Kisah Bangku Kenangan Keluarga Tonko dan Revitalisasi Alun-alun Tugu Malang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 4 Jul 2023 21:08 WIB ·

Kisah Bangku Kenangan Keluarga Tonko dan Revitalisasi Alun-alun Tugu Malang


 Pemerhati sejarah Tjahjana Indra Kusuma saat meninjau 3 balok bangku kenangan di tengah proyek revitalisasi Alun-Alun Tugu Kota Malang, Selasa (4/7/2023). (Nedi Putra AW) Perbesar

Pemerhati sejarah Tjahjana Indra Kusuma saat meninjau 3 balok bangku kenangan di tengah proyek revitalisasi Alun-Alun Tugu Kota Malang, Selasa (4/7/2023). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Hampir setiap kota memiliki ruang publik yang disebut alun-alun. Kota Malang sendiri bahkan memiliki dua alun-alun. Yang pertama dikenal dengan sebutan alun-alun kotak di Jalan Merdeka, dan yang kedua adalah alun-alun Tugu atau alun-alun bundar di depan Balai Kota Malang.

Memasuki bulan Juni 2023, alun-alun Tugu mengalami proses revitalisasi. Proyek dengan anggaran sebesar Rp 5 miliar lebih tersebut meliputi sejumlah pekerjaan, mulai  perobohan pagar, penambahan lajur jogging track, hingga penataan pola taman.

Pengerjaannya mendapat sorotan dari masyarakat, salah satunya dengan terdampaknya salah satu bukti sejarah yang masih tertinggal, berupa objek berbentuk kotak yang terbuat dari semacam batu andesit atau semen cor, dengan tulisan berbahasa Belanda terukir pada permukaannya.

“Itu adalah tiga bangku kenangan kaya sejarah,” ungkap pemerhati sejarah Tjahjana Indra Kusuma saat meninjau Alun-Alun Tugu, Selasa (4/7/2023).

Indra, sapaannya, mengatakan bangku dengan struktur yang terdiri dari tiga buah balok persegi panjang tersebut terkulai terserak di rumput area revitalisasi kawasan Alun-alun Tugu yang dahulu bernama J.P. Coenplein ini. Posisinya tercerabut dari tempat asalnya terpasang sebelumnya.

Ia menuturkan, pihaknya mengapresiasi pelaksana proyek karena sudah berupaya menjaga keutuhan memorial tersebut.

Dia menjelaskan, memorabilia itu sebenarnya merupakan bangku kenangan peninggalan keluarga Tonko Oosterhuis, yang dapat dilihat di permukaan balok-balok tersebut yang terukir dan tertulis : ‘Bapak Tonko Oosterhuis’, ‘Malang in memory of’, ‘Jan’ dan ‘Johan’, disertai masing-masing tanda logam, dimana tanda logam tersebut menandakan lokasi kelahiran dan kematian dari nama-nama tersebut.

“Lalu siapakah Bapak Tonko, Jan dan Johan dari keluarga Oosterhuis ini? Nah, Tonko Oosterhuis yang lahir di Westerlee (Scheemda) tanggal 7 Oktober 1896 dan wafat pada 3 Desember 1943 di Teluk Ambon pada geladak kapal Nichinan Maru adalah seorang prajurit KNIL bertugas di Kalabahi, Alor,” terangnya.

Ditambahkan Indra, Tonko memulai karir militernya pada tahun 1921 di kesatuan tentara kolonial cadangan, yang dinas terakhirnya di Batalyon Infantri 8 Rampal.

Pada tahun 1925 ia menikah dengan Aletta Toepa, putri seorang kepala sekolah dari  Timor yang bertugas di pulau itu. Dua anak pertama lahir di sana. Setelah beberapa kali mutasi ke Waingapu (Sumba), Cimahi, Surabaya dan Samarinda, akhirnya ia promosi naik pangkat menjadi letnan infantri KNIL. Di Malang Tonko bertugas sebagai staf Batalyon Infantri VIII.

Singkat cerita, saat setelah tentara kolonial menyerah dan dilucuti pada Invasi Jepang yang masuk Malang tanggal 9 Maret 1942, dia diinternir sebagai tawanan perang di kamp interniran Divisi ke-3, yang kemudian dipindahkan ke Surabaya.

“Tonko Oosterhuis tergabung di kapal yang akan membawanya ke Seram, yang pertama-tama harus bekerja paksa atau romusha di Amahei dalam kondisi yang sangat buruk untuk membangun bandara. Setelah pembangunan itu selesai pada Oktober 1943, mereka dipindahkan ke Paloa di pulau Haruku. Banyak terjadi kematian dan sakit parah pada tawanan perang, sebagai akibat dari kondisi yang tidak manusiawi dan mengharuskan mereka bekerja paksa. Pimpinan Jepang memutuskan setelah mengembalikan mereka ke Jawa,” bebernya.

Dikatakan Indra, Tonko Oosterhuis termasuk yang sakit parah. Beberapa kapal Jepang yang akan memulangkan tawanan perang ke Jawa ditambatkan di Teluk Ambon, termasuk diantaranya adalah SS “Suez Maru” dan SS “Maros Maru”. Bagi yang sakit paling parah, termasuk Tonko Oosterhuis, menumpang di kapal yang lebih kecil, SS “Nichinan Maru”.

Ia meninggal pada tanggal 3 Desember 1943 pukul 11.00 di geladak kapal tersebut akibat disentri hebat berdasarkan manifes berita acara penyebab wafatnya, dan dimakamkan di darat oleh penduduk setempat.

Putra tertuanya, Swier Johannes Oosterhuis alias Johan yang lahir di Kalabahi, 1927, juga tidak selamat saat pendudukan Jepang berlangsung.

Ia dengan tiga temannya HBS ditangkap oleh Kempeitai (polisi militer Jepang) di kamp interniran Jalan Welirang 43 pada tahun 1944 karena dicurigai melakukan aksi perlawanan.

Mereka dihukum karena diduga memberi isyarat pada pesawat Sekutu yang mengudara di langit Malang, dengan senter.

Dua bulan sebelum Jepang menyerah, ia meninggal di penjara Lowokwaru, Malang tanggal 25 Juni 1945 pada usia 18 tahun.

Sementara ibu Aletta Toepa, sebagai seorang janda dengan enam anak, pergi ke Belanda pada September 1946, keluarganya ditampung oleh keluarga mendiang suaminya.

Dia meninggal pada tahun 1978 di Heerenveen. Pada tahun 2003 anak laki-laki lainnya, Jan Oosterhuis, yang lahir di Cimahi pada tahun 1933, wafat pula di Indonesia karena mengalami serangan jantung saat berenang di Labuhan Bajo, sekitar Pulau Komodo.

“Untuk mengenang anggota keluarga yang meninggal di Hindia Belanda, dalam hal ini di Indonesia, anak-anak yang masih hidup dan saudara dari ibu mereka menempatkan sebuah bangku peringatan penuh kenangan di Malang, sebagai bentuk hubungan emosional dengan ‘tanah air’ ibunya,” ungkapnya.

Bangku kenangan berupa 3 balok batu tersebut, dengan seizin Pemerintah Kota Malang, karena diletakkan di ruang publik Alun-alun Tugu, telah diserahkan bagi warga Malang sejak tahun 2016.

Indra menguraikan, konon bangku batu tersebut dirancang salah satu saudara Ibu Aletta Toepa, yakni Luiz Wilson yang juga seorang arsitek.

Bangku dirancang ergonomis, dalam artian disesuaikan dengan postur tubuh orang Indonesia, dengan kontruksi alas yang tidak menampung air saat terkena hujan, dan diletakkan di posisi yang strategis di Alun-alun Tugu.

“Kalau sekarang istilahnya supaya Instagramable, karena jika untuk dipakai untuk berpotret, akan tampak facade Balai Kota, sebagai latar belakang. Sedangkan apabila kita duduki, posisi kita akan tepat segaris dengan ‘sumbu imajiner’ Balaikota-Tugu-Idenburgstraat (sekarang Jalan Suropati) dengan ujung pandang di Gunung Arjuno, sembari mengenang di latar kanan depan bangunan HBS-AMS Malang, tempat sekolah Johan, anak sulung Tonko Oosterhuis,” tandasnya.

Pengamat sejarah kereta api ini mengaku bahwa keberadaan bangku maupun sejarah dari keluarga Tonko memang tidak terkait langsung dengan Monumen Tugu Kemerdekaan yang dibangun setahun setelah kemerdekaan Indonesia dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 Mei 1953.

Namun Indra berharap semoga eksistensi bangku kenangan tersebut mendapat perhatian dari dinas pembuat komitmen, pelaksana revitalisasi dan pihak berkompeten.

“Sehingga komitmen antara pemberi memorabilia ini dengan pemerintah kota pada tahun 2016 lalu tetap terjaga, mengingat maksud, nilai memori dan latar belakang bangku kenangan tersebut,” tutupnya.

Terpisah, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Rakai Hino Galeswangi mengaku, pihaknya sementara ini belum memberi banyak komentar terkait memorabilia itu.

”Kami paham keberadaan bangku tersebut, namun sebagai pelengkap kawasan jika ditinjau dari sejarahnya. Balok tersebut masih tergolong baru yakni buatan tahun 2016, sehingga masih bisa disebut sebagai objek yang diduga cagar budaya (ODCB),” ungkapnya.

Menurut Rakai Hino, ia lebih fokus kepada proses pembongkaran alun-alun yang belum berkoordinasi dengan pihaknya.

“Saya baru diajak rapat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Malang pada Selasa, 4 Juli siang ini di Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang,” ujarnya.

Rakai Hino mengungkapkan ketidakpuasannya atas jawaban pihak DLH yang menyatakan bahwa revitalisasi alun-alun Tugu ini akan dibawa kembali ke nuansa tahun 1970an.

“Proses revitalisasi ini seharusnya lebih mengangkat memori kolektif dari Monumen Tugu itu sendiri, yakni perjuangan bangsa, sebagai wujud kebebasan Indonesia dari dominasi kolonialisme Belanda,” tegasnya.

Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 313 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kolaborasi ABPEDNAS dan Kejari Malang Wujudkan Pengawasan Dana Desa

2 Mei 2026 - 23:22 WIB

Sabuk Kamtibmas 2026 Digelar Serentak, Polsek Jajaran Polres Batu Gandeng Elemen Masyarakat Jaga Kondusivitas

2 Mei 2026 - 21:07 WIB

Honda Beat Raib, Maling Gunakan Air Keras dan Oli demi Bobol Pagar Tanpa Suara

2 Mei 2026 - 15:14 WIB

Tertibkan Daycare Ilegal, Faza: Jangan Taruh Nyawa Anak di Tempat Tak Berizin

2 Mei 2026 - 11:40 WIB

Setetes Darah, Sejuta Harapan: Donor Darah Sukarela di Pakisaji Disambut Antusias Warga

1 Mei 2026 - 21:50 WIB

Alarm CCTV Berbunyi, Aksi Pencurian di Watugede Singosari Gagal Total

1 Mei 2026 - 14:51 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !