BACAMALANG.COM – Empat mahasiswa Shimonoseki City University, Jepang, mendapat pengalaman langsung mengenal ekosistem kopi Indonesia melalui program Summer Course Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada 7–11 September 2026.
Selama mengikuti program, para mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi di ruang kelas. Mereka diajak melihat secara langsung pengelolaan kopi dari hulu hingga hilir, mulai dari proses budidaya, pengeringan, pengolahan, hingga distribusi kepada konsumen.
Interaksi dengan petani dan pelaku usaha menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Melalui pengalaman lapangan, peserta diajak memahami bahwa kopi bukan sekadar komoditas, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek sosial, teknologi, dan ekonomi masyarakat.
Kopi dipilih sebagai tema utama karena memiliki karakter sebagai salah satu komoditas khas Nusantara yang tidak dapat dibudidayakan secara alami di Jepang. Kondisi tersebut membuat peserta memiliki kesempatan untuk mempelajari secara langsung rantai produksi dan pengelolaan kopi di Indonesia.
Salah satu peserta, Ikkei Ando, mahasiswa Ekonomi Shimonoseki City University, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti program tersebut. Selain mempelajari proses pengolahan kopi, ia juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan petani dan pelaku usaha.
“Saya belajar banyak hal tentang biji kopi Indonesia. Saya tidak hanya belajar mengenai biji kopinya, tetapi juga berinteraksi dengan para petani serta orang-orang di kafe sehingga dapat melihat langsung bagaimana kopi didistribusikan hingga sampai ke konsumen,” ujar Ikkei Ando.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar melakukan observasi, tetapi juga mencari solusi atas persoalan yang mereka temukan di lapangan.
Saat mengunjungi Wonosantri, Singosari, peserta mengamati proses pengeringan kopi. Mereka menemukan salah satu tantangan berupa proses pemindahan rak serta pemantauan kondisi selama pengeringan.
Dari hasil pengamatan itu, peserta mengembangkan gagasan Open Rack System. Konsep tersebut dirancang untuk mempermudah pemindahan rak pengering sekaligus memanfaatkan sensor dalam memantau proses pengeringan.
Inovasi itu diharapkan dapat mengurangi beban kerja petani, meningkatkan efisiensi proses, sekaligus membantu menjaga konsistensi kualitas kopi.
Sementara itu, Prof. Shinji Okazaki dari Shimonoseki City University menilai pembelajaran berbasis masalah menjadi pendekatan penting dalam membentuk mahasiswa yang mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, proses pembelajaran tidak semestinya berhenti di ruang kelas, tetapi juga harus bersentuhan langsung dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Penelitian bukanlah kegiatan yang hanya bertujuan memperoleh pengetahuan. Penelitian adalah tindakan menggunakan pengetahuan dan kemampuan kita secara nyata demi sesama manusia, masyarakat, dan bumi,” tegasnya.
Wakil Dekan I FPP UMM, Mochammad Wachid, S.TP., M.Sc., mengatakan program Summer Course juga menjadi bagian dari strategi UMM dalam memperkuat jejaring internasional.
Selain memperkenalkan ekosistem kopi Nusantara, peserta turut dikenalkan dengan inovasi Kopi Gajah, hasil riset dosen UMM.
“Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk merawat kerja sama internasional agar melahirkan ide baru dalam kolaborasi penelitian, pengabdian, maupun bisnis. Harapannya, kualitas pendidikan UMM bisa direkognisi secara masif di tingkat global,” pungkasnya.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































