Dilema Pedagang Bakso Kepanjen: Harga Kanji Meroket, Omset Merosot hingga 40 Persen - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 29 Jun 2026 11:49 WIB ·

Dilema Pedagang Bakso Kepanjen: Harga Kanji Meroket, Omset Merosot hingga 40 Persen


 Imam, salah seorang penjual bakso di Kepanjen, sedang melayani pembeli. (Hadi Triswanto) Perbesar

Imam, salah seorang penjual bakso di Kepanjen, sedang melayani pembeli. (Hadi Triswanto)

BACAMALANG.COM – Lonjakan harga sejumlah bahan baku pokok semakin membebani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di sektor kuliner, kenaikan harga tepung kanji (tapioka) dan berbagai bumbu dapur membuat omzet pedagang bakso mengalami penurunan signifikan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, rata-rata pedagang mengaku omzet mereka turun hingga 40 persen. Jika sebelumnya mampu meraih pendapatan sekitar Rp450.000 hingga Rp500.000 per hari, kini hanya berkisar Rp300.000 hingga Rp350.000. Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah porsi yang terjual, dari sebelumnya lebih tinggi menjadi hanya sekitar 30–40 porsi per hari.

Salah satu penyebab utama adalah melonjaknya harga tepung kanji sebagai bahan baku utama. Di tingkat eceran, harga kanji kualitas standar yang sebelumnya sekitar Rp9.000 per kilogram kini naik menjadi Rp14.000 per kilogram.

Sementara itu, harga kanji kualitas super yang banyak digunakan pedagang untuk menjaga kualitas bakso juga mengalami kenaikan tajam, dari kisaran Rp11.000–Rp12.000 menjadi Rp18.000 per kilogram. Kondisi tersebut diperparah dengan naiknya harga berbagai bumbu dapur.

Para pedagang menduga kenaikan harga dipengaruhi meningkatnya biaya produksi, termasuk dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berimbas pada harga sejumlah komoditas di pasar domestik.

Di tengah kondisi tersebut, para pedagang harus mencari berbagai cara agar usaha yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun tetap bertahan.

“Sekarang omzet turun sekitar 40 persen. Jadi kami harus putar otak bagaimana mengolah bahan baku supaya bakso tetap enak, tetapi harganya masih terjangkau oleh pelanggan,” ujar Imam, salah seorang pedagang bakso di Kepanjen, Senin (29/6/2026).

Hingga kini, para pedagang masih mengandalkan pelanggan tetap dan pesanan dari masyarakat sekitar Kepanjen untuk mempertahankan usahanya. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi serta mengendalikan harga bahan baku dan kebutuhan pokok di pasaran.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Harga Telur Terjun Bebas, Pedagang di Tumpang Bertahan Berkat Tabungan Saat Masa Panen Untung

28 Juni 2026 - 10:30 WIB

Libur Sekolah Dongkrak Penumpang Stasiun Malang 8 Persen, KAI Imbau Utamakan Keselamatan

27 Juni 2026 - 10:43 WIB

Pertamina Tambah Pasokan BBM Subsidi di Jatim, Distribusi Diprioritaskan untuk Urai Antrean SPBU

26 Juni 2026 - 18:19 WIB

Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan di Sukun, Pemkot Malang Kenalkan Transisi Energi Listrik dan Tegaskan Pajak Tak Naik

25 Juni 2026 - 17:22 WIB

Belajar Usaha Sekaligus Tambah Penghasilan, Mahasiswa Ini Jadi Pedagang Durian Musiman

22 Juni 2026 - 07:53 WIB

Yamaha Gear Ultima Punya Dua Varian Baru, Tampil Lebih Sporty dan Canggih dengan Fitur Keyless

21 Juni 2026 - 15:31 WIB

Trending di EKOBIZ

©Hak Cipta Dilindungi !