"Kanvas yang Tak Pernah Selesai", Buku Kenangan Romo Yulius Agus Purnomo Lahir dari Cinta Umat - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 7 Jul 2026 08:09 WIB ·

“Kanvas yang Tak Pernah Selesai”, Buku Kenangan Romo Yulius Agus Purnomo Lahir dari Cinta Umat


 Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Malang membagikan buku kenangan Kanvas yang Tak Pernah Selesai: Kesaksian dan Warisan Hidup RD Yulius Agus Purnomo. (ist) Perbesar

Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Malang membagikan buku kenangan Kanvas yang Tak Pernah Selesai: Kesaksian dan Warisan Hidup RD Yulius Agus Purnomo. (ist)

BACAMALANG.COM – Kecintaan umat kepada almarhum Romo Yulius Agus Purnomo melahirkan sebuah buku antologi obituari berjudul Kanvas yang Tak Pernah Selesai. Buku yang berisi kenangan, refleksi, dan kesaksian tentang perjalanan hidup Romo Agus itu berhasil diterbitkan dalam waktu relatif singkat berkat antusiasme umat, para imam, keluarga, sahabat, hingga komunitas seni.

Peluncuran buku berlangsung usai Misa Peringatan 100 Hari Wafat Romo Yulius Agus Purnomo di Gereja St. Albertus de Trapani, Blimbing, Kota Malang, Senin (6/7/2026). Perayaan Ekaristi dipimpin RD Bernadus Winuryanto bersama 11 imam lainnya.

Dalam homilinya, RD Bernadus membuka refleksi dengan membacakan puisi yang dipersembahkan khusus untuk sahabatnya itu. “Dia telah pergi. Dia telah mempersiapkannya dengan baik. Dia tahu arah sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia sadar siapa dirinya dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Dia telah menghiasi dunia ini dengan karya seninya sehingga dunia menjadi berwarna-warni. Selamat jalan, sahabatku. Terima kasih karena kita pernah berjalan bersama.”»

Usai misa, RD Bernadus mengatakan puisi tersebut menggambarkan sosok Romo Agus yang sangat dikenalnya selama menjalani panggilan imamat. “Saya tahu persis bagaimana Romo Agus menghidupi imamatnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kami saling meneguhkan, saling menguatkan, dan selalu menyediakan waktu untuk mensyukuri panggilan sebagai imam. Kami bukan pribadi yang sempurna, tetapi kami berjalan bersama dan saling mendukung,” ujarnya.

Menurutnya, Romo Agus merupakan pribadi yang rendah hati sekaligus memiliki jiwa seni yang luar biasa. Berbagai karya yang dihasilkannya lahir dari kreativitas yang orisinal dan selalu memberi ruang bagi anak-anak untuk berkembang melalui seni. “Setiap manusia diciptakan Allah sebagai karya seni yang luar biasa. Karena itu, nilai-nilai seni harus terus dikembangkan dalam karya pastoral,” katanya.

Ketua Unio Keuskupan Malang, RD Petrus Prihatin, mengenang Romo Agus sebagai imam yang supel, luwes, dan dekat dengan semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, orang muda hingga lansia. “Beliau memiliki banyak inisiatif kreatif untuk membangun kebersamaan umat sehingga mereka merasa nyaman dan semakin dekat dengan Gereja,” ujarnya.

Menurut RD Petrus, kedekatan itu terlihat dari membludaknya umat yang menghadiri Misa Peringatan 100 Hari sekaligus peluncuran buku. “Umat datang dalam jumlah besar karena benar-benar merasakan kedekatan dengan Romo Agus. Beliau meninggalkan kesan yang sangat mendalam,” katanya.

Salah satu pesan yang paling membekas dari Romo Agus adalah pentingnya memiliki hati suwung. “Beliau selalu mengingatkan agar kita memiliki hati yang kosong dari egoisme dan kepentingan pribadi. Kekosongan itu hendaknya diisi hanya oleh Tuhan. Dengan demikian, yang kita wartakan bukan diri sendiri, melainkan Kristus yang hidup di dalam hati kita,” jelasnya.

Menurutnya, pesan tersebut tetap relevan sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI). “Jangan sampai kita hanyut oleh arus zaman. Apa yang telah diteladankan Romo Agus harus terus kita lanjutkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Terkait penerbitan buku, RD Petrus menjelaskan bahwa gagasan tersebut lahir dari keinginan umat untuk mengabadikan pengalaman bersama Romo Agus. “Buku ini berisi refleksi dan pengalaman umat yang pernah berelasi dengan Romo Agus. Judul Kanvas yang Tak Pernah Selesai mengandung makna bahwa karya dan semangat pelayanan beliau harus diteruskan oleh kita semua. Kanvas itu belum selesai dan kitalah yang melanjutkan goresan-goresan kebaikan yang telah beliau mulai,” tuturnya.

Sementara itu, Pendiri Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG), Tengsoe Tjahjono, mengungkapkan proses penyusunan buku berlangsung sangat cepat. Sejak pengumpulan naskah hingga terbit, seluruh proses tidak sampai satu bulan. “Ketika kami mengumumkan rencana penerbitan buku sebagai wujud kecintaan kepada Romo Agus, respons yang datang sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Tengsoe, tingginya antusiasme itu menunjukkan betapa besar cinta umat kepada Romo Agus yang dikenal sebagai imam, pelukis, sekaligus gembala yang selalu hadir dengan kasih. “Karya terindah dalam hidup manusia adalah ketika melalui perjumpaan dengan sesama, seseorang mampu membuat orang lain menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah prinsip hidup Romo Agus,” katanya.

Koordinator KPKDG Keuskupan Malang, Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., mengaku awalnya tidak menyangka dipercaya menjadi koordinator penyusunan buku tersebut karena bukan berasal dari paroki tempat Romo Agus pernah berkarya.

Namun atas permintaan sejumlah umat, ia akhirnya bersedia mengoordinasikan pengumpulan tulisan bersama beberapa rekan. Hasilnya, terkumpul sekitar 50 tulisan dari 40 penulis yang terdiri atas para imam, keluarga, sahabat, dan umat.

Karena Romo Agus dikenal sebagai pelukis, tim penyusun sepakat memilih judul Kanvas yang Tak Pernah Selesai sebagai simbol bahwa karya, keteladanan, dan pengabdian beliau harus terus dilanjutkan. “Kanvas itu belum selesai. Kitalah yang ditinggalkan untuk menyelesaikannya, yakni melanjutkan lukisan tentang kebaikan, kasih, dan pelayanan yang telah diwariskan Romo Agus,” jelasnya.

Agustinus mengatakan proses penyusunan buku berlangsung sekitar satu setengah bulan. Pengumpulan naskah dimulai beberapa hari setelah peringatan 40 hari wafat Romo Agus dengan target peluncuran pada peringatan 100 hari, dan target tersebut berhasil diwujudkan.

Ia berharap buku ini dapat menginspirasi banyak orang untuk meneladani kehidupan Romo Agus yang penuh kasih, rendah hati, dan mengutamakan pelayanan. “Beliau tidak banyak berbicara, tetapi langsung melayani dengan hati. Karena itulah begitu banyak orang merasa kehilangan ketika beliau berpulang,” ujarnya.

Agustinus juga mengenang kebersamaannya dengan Romo Agus sejak 2018. Menurutnya, salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Romo Agus adalah kepercayaan kepada sesama. “Beliau selalu memberi kepercayaan kepada siapa saja. Banyak kegiatan dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena kemampuan kami, melainkan karena kepercayaan yang beliau berikan. Itulah warisan terbesar yang kami kenang dari Romo Agus,” pungkasnya.

Pewarta/Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 29 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Yudi Hindarto Pimpin Pertina Kabupaten Malang, Targetkan Dominasi Medali Porprov hingga Cetak Atlet Nasional

7 Juli 2026 - 06:30 WIB

Bersih Desa ke-172 Temas Meriah, Cak Percil dan Guyon Maton Siap Hibur Ribuan Warga

6 Juli 2026 - 19:51 WIB

Wali Kota Cup 2026 Jadi Ajang PTMSI Kota Malang Menjaring Atlet Menuju Porprov Jatim 2027

6 Juli 2026 - 14:16 WIB

Lawan Dominasi AI dengan Sastra, Lima Perempuan Malang Luncurkan Antologi Cerpen “Rapotan”

6 Juli 2026 - 08:51 WIB

Stypht Buka Era Baru sebagai Solois, “Vanish” Suguhkan Luka yang Dibalut Irama Upbeat

6 Juli 2026 - 06:09 WIB

Field Trip Muharram, Gus Shodiq Ajak Puluhan Anak Yatim Menyusuri Jejak Sejarah dan Menumbuhkan Cita-cita

5 Juli 2026 - 19:04 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !