BACAMALANG.COM-Kegiatan “Let’s Talk NGOPI SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media) yang digelar Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) mengusung konsep “ngobrol dan ngopi santai”, dengan tujuan membangun komunikasi yang lebih terbuka dan akrab dengan media massa.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam penyebarluasan informasi mengenai capaian akademik, riset, inovasi, hingga berbagai program pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan FSTeM UB.
Pada edisi Sabtu (25/7/2026), acara yang dihelat di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung Layanan Sains dan Inovasi Hayati (LSIH) UB tersebut menghadirkan Guru Besar Departemen Fisika UB, Prof. Chomsin S. Widodo dan Ketua Ikatan Alumni (IKA) FSTeM UB.
Yudiono S. Si.
Yudiono menyoroti peran ilmu kimia sebagai bekal adaptasi alumni dalam berkarier baik linier maupun nonlinier. Sedangkan Prof. Chomsin S. Widodo memaparkan peran Laboratorium Fisika Medis dan Biofisika Jurusan Fisika FSTeM UB melalui grup riset AI for Medical Physics, yang mengembangkan serangkaian sistem diagnostik medis berbasis artificial intelligence (AI), sehingga dapat dijelaskan dengan lebih akurat, dan objektif, seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan saat ini.
Guru Besar Fisika Medis dan Radiologi dari Departemen Fisika FSTeM UB ini menjelaskan, bahwa salah satu inovasi unggulan yang dikembangkan adalah sistem diagnosis kardiomegali atau pembesaran jantung berbasis citra sinar-X dada.
Sistem tersebut memanfaatkan arsitektur UBNet-Seg yang ringan dan telah dioptimalkan untuk melakukan segmentasi paru secara otomatis sekaligus menghitung Cardiothoracic Ratio (CTR). Apabila nilai CTR melebihi 0,50, sistem akan mendeteksi indikasi kardiomegali berdasarkan parameter anatomis yang jelas sehingga hasil analisis lebih mudah dipahami.
Selain pengolahan citra medis, imbuhnya, tim riset FSTeM UB juga mengembangkan teknologi AI untuk analisis sinyal biomedis. Salah satunya melalui penelitian retrospektif cross-sectional menggunakan data pasien RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 2022–2025 guna meningkatkan objektivitas diagnosis polineuropati.
“Model tersebut menganalisis berbagai parameter kompleks, mulai dari raw waveform, amplitudo, latensi, kecepatan konduksi saraf, hingga F-wave pada saraf sensorik maupun motorik sehingga mampu memberikan hasil analisis yang lebih komprehensif,” ujar Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa di FSTeM UB ini.
Tim peneliti juga mengembangkan model klasifikasi otomatis tingkat keparahan radikulopati lumbosakral menggunakan data sebanyak 706 pasien. Model AI tersebut mampu mengelompokkan kondisi pasien ke dalam kategori mild, moderate, maupun severe berdasarkan analisis sinyal Nerve Conduction Study (NCS) pada saraf Peroneal, Tibial, dan Sural.
Di bidang radiologi, FSTeM UB juga melakukan penelitian untuk meningkatkan keselamatan pasien saat menjalani pemeriksaan mamografi digital. Melalui riset eksperimental menggunakan Phantom ACR, tim peneliti mengoptimalkan berbagai parameter eksposi, seperti tegangan tabung (kV), arus-waktu (mAs), kombinasi target dan filter, hingga mode Automatic Exposure Control (AEC).
Penelitian tersebut turut menganalisis Mean Glandular Dose (MGD) serta melakukan ekstraksi fitur radiomik menggunakan perangkat lunak PyRadiomics. Langkah ini bertujuan menjaga paparan radiasi tetap aman tanpa mengurangi kualitas citra diagnostik yang dibutuhkan dokter.
Pemilik nama lengkap Chomsin Sulistya Widodo ini menjelaskan, bahwa seluruh penelitian di Laboratorium Fisika Medis dan Biofisika FSTeM UB dilakukan melalui tahapan ilmiah yang komprehensif. Mulai dari akuisisi dan kurasi data klinis, pengolahan citra serta sinyal biomedis, segmentasi objek anatomis, ekstraksi fitur, hingga pengembangan model machine learning dan deep learning.
Menurutnya, keberhasilan berbagai inovasi tersebut tidak terlepas dari kolaborasi erat antara perguruan tinggi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Seluruh penelitian dijalankan melalui sinergi bersama rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi, mengembangkan perangkat lunak yang siap diterapkan, mendukung pendidikan mahasiswa, sekaligus menghadirkan implementasi nyata teknologi AI sebagai upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Prof. Chomsin menilai bahwa di dunia medis kini tidak lagi sebatas memberikan hasil akhir diagnosis, melainkan dituntut untuk transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara klinis. Dari uraian tersebut, salah satu yang ditekankan Prof. Chomsin adalah masih besarnya peluang pendidikan profesi fisikawan.
“Alumni kami banyak bekerja di rumah sakit (RS) karena banyak peralatan medis yang terkait radiasi. Meski tugasnya di bawah dokter spesialis radiologi misalnya, namun perannya sangat penting dalam menjaga peralatan sesuai peraturan Kementerian Kesehatan,” ungkapnya.
Namun jumlah fisikawan medis di Indonesia hingga kini dinilai masih belum sebanding dengan kebutuhan rumah sakit di berbagai daerah, sehingga masih terbuka lebar peluang karier bagi lulusan fisika medis, mengingat masih banyak RS yang masih membutuhkan banyak tenaga profesional.
Ternyata, di balik berbagai inovasi kecerdasan buatan (AI) di bidang fisika medis yang dikembangkannya, Prof. Chomsin memiliki perjalanan karier yang tidak biasa. Tak banyak yang mengetahui bahwa alumnus Fakultas MIPA UB angkatan 1989 ini merupakan seorang aktivis kampus. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dan terjun ke berbagai aksi demo justru menjadi bekal penting yang membentuk karakter dan cara berpikirnya sebagai akademisi.
“Rasa ingin tahu, tak segan bertanya ke sana-sini ternyata menjadi modal berharga saat bekerja,” ungkapnya.
Prof. Chomsin mengisahkan, semasa kuliah dirinya aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kelas. Aktivitas tersebut membuatnya beberapa kali tidak dapat mengikuti perkuliahan secara penuh. Apalagi kecepatan dan keterbatasan perangkat komunikasi dalam memyampaikan informasi maupun kejadian-kejadian pada masa Orde Baru tersebut jelas jauh berbeda dengan kondisi sekarang.
Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar.
“Kita harus tahu kapan beraktivitas, dan kapan harus fokus kembali untuk studi,” tegas Prof. Chomsin.
Bahkan, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, dirinya sempat berjualan beras sebelum akhirnya melanjutkan studi hingga meraih gelar magister, doktor, dan profesor.
Menurutnya, pengalaman sebagai aktivis melatih kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, serta membangun jejaring dengan berbagai kalangan. Kemampuan tersebut terbukti sangat bermanfaat ketika pandemi Covid-19 melanda dan kolaborasi lintas disiplin menjadi kebutuhan utama.
“Saya merasa lebih luwes ketika harus bertemu para dokter, bisa bertanya apa saja kebutuhan dari peralatan medis yang ada,” ujar dosen yang menempuh pendidikan doktor di Kumamoto University, Jepang, tersebut.
Kemampuan memahami kebutuhan praktis di lapangan itulah yang kemudian mendorong lahirnya berbagai riset terapan di bidang fisika medis dan radiologi, sekaligus mengantarkan dirinya dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Fisika Medis dan Radiologi Universitas Brawijaya pada awal 2025.
Dalam proses mengajar, Prof. Chomsin juga menerapkan pendekatan yang berbeda kepada mahasiswa. Ia lebih menekankan kemampuan berpikir analitis dan komunikasi dibandingkan sekadar menghafal teori.
“Oleh karena itu saya lebih banyak mengajari mahasiswa lewat mind mapping, komunikasi, dan analitik, bukan hanya hafalan semata,” pungkasnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































