa Gelap, dan Reformasi. Selain itu, terdapat pula pembahasan tersendiri mengenai Klenteng Eng An Kiong serta Wayang Orang Ang Hien Hoo.
Ditemui BacaMalang.com di New Book Store Universitas Muhammadiyah Malang (NBS UMM) belum lama ini, Bambang AW menuturkan bahwa penemuan sejumlah peninggalan dari masa Kerajaan Singhasari, seperti kain sutra, uang kepeng, dan keramik China, menjadi bukti bahwa interaksi antara masyarakat lokal dan etnis Tionghoa telah terjalin sejak berabad-abad silam.
“Sejarah seperti ini tidak banyak diketahui generasi muda. Etnis Tionghoa bukanlah orang lain, mereka sudah hidup bersama kita sejak dahulu. Jadi tidak perlu dipersoalkan lagi, karena yang memecah justru aspek politiknya saja,” ungkap Direktur Eksekutif NBS UMM tersebut.
Pemilik nama lengkap Bambang Adrian Wenzel ini menambahkan, akulturasi budaya Tionghoa telah banyak mewarnai kehidupan masyarakat, mulai dari kuliner seperti bakso hingga fesyen melalui kebaya encim. Sebaliknya, masyarakat Tionghoa juga banyak menyerap budaya lokal, seperti penggunaan kain jarik oleh kaum perempuan hingga tradisi selamatan saat pindah rumah.
Pada masa kolonial Belanda, pemberlakuan Undang-Undang Agraria dan Undang-Undang Gula mendorong banyak warga Tionghoa menekuni sektor perdagangan dan perkebunan. Di Malang sendiri tercatat terdapat enam kelompok etnis Tionghoa yang dikenal sebagai pedagang dengan komoditas unggulannya masing-masing. Selain itu, terdapat sekitar 50 marga (she) yang kemudian melahirkan berbagai organisasi kemasyarakatan.
“Salah satu puncaknya adalah Ang Hien Hoo yang semula merupakan perkumpulan sosial-budaya Tionghoa di Malang pada tahun 1905, kemudian berganti nama menjadi Panca Budhi pada tahun 1967. Ang Hien Hoo terkenal karena kelompok wayang orangnya yang memadukan budaya Tionghoa dan Jawa, bahkan pernah diundang Presiden Soekarno tampil di Istana Merdeka pada tahun 1962,” papar owner Dialectic Gallery tersebut.
Sementara di era pendudukan Jepang, perjuangan arek-arek Malang juga melibatkan warga etnis Tionghoa, baik secara individu maupun komunal. Sementara itu, Malang menjadi salah satu daerah pendukung dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya dengan para pejuang yang berasal dari berbagai latar belakang etnis, seperti Jawa, Madura, Arab, dan Tionghoa.
“Etnis Tionghoa ikut berpartisipasi di bawah koordinasi Palang Merah Malang, Palang Biru dan Angkatan Muda Tionghoa Malang menyelamatkan para korban perang besar 10 November tersebut,” tambah pria kelahiran Banyuwangi ini.
Bahkan saat Agresi Militer II, Ong Hok Liong, pemilik Stroojes Fabriek atau pabrik rokok Bentoel, bersama sejumlah tokoh lainnya membantu para pejuang kemerdekaan dengan menyembunyikan para gerilyawan di pabrik-pabrik mereka.
Namun pada akhir Perang Dunia kedua, kekosongan aparat sipil dan kepolisian membuat kondisi Kota Malang tidak kondusif dengan terjadinya penyerbuan dan penjarahan warga Tionghoa, yang akhirnya dikenal dengan peristiwa Mergosono.
Bambang juga menyoroti pergolakan politik tahun 1965 sebagai salah satu faktor yang memengaruhi dinamika pembauran etnis Tionghoa di Malang. Salah satu dampaknya adalah ditutupnya Sekolah Ma Chung (Chung Hua Chung Hsueh) pada tahun 1966 setelah hanya beroperasi selama sekitar dua dekade.
“Beberapa guru Sekolah Ma Chung zaman dulu yang sempat saya wawancarai mengaku sudah tidak memiliki data maupun buku-buku lagi karena habis dibakar pada tahun 1965,” ujar pria yang juga pelukis ini.
Kontribusi etnis Tionghoa di bidang pendidikan juga menjadi bagian penting dalam buku ini. Selain Sekolah Ma Chung, banyak sekolah yang didirikan pada masa kolonial Belanda berdasarkan marga-marga Tionghoa di kawasan Pecinan. Belanda kemudian mengizinkan masyarakat Tionghoa mengenyam pendidikan melalui Hollandsch-Chineesche School (HCS). Kini, sejumlah bekas gedung HCS di Kota Malang telah bertransformasi menjadi sekolah modern.
Bambang juga menyebutkan, bahwa pada era Reformasi, meski kerusuhan tahun 1998 di Malang tidak sebrutal Jakarta, Surabaya, maupun Medan, dampaknya terhadap perekonomian tetap besar. Banyak pengusaha, yang sebagian besar berasal dari etnis Tionghoa, mengalami penurunan usaha hingga bangkrut akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Pascareformasi, rasa trauma membuat para sesepuh Tionghoa di Malang memilih kembali menyatu dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih lunak, seperti berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dari sinilah kemudian muncul organisasi seperti Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Malang Raya. Puncaknya adalah penyelenggaraan Imlek Bersama pada tahun 2020 yang melibatkan Korem 083/Baladhika Jaya, Polresta Malang Kota, Universitas Ma Chung, dan Universitas Muhammadiyah Malang,” urai fotografer sempat menggelar pameran etnofotografi tentang Suku Tengger ini.
Buku yang digarap selama enam tahun ini awalnya digagas oleh Bambang Gunawan (Lie Cing Poen), pemilik sebuah perusahaan karoseri, bersama sejumlah tokoh Klenteng Eng An Kiong. Mereka menilai Bambang AW merupakan sosok yang tepat untuk mendokumentasikan sejarah etnis Tionghoa di Malang.
“Salah satu narasumber penting dalam buku ini adalah rohaniawan Klenteng Eng An Kiong, Bunsu Anton Triyono. Tanpa beliau, banyak bagian sejarah yang akan tetap buram,” tegasnya.
Penulis prosa liris sejarah “Ong Tien: Falam Cinta Susuhunan Gunung Jati” ini juga menyambut baik keterlibatan Dika Sri Pandanari dalam penyusunan buku setebal ini. Menurutnya, dosen BINUS Malang tersebut memberikan banyak gagasan dan perspektif yang memperkaya isi buku. Bahkan, kontribusi Dika yang juga menjabat sebagai Sekretaris Perhimpunan Indonesia Tionghoa Kota Malang diharapkan dapat menginspirasi sivitas akademika kampusnya untuk semakin produktif menulis.
Sementara di bidang kesehatan, J.A. Noertahjono menyumbangkan tulisan mengenai sejarah RS Panti Nirmala sebagai informasi tentang pentingnya Perkumpulan Tiong Hwa Ie Sia (THIS) yang berdiri pada tahun 1929. Berawal dari sebuah poliklinik kecil, lembaga tersebut berkembang menjadi salah satu rumah sakit besar di Kota Malang.
Ia menilai, sejatinya masih belum banyak yang disampaikan dalam buku yang akan secara resmi dilaunching pada 29 Agustus 2026 ini.
“Manfaat buku ini sebenarnya menjadi PR kita bersama. salah satunya keberadaaan Palang Biru yang sudah eksis sejak dulu. Bagaimana perlindungan kesehatan kepada masyarakat melalui pendekatan sosial seperti itu bisa kembali diberdayakan pada masa sekarang,” pungkas Bambang.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW



















































