Lahan Makin Sempit, Urban Farming Jadi Solusi Warga Tetap Bisa Panen Sayur dan Buah - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 2 Sep 2026 18:26 WIB ·

Lahan Makin Sempit, Urban Farming Jadi Solusi Warga Tetap Bisa Panen Sayur dan Buah


 Urban farming pun menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. (ist) Perbesar

Urban farming pun menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. (ist)

BACAMALANG.COM — Keterbatasan lahan pekarangan menjadi salah satu tantangan masyarakat di tengah pertumbuhan penduduk dan pesatnya perkembangan kawasan permukiman. Ruang terbuka di sekitar rumah yang semakin terbatas membuat aktivitas bercocok tanam, khususnya sayur dan buah, tidak lagi mudah dilakukan secara konvensional.

Padahal, sayuran dan buah-buahan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Beragam kandungan vitamin dan mineral di dalamnya dibutuhkan tubuh untuk menunjang kesehatan dan pemenuhan gizi sehari-hari.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, SP, mengatakan keterbatasan lahan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap melakukan budidaya tanaman di lingkungan rumah.

“Keterbatasan lahan pekarangan bukan berarti masyarakat tidak bisa menanam. Dengan penerapan teknologi dan metode budidaya yang tepat, lahan yang sempit tetap bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan sayuran maupun buah-buahan,” ujar Slamet.

Menurutnya, salah satu alternatif yang dapat dikembangkan masyarakat adalah pertanian perkotaan atau urban farming. Konsep tersebut memungkinkan kegiatan budidaya tanaman dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lingkungan serta ruang yang tersedia.

“Urban farming dapat menjadi salah satu solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan di kawasan perkotaan. Tidak harus memiliki pekarangan yang luas, masyarakat bisa memanfaatkan ruang yang ada secara efektif,” jelasnya.

Berbagai metode dapat diterapkan, mulai dari vertikultur, hidroponik, hingga penggunaan pot dan wadah tanam. Dengan metode tersebut, tanaman dapat dibudidayakan secara vertikal maupun ditempatkan di sudut-sudut rumah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara produktif.

Selain menjadi aktivitas bercocok tanam, pemanfaatan pekarangan melalui urban farming juga memiliki manfaat dalam mendukung ketersediaan pangan keluarga. Masyarakat dapat menanam tanaman yang dibutuhkan untuk konsumsi sehari-hari sehingga akses terhadap pangan yang beragam dan bergizi semakin mudah.

Slamet menambahkan, pengembangan urban farming juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat di tingkat keluarga.

“Harapannya, masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan secara maksimal sesuai dengan kondisi masing-masing. Mulai dari tanaman yang sederhana dan mudah dirawat, kemudian dikembangkan secara bertahap,” tambahnya.

Dengan demikian, keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti menanam. Melalui pemilihan teknologi serta metode budidaya yang tepat, ruang sempit di sekitar rumah tetap dapat disulap menjadi lahan produktif yang menghasilkan sayur dan buah sekaligus memberikan manfaat bagi keluarga.

Urban farming pun menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah semakin terbatasnya lahan perkotaan.

Pewarta/Editor: Hadi Triswanto

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Pertalite di Malang Raya Dipastikan Tetap Mengalir, Pertamina Atur Distribusi Sesuai Stok

2 September 2026 - 14:05 WIB

IONATION 2026 Satukan Fitness Race dan Wellness, 9.000 Peserta Ramaikan Festival Sehari Penuh

1 September 2026 - 18:19 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Pertalite Diburu Warga Malang hingga Sejumlah SPBU Kehabisan Stok

1 September 2026 - 16:06 WIB

Cangkrukan Nomaden Padhange Ati, Dari Ruang Diskusi hingga Menggerakkan UMKM Lawang

30 Agustus 2026 - 17:03 WIB

Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan OJK 2026, Kabupaten Malang Raih Financial Literacy Award 2026

28 Agustus 2026 - 21:23 WIB

Dua KA Tujuan Malang Terlambat, KAI Daop 8 Minta Maaf

28 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Trending di EKOBIZ

©Hak Cipta Dilindungi !