BACAMALANG.COM – Perkembangan zaman, khususnya di era seperti sekarang ini menuntut pasar rakyat atau yang biasa disebut pasar tradisional, untuk lebih kreatif dan inovatif. Sebagai pemantiknya, sejumlah pasar telah tersentuh program revitalisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang melalui OPD Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, yang bertujuan salah satunya, untuk menghidupkan kembali pasar-pasar rakyat yang mati suri.
Dampaknya memang terasa, karena make over tersebut membuat beberapa pasar sudah lebih bersolek dan tampak lebih bersih.
Selain lebih nyaman untuk berbelanja, efek lainnnya adalah bisa membuka kesempatan orang untuk membuka lapak baru, khususnya di bidang kuliner.
Meski demikian, kebanyakan para pedagang atau wirausahawan membuka usahanya di sisi luar pasar, tentunya dengan alasan lebih mudah dilihat dan dijangkau konsumen.
Peluang ini dimanfaatkan pengusaha Didik Sapari dengan membuka warung makan di dalam area pasar Klojen Kota Malang.
Warung yang beroperasi di salah satu bagian bedak pasar itu diberi nama Eng Ing Eng, yang resmi beroperasi mulai Sabtu (10/2/2024).

Mengusung menu halal melayu-china, Warung Eng Ing Eng juga diberi dekorasi bernuansa oriental. (Nedi Putra AW)
Kepada BacaMalang.com, Didik mengatakan bahwa konsep warungnya adalah menggairahkan orang untuk berbelanja di dalam pasar rakyat.
“Khusus di pasar Klojen ini, di mana sebenarnya sudah ada beberapa warung, salah satunya nasi pecel yang legendaris, dan biasanya orang jualan kuliner yang relate dengan pasar, seperti jajanan tradisional, namun saya coba menghadirkan sesuatu yang lain,” ungkapnya, Minggu (11/2/2024).
Didik menyajikan konsep makanan halal melayu-china atau yang biasa disebut dengan kuliner peranakan. Mulai Cwi Mie, Nasi Telur, Bakmoy, hingga Sup Wonton dan Dim Sum.
Selain itu ia sengaja memanfaatkan momen Imlek untuk pembukaan warungnya dengan mengusung suasana dekoratif China yang meriah, agar eye catching, dan sesuai dengan menu-menu yang ditawarkan.
“Agar kesan orientalnya kuat, saya pakai nama Eng Ing Eng, mengacu pada nama awal sebuah klenteng tertua yang sudah dikenal di Malang, walaupun sebenarnya itu adalah jargon salah satu iklan di televisi pada era 80-an. Selain itu saya sengaja mengambil logo ayam bertelur, karena selain menu-menu di sini kebanyakan berbahan dasar telur, proses ayam itu sendiri saat bertelur merupakan filososi kuat sebuah usaha dan kerja keras,” urai owner warung kopi Klodjen Djaja 1956 ini.
Didik mengaku, konsep warungnya juga sebagai upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.
Sebagian bumbu dapur dan bahan-bahannya ia beli dari lapak-lapak di pasar tersebut. Ia juga mengaku mendapat dukungan dari sejumlah pedagang di sekitarnya.
“Karena meski baru dua hari beroperasi, setidaknya banyak orang yang mulai tertarik untuk masuk ke dalam pasar, khususnya dari kalangan muda, mengingat promo yang dilakukan selama ini adalah melalui sejumlah platform media sosial,” ujarnya.
Didik optimistis, warung yang dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB ini dapat menjadi satu alternatif wisata kuliner di dalam pasar rakyat.
“Harapannya bisa lebih menghidupkan pasar dengan menarik perhatian orang untuk masuk dan berbelanja di dalamnya,” tandasnya.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki





















































