BACAMALANG.COM – Ilmu kimia tidak hanya berbicara tentang reaksi di laboratorium, tetapi juga mengajarkan cara berpikir yang adaptif dalam menghadapi dinamika kehidupan dan dunia kerja. Pandangan tersebut disampaikan Ketua Ikatan Alumni (IKA) Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Yudiono, S.Si., saat menjadi narasumber dalam kegiatan “Let’s Talk NGOPI SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media)”, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang digelar di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung Layanan Sains dan Inovasi Hayati (LSIH) UB itu menjadi ruang diskusi santai antara sivitas akademika dan insan pers. Acara juga diselenggarakan secara hybrid melalui platform Zoom.
Selain Yudiono, forum tersebut menghadirkan Guru Besar Departemen Fisika UB, Prof. Chomsin S. Widodo. Keduanya berdialog mengenai berbagai isu strategis di lingkungan FSTeM sekaligus berbagi pandangan mengenai pengembangan fakultas dan peran alumni.
Yudiono menjelaskan bahwa IKA FSTeM UB, yang sebelumnya bernama IKA Fakultas MIPA UB, telah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada tahun lalu sebagai langkah memperkuat hubungan alumni dengan almamater sekaligus menyusun strategi pengembangan fakultas.
Sebagai alumnus S1 Kimia, Yudiono menilai ilmu dasar memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar kepentingan akademik.
“Kehidupan manusia sehari-hari tidak pernah terlepas dari sentuhan unsur-unsur kimia. Mulai dari apa yang kita makan, minum, pakaian, laptop, komputer hingga gawai pada dasarnya mengandung unsur kimia,” ujarnya.
Menurutnya, pembelajaran ilmu kimia di bangku kuliah membentuk pola pikir yang kuat sehingga lulusannya mampu beradaptasi di berbagai bidang pekerjaan. Bahkan, prinsip-prinsip dasar kimia memiliki nilai filosofis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai filosofis dari prinsip dasar kimia yang diterapkan ke dalam kehidupan nyata itu menjadi rahasia adaptasi. Sebuah daya tahan yang dipengaruhi oleh pemahaman prinsip keseimbangan dan teori polarisasi,” jelas praktisi industry tersebut.
Yudiono menerangkan, konsep keseimbangan reaksi dan teori polarisasi dapat dimaknai sebagai kemampuan menjaga harmoni, menghargai perbedaan, serta beradaptasi dengan berbagai situasi, baik di lingkungan kerja maupun kehidupan sosial.
Asisten Quality Manager PT PQ Silicas Indonesia itu juga membagikan kiat bagi para lulusan baru dalam menghadapi dunia kerja. Menurutnya, bagi pekerjaan yang linier dengan bidang studi, prestasi akademik dan penguasaan keilmuan memang menjadi pertimbangan utama.
Namun, untuk bidang nonlinier seperti sales, pemasaran, maupun manajemen, kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi justru menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan.
“Kompetensi seperti teamwork, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi sebagai perwujudan dari keseimbangan filosofi ilmu dasar kimia akan lebih dibutuhkan jika melamar di bidang nonlinier, tanpa harus selalu menggunakan bahasa teknis kimia,” tegasnya.
Ia mencontohkan salah seorang rekannya yang tidak terlalu menonjol secara akademik, tetapi berhasil membangun karier hingga menduduki posisi direktur perusahaan setelah mengawali perjalanan sebagai tenaga penjualan/sales.
Yudiono mengaku sempat bercita-cita menjadi guru atau dosen karena berasal dari keluarga pendidik. Namun, setelah lulus kuliah, ia memilih bekerja di sektor industri karena telah lebih dahulu diterima di perusahaan swasta.
Meski demikian, ia merasa perannya saat ini tetap tidak jauh berbeda dengan profesi pendidik.
“Ternyata apa yang saya lakukan saat ini pun sama saja seperti guru atau dosen, baik ketika diundang menjadi pemateri atau dosen tamu, maupun saat mengoordinasikan sedikitnya 1.200 alumni FSTeM UB saat ini,” pungkasnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































