BACAMALANG.COM – Lagu kebangsaan Indonesia Raya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar iringan dalam upacara resmi. Tiga stanza karya Wage Rudolf (WR) Supratman itu mengandung doa, pujian terhadap Tanah Air, sekaligus pesan untuk membangun kesadaran kebangsaan.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., saat bertemu dengan kader PDI Perjuangan se-Ranting Lowokwaru di Cafe Setumpuk, Jalan Bromo, Kota Malang, Minggu (1/11/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Untari mengajak masyarakat untuk kembali mengenal dan menggaungkan Indonesia Raya versi tiga stanza secara utuh. Menurutnya, versi asli lagu kebangsaan tersebut menyimpan pesan mendalam tentang kecintaan terhadap Tanah Air dan cita-cita menjaga keutuhan bangsa.
Politisi PDI Perjuangan yang juga menjabat sebagai Penasehat Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur itu menjelaskan, lirik Indonesia Raya tidak hanya menggambarkan semangat perjuangan, tetapi juga memuat harapan bagi keselamatan rakyat dan seluruh wilayah Indonesia.
Ia menyoroti bait yang berbunyi, “Selamatlah rakyatnya, selamatlah pulaunya, lautnya…” sebagai salah satu gambaran kecintaan terhadap kekayaan alam Nusantara. Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa keselamatan rakyat dan kelestarian Tanah Air merupakan bagian penting dari cita-cita kebangsaan.
“Segala sesuatu yang terus diucapkan secara berulang-ulang itu akan menjadi doa. Melalui lirik ‘sadarlah hatinya, sadarlah budinya’, lagu ini membangkitkan dan membangun kesadaran agar kita memahami arti Indonesia Raya seutuhnya,” terang Untari.
Ia juga menjelaskan alasan teknis mengapa dalam banyak upacara bendera, Indonesia Raya umumnya hanya dinyanyikan satu stanza. Jika tiga stanza dinyanyikan secara beriringan dengan proses pengibaran bendera Merah Putih, diperlukan penyesuaian durasi dan teknis pelaksanaan upacara.
Untari menyebut, kebutuhan waktu tersebut berkaitan dengan proses pengibaran bendera, termasuk pertimbangan ketinggian tiang yang dalam penjelasannya dapat mencapai sekitar 27 meter. Karena itu, penggunaan satu stanza dalam upacara umum menjadi pilihan yang lazim diterapkan.
Meski demikian, ia menilai pengenalan Indonesia Raya tiga stanza tetap penting dilakukan di berbagai kesempatan. Upaya tersebut dinilai dapat memperluas pemahaman masyarakat terhadap makna lagu kebangsaan sekaligus menghidupkan kembali semangat perjuangan para pendiri bangsa.
Bagi Untari, menyanyikan Indonesia Raya secara utuh bukan semata persoalan melestarikan karya sejarah. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan salah satu cara menanamkan kecintaan kepada Indonesia, memperkuat persatuan, serta mengingatkan kembali cita-cita Proklamasi Kemerdekaan.
Ia berharap semangat tersebut terus tumbuh, khususnya di kalangan kader partai dan generasi muda, agar nilai-nilai kebangsaan tidak berhenti sebagai simbol dalam seremoni, melainkan menjadi kesadaran yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Pewarta/Editor: Imam Muchlis




















































