Buka Gerai ke-8 di Sulfat Kota Malang, The Daily Wash Laundromat Tawarkan Bisnis Laundry Koin

Rudi Sudianto di gerai TDWL Sawojajar miliknya, Sabtu (2/7/2022). (ned)

BACAMALANG.COM – Laundry atau mencuci baju dengan mesin saat ini menjadi bisnis yang cukup menjanjikan. Bisnis ini cukup menjamur, terutama di perkotaan, karena bagaimanapun juga mencuci baju adalah kebutuhan dasar masyarakat.  Seperti gerai The Daily Wash Laundromat (TDWL) di Jalan Sulfat, Blimbing Kota Malang yang baru diresmikan, Sabtu (2/7/2022).

“Tarif murah serta hasil yang lebih memuaskan daripada mencuci sendiri di rumah memang menjadi pilihan bagi orang-orang di perkotaan,” ungkap CEO TDWL dari PT Anugerah Lima Semesta Herlambang Prayatno di sela acara pembukaan yang menawarkan gratis cuci selama 3 hari ini.

Herlambang menambahkan, bisnis laundry kiloan saat ini sudah sangat populer di tengah masyarakat sejak sekitar 15-20 tahun terakhir. Bisnis ini berawal dari Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota pelajar dan mahasiswa.

“Namun kami menghadirkan laundry koin, yakni service Cuci Kering dan Lipat menggunakan sistem pembayaran koin. Pelayanan 1 mesin 1 customer, dengan proses hanya sekitar 1,5 jam saja, dan yang pasti dengan harga yang terjangkau, yakni rata-rata hanya Rp. 2.800 per kg” ungkapnya.

Herlambang mengatakan, laundry koin ini mulai dikenal di Indonesia mulai tahun 2016. “Sementara kami mengembangkan bisnis ini pada 2018, dan alhamdulillah hingga hari ini sudah ada 149 gerai di Indonesia, yang  tersebar di 15 provinsi dan 30 kota, dimana yang di jalan Sulfat ini merupakan gerai yang ke-8 di Kota Malang,” bebernya.

Mengusung tagline Mencuci Lebih Higienis, Lebih Cepat dan Lebih Murah, tukasnya, TDWL menawarkan kerjasama untuk berinvestasi di bisnis laundry koin. “Mengapa, karena selain mencuci adalah kebutuhan dasar manusia, bisnis ini terbukti sebagai bisnis yang stabil, bertahan, sedikit stock dan pegawai dan anti resesi. Saat pandemi kemarin kami justru mengembangkan 63 cabang baru,” ungkapnya.

Sebagai Franchisor atau pemberi waralaba, ada tiga model kerjasama yang ia tawarkan kepada para mitra. Pertama Paket Bisnis, dimana 100 persen menjadi usaha milik Franchisee atau penerima waralaba. “Kemudian ada kerjasama lokasi, jadi jika ada yang punya ruko yang tidak terpakai namun memenuhi sejumlah kriteria kami, seperti lokasi, lingkungan dan sebagainya, maka bisa dilanjutkan kerjasama dalam bisnis laundry TDWL ini,” terangnya.

Rudi Sudianto di gerai TDWL Sawojajar miliknya, Sabtu (2/7/2022). (ned)

Sementara yang ketiga adalah kerjasama bisnis dari beberapa orang yang diikat dalam bentuk legal bersama Franchisor. Namun Herlambang mengaku, modal dalam bisnis laundry TDWL ini tidak murah, karena dibutuhkan sedikitnya 400 hingga 500 jutaan rupiah. “Itu belum termasuk sewa tempat, daya listrik dan pompa air. Tapi jangan khawatir, selain tiga hal tersebut, kami sudah support hampir semuanya, mulai analisa lokasi, desain ruangan, training, instalasi, konsultasi, program marketing hingga monitoring,” jelasnya.

Herlambang yakin bisnis laundry ini adalah salah satu yang tetap menjanjikan. “Apalagi kami menyasar masyarakat menengah ke bawah,” tegasnya.

Namun ia memberi saran agar masyarakat tetap selektif mencari franchisor yang tepat untuk memulai bisnis ini. “Cari yang legal, berpengalaman minimal 5 tahun dan mampu memberi support yang memadai kepada para mitranya,” tutup Herlambang.

Rudi Sudianto, yang membuka dua gerai TDWL di Kota Malang mengaku cukup lancar dalam mengelola bisnis laundrynya. “Memang waktu pandemi kemarin sempat bingung karena sepi, tapi syukurlah sekarang sudah mulai ramai lagi,” ungkapnya saat ditemui di gerai TDWL Sawojajar miliknya.

Rudi mengatakan, sistem pencucian yang relatif murah, cepat dan kering 100 persen membuat gerainya kerap didatangi para pelaku laundry konvensional atau kiloan yang mencucikan sebagian ordernya. “Apalagi sekarang mahasiswa sudah mulai datang lagi, sehingga ada harapan laundry kami akan ramai lagi,” tandas pria yang juga membuka gerai di kawasan Dinoyo ini. (ned)