BACAMALANG.COM – Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai mengambil peran di berbagai bidang, lima perempuan di Kota Malang memilih menghadirkan perspektif yang tak bisa digantikan teknologi: pengalaman, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya sastra.
Komitmen tersebut diwujudkan lewat peluncuran Rapotan: Antologi Cerpen 5 Perempuan yang digelar di Warmindo Cobiz, Jalan Tawangmangu No. 5, Lowokwaru, Kota Malang, Minggu (5/7/2026). Kegiatan ini juga menjadi momen peresmian berdirinya penerbit Swa Raya Nusantara di bawah naungan PT Swa Raya Nusantara.
Antologi Rapotan memuat 15 cerita pendek karya lima penulis perempuan, masing-masing menyumbangkan tiga cerpen. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari cerpenis, ibu rumah tangga, dosen, karyawan swasta, hingga jurnalis.
Beragam persoalan diangkat dalam buku ini, seperti kesehatan mental, relasi keluarga, pergulatan psikologis, hingga kritik sosial. Seluruh cerita disampaikan dari sudut pandang perempuan, menghadirkan refleksi yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Nama Rapotan dipilih sebagai simbol perjalanan belajar menulis kelima penulis selama kurang lebih satu tahun di Kelompok Belajar Menulis (Kobis) Merajut Sastra yang difasilitasi penulis Iman Suwongso. Komunitas sastra tersebut telah aktif membina penulis di Malang sejak 2017.
Peluncuran buku menghadirkan sastrawan Tengsoe Tjahjono dan salah satu penulis, Fathiyah Azizah, sebagai narasumber. Acara yang dipandu Albani Atsauri berlangsung hangat dengan diskusi yang melibatkan para peserta.
Dalam ulasannya, Tengsoe Tjahjono menilai antologi ini tidak hanya menghadirkan rangkaian cerita, tetapi juga menawarkan ruang perenungan yang lahir dari pengalaman hidup para perempuan.
«”Lima cerpenis perempuan dalam antologi ini tidak sekadar menuturkan kejadian, melainkan mengolah pengalaman menjadi ruang refleksi,” ujarnya.»
Menurut Tengsoe, sosok perempuan dalam cerpen-cerpen tersebut bukan hanya penggerak alur, melainkan ruang bertemunya luka, harapan, ingatan, dan perjuangan hidup. Setiap tokoh memperlihatkan cara berbeda dalam menghadapi persoalan, mulai dari memilih diam, bertahan, merawat, hingga melawan keadaan.
Ia menilai antologi ini berhasil menghadirkan pengalaman perempuan sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, dan mengajak pembaca ikut menyelami pergulatan batin para tokohnya.
Sementara itu, Fathiyah Azizah mengungkapkan proses menulis tidak lepas dari rasa takut. Ia sempat merasa karya yang ditulisnya tidak akan berarti di tengah banyaknya karya sastra yang telah lahir.
«”Ketakutan terbesar saya adalah rasa takut dinilai. Namun saya menyadari bahwa keberanian menulis adalah keberanian untuk dinilai, meski penilaian orang lain tidak menentukan nilai diri saya,” katanya.»
Baginya, keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, melainkan tetap berkarya meski rasa takut masih ada. Menulis juga bukan sekadar pembuktian diri, tetapi proses untuk terus belajar dan bertumbuh.
Fathiyah menjelaskan, Rapotan menjadi simbol perjalanan tersebut. Layaknya rapor yang menandai seseorang siap naik kelas, buku ini menjadi penanda bahwa para penulis telah berani melangkah ke tahap berikutnya, sembari terus mengasah kemampuan menulis.
Fasilitator Kobis Merajut Sastra, Iman Suwongso, mengatakan lahirnya Rapotan merupakan bentuk pertanggungjawaban atas proses belajar yang telah dijalani para peserta.
Menurutnya, cerpen yang baik tidak cukup hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga harus mampu menghadirkan refleksi yang menyentuh sisi kemanusiaan pembaca.
«”Setiap cerita mengandung nilai-nilai kemanusiaan, karena inti sastra adalah cerita tentang manusia dan kemanusiaan,” ujarnya.»
Iman menambahkan, setelah sebuah karya diterbitkan, penilaian terhadap kualitasnya sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Melalui peluncuran Rapotan, kelima penulis berharap karya mereka tidak hanya menjadi penanda perjalanan belajar, tetapi juga membuka ruang dialog, refleksi, sekaligus memperkuat apresiasi terhadap pengalaman dan suara perempuan di tengah perubahan zaman yang semakin dipengaruhi teknologi.
Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































