BACAMALANG.COM – Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) terus mengembangkan inovasi berbasis teknologi untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Salah satu inovasi terbarumya adalah Layanan Teknologi Real-Time untuk Ayam (LENTERA), sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas peternakan ayam.
LENTERA adalah bagian dari upaya Universitas Brawijaya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Peresmian AI Center dan Data Center di UB pada Minggu (5/1/2025) oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menjadi momentum penting untuk memperkuat pengembangan teknologi seperti LENTERA.
Meutya Hafid menyatakan bahwa teknologi berbasis AI di sektor peternakan memiliki potensi besar untuk mendukung program pemerintah.
Penggagas LENTERA, dosen Fakultas Peternakan UB, Danung Nur Adli, SPt., MSc., MPt., menyampaikan, bahwa inovasi ini sebagai solusi modern bagi peternak kecil.
“LENTERA ini awalnya kami kembangkan karena saya melihat sistem peternakan di Indonesia masih banyak yang konvensional setelah bekerja di startup. Padahal, keadaan suhu di Indonesia sering tidak menentu contohnya di pagi hari dingin, sebaliknya di siang hari tiba-tiba panas. Hal ini membuat ayam mudah stres, sehingga memengaruhi produktivitasnya,” ungkap Danung belum lama ini
Dikatakan Danung, LENTERA memanfaatkan teknologi IoT untuk memantau suhu, kelembapan, serta konsumsi pakan ayam secara real-time. Data tersebut dapat diakses langsung melalui aplikasi di smartphone.
“Sistem ini dirancang untuk menjawab kebutuhan generasi peternak milenial yang semakin akrab dengan teknologi digital ” imbuhnya.
Menurut Danung, peternak zaman sekarang sudah banyak yang menggunakan HP. Melalui LENTERA, mereka dapat memantau kondisi ayam dari mana saja tanpa perlu masuk ke kandang.
“Ini tentunya akan lebih memudahkan dan lebih efisien,” tukasnya.
Selain memantau kondisi kandang, LENTERA juga memiliki kemampuan otomatisasi. Misalnya, jika suhu kandang terlalu tinggi, sistem akan langsung mengaktifkan kipas pendingin untuk menjaga suhu tetap ideal.
“Kalau suhu idealnya 32 derajat tapi ternyata mencapai 38 derajat, maka sistem akan otomatis menurunkan suhu dengan kipas pendingin. Itu yang sedang kami fokuskan ke depannya,” tambahnya.
Danung menuturkan, LENTERA dikembangkan dengan fokus utama membantu peternak kecil agar dapat bersaing dengan peternak besar.
Teknologi ini diadaptasi untuk sistem open house, yang cenderung lebih rentan terhadap perubahan suhu dibandingkan sistem closed house.
“Kami ingin bagaimana peternak kecil bisa tetap bersaing. Segmentasi kami adalah peternak kecil karena mereka sering menghadapi tantangan dalam menjaga produktivitas,” tegas Danung.
Saat ini, prototipe LENTERA telah diuji coba di laboratorium in vivo di Karangploso. Uji coba tersebut bertujuan mengukur dampak pengaturan suhu terhadap berat badan ayam.
Jika suhu kandang nyaman, ayam cenderung lebih banyak makan daripada minum, yang berpengaruh langsung pada kenaikan bobot badannya.
Pengembangan LENTERA melibatkan kolaborasi lintas fakultas, terutama dengan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB.
Dosen FILKOM Tirana Noor Fatyanosa, S.Kom., M.Kom., Ph.D., menjelaskan perannya dalam pengembangan teknologi AI tersebut.
“Kami mengembangkan model prediktif berbasis machine learning yang memproses data suhu, kelembapan, dan konsumsi pakan secara real-time. Model ini dapat memberikan rekomendasi atau bahkan mengatur kondisi kandang secara otomatis untuk mencapai hasil optimal,” ujar Tirana.
FILKOM juga menyediakan dukungan teknis berupa server untuk memproses data yang dihasilkan oleh sistem IoT.
Teknologi ini memungkinkan integrasi data dari berbagai sensor di kandang, sehingga memberikan analisis yang lebih mendalam terkait produktivitas ternak.
Tirana mengungkapkan bahwa dalam pengembangan teknologi berbasis AI akan memiliki tantangan tersendiri, karena mengambil data dari perangkat IoT itu real-time, maka harus dipastikan bahwa data tersebut akurat. Permodelan AI juga perlu disesuaikan dengan karakteristik data yang diperoleh.
“Tantangan lain juga bisa dilihat pada processing data yang mana data mentah yang kita dapatkan perlu dibersihkan, diolah, agar bisa digunakan secara optimal oleh model AI,” paparnya.
Tirana menambahkan, dalam proyek LENTERA biaya pengembangan teknologi ini sudah tergolong sepadan dengan manfaat yang dihasilkan.
“Cost pengembangan teknologi ini sudah termasuk worth it mengingat manfaat yang dihasilkan besar, terutama dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas peternakan. Jadi, kalau bisa kita optimalisasi microclimate di dalam kandang, otomatis akan meningkatkan hasil panen dan mengurangi risiko kematian ternak,” urainya.
Namun, Tirana juga menekankan perlunya penyesuaian dalam aspek biaya agar ke depan sistem ini menjadi lebih efisien dan ekonomis tanpa mengurangi kualitas.
“Namun kami optimis bahwa ini merupakan bentuk investasi yang di masa depan bisa memberikan nilai tambah signifikan untuk sektor peternakan,” tandasnya.
Ke depan, LENTERA direncanakan untuk dilengkapi dengan teknologi AI yang lebih canggih, seperti pengenalan visual berbasis YOLO untuk memantau berat badan ayam secara otomatis melalui kamera CCTV.
Dengan teknologi tambahan ini, jika ada ayam yang bobotnya tidak ideal, sistem akan langsung mendeteksi.
Selain itu, pengembangan berikutnya mencakup otomatisasi pemberian pakan dan air minum, dimana saat ini suplai makanan masih manual.
Fapet UB berharap kontribusi dan inovasi teknologi seperti LENTERA ini dapat memberikan dampak langsung, tidak hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan peternak kecil.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor: Aan Imam Marzuki




















































