BACAMALANG.COM – Speakeasy, merupakan salah satu konsep bar dari era Prohibisi di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Saat itu warga Amerika cukup sulit untuk berkumpul atau hangout dan mendapatkan minuman beralkohol, sehingga konsep ini juga kerap disebut sebagai Hidden Bar.
Namun di tengah sengitnya persaingan bisnis Food & Beverage (F&B) dan hiburan di Kota Malang, The Shalimar Boutique Hotel, salah satu hotel bintang lima di kota ini menghadirkan “Prancing Sorrel”, sebuah terobosan baru sebagai Speakeasy Bar pertama di Jawa Timur.
Seperti konsep awalnya, Prancing Sorrel siap menantang setiap orang untuk menemukan lokasinya, karena sebagai “bar tersembunyi“ yang tidak mudah ditemukan.
Bar berkapasitas untuk 35 orang ini terletak di jantung Kota Malang, yang menawarkan suasana eksklusif dan misterius.
Aksesnya tidak mudah ditemukan oleh sembarang orang, sama seperti speakeasy bar di masa lalu.
Apalagi bar ini memiliki pintu masuk rahasia atau memerlukan reservasi untuk dapat masuk, yang menambah elemen kejutan dan eksklusivitas bagi pengunjungnya.

Aloysius Raynald, peracik utama minuman di Prancing Sorrel siap meracik cocktail di bar yang yang dirancang dengan detail khas era Prohibisi di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. (Nedi Putra AW)
Managing Director dan Owner Prancing Sorrel Lily Jessica Tjokrosetio menuturkan, dari segi tata bahasa, Prancing Sorrel dapat diartikan sebagai suatu gambaran visual estetika yang hidup dan ceria, dapat diartikan juga sebagai berjingkrak coklat kemerah-merahan.
“Nama Prancing Sorrel ini diilhami dari kuda kesayangan saya, yang menggambarkan semangat juang tinggi, dan selalu dapat memenangkan pertandingan dalam setiap kompetisi yang diikuti,” ungkapnya di sela acara pembukaan bar tersebut, Jumat (12/7/2024).
Lily sengaja menghadirkan Prancing Sorrel untuk lebih memberikan gambaran semangat juang dan karakteristik yang kuat, serta siap meramaikan Kota Malang dengan hiburan baru yang lebih bervariasi.
Dari segi desain interior, Prancing Sorrel menghadirkan nuansa klasik dengan sentuhan modern yang elegan.
Ada lampu-lampu redup, furnitur bergaya elegan, serta bar yang dirancang dengan detail khas era Prohibisi, di mana semuanya menghadirkan atmosfir yang mendalam dan misterius. Bar ini juga menawarkan privasi bagi pengunjungnya.
Lily berkomitmen dalam setiap bisnis yang dilakukan, untuk terus melestarikan sejarah seperti apa yang telah dilakukan di bisnis hotelnya, yang merupakan hotel heritage di Kota Malang.
Lily bahkan menghadirkan kuda kesayangannya, Prancing Sorrel langsung dari Surabaya di Taman Cerme yang berada di area The Shalimar Boutique Hotel.

Prancing Sorrel menghadirkan nuansa klasik dengan sentuhan modern, lampu-lampu redup serta furnitur bergaya elegan. (Nedi Putra AW)
“Sengaja saya tunjukkan betapa elegannya kuda ini sehingga menjadi inspirasi saya untuk bar yang baru. Saya juga mendatangkan kuda saya lainnya Desert Rose, yang menjadi salah satu Signature Menu di sini,” ungkap wanita yang juga penyayang anjing dan kucing ini.
Menu minuman yang ditawarkan juga merupakan kombinasi yang unik antara koktail klasik dengan kreasi-kreasi modern yang menarik.
Aloysius Raynald, peracik utama minuman di Prancing Sorrel, menghadirkan hawa baru bagi pecinta minuman koktail di kota Malang.
Sebut saja Desert Rose, yang merupakan racikan Moroccan Mint Tea Infused Jim Beam Bourbon, Pistachio, Lemon, Rose-Saffron Foam.
Atau Ume Sour yang terdiri dari Oolong Infused Johnnie Walker Black Label, Umeshu, Ginger, Lemon, Aromatic Bitters serta Thai Tea Vardier dari racikan Maker’s Mark Bourbon, Campari, Sweet Vermouth, Thai Tea Milk Washed, Cocoa Bitters dan masih banyak lagi.
“Kami tidak hanya menyajikan koktail klasik, tapi juga menghadirkan kombinasi yang tidak akan dibayangkan sebelumnya, seperti menghasilkan cita rasa umami dalam koktail,“ ujar Food & Beverage Manager yang akrab disapa Ray ini.
Pria yang lolos babak 4 besar salah satu ajang kompetisi bergengsi bartender di seluruh dunia World Class Competition Indonesia ini menambahkan, Prancing Sorrel fokus pada koktail untuk edukasi pada segmen orang yang belum pernah minum whisky, khususnya bagi kaum muda.
“Karena selama ini whisky kerap diidentikkan sebagai minuman orang tua,” ungkapnya.
Namun Ray mengingatkan, bahwa sebagai “bar tersembunyi“ yang eksklusif dan misterius, Prancing Sorrel ini tentunya hanya dapat dikunjungi oleh tamu dengan batas usia tertentu.
“Kami menyarankan tamu yang berkunjung sudah berusia minimal 25 tahun,” tegas dia.
Sementara Corporate General Manager Grace Syiariel menambahkan, Prancing Sorrel adalah pilihan tepat untuk menghabiskan waktu luang, berbincang santai dengan kolega, serta tempat sejenak beristirahat dari penatnya rutinitas.
“Kenapa bukan kafe tapi bar, karena kami melihat Kota Malang sebagai destinasi wisata sudah berkembang dan unik. Nah, bar ini menjadi satu hub yang bukan hanya untuk party tapi juga networking atau bincang bisnis dengan hangout di sini,” tandasnya.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki




















































