BACAMALANG.COM – Minke, tokoh utama dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, merupakan seorang bangsawan Jawa yang berkesempatan mengenyam pendidikan di Hogere Burgerschool (HBS), sekolah elite yang pada masa kolonial didominasi siswa Eropa. Statusnya sebagai satu-satunya pribumi di lingkungan tersebut membuat keberhasilannya menempuh pendidikan dianggap sebagai prestasi luar biasa oleh keluarganya.
Paparan terhadap pendidikan modern dan nilai-nilai progresif Barat kemudian membentuk cara pandang baru dalam diri Minke. Transformasi pemikirannya mencapai titik penting saat ia berinteraksi dengan Nyai Ontosoroh, sosok perempuan yang memiliki kecerdasan, kemandirian ekonomi, dan keberanian melawan ketidakadilan.
Bimbingan Nyai Ontosoroh, ditambah hubungan emosionalnya dengan Annelies, semakin mempertegas identitas Minke sebagai “Belanda cokelat”, sebuah sosok hibrida yang memadukan akar pribumi dengan cara pandang Barat yang diperolehnya melalui pendidikan. Kesadaran tersebut mendorong Minke melakukan refleksi mendalam yang kerap membenturkannya dengan nilai-nilai tradisional yang dianut keluarganya.
Gambaran tersebut disampaikan Kepala Program Studi Sastra Inggris Universitas Ma Chung, Dr. FX Dono Sunardi, S.S., M.A., dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung di Gedung Balai Pertiwi, Selasa (7/7/2026).

Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, M.S., M.Sc.(kiri) dan Kepala BPPH Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera Guntur Gunawan mengapit para dosen yang memperoleh Anugerah Pengabdian 10 Tahun. (Nedi Putra AW)
Melalui orasi bertajuk “Pendidikan Kolonial, Krisis Identitas, dan Lahirnya Kesadaran Nasional dalam Tetralogi Buru”, FX Dono mengajak para pendiri, sivitas akademika, dan tamu undangan melakukan tinjauan historiografis terhadap pendidikan Indonesia dengan menjadikan Bumi Manusia sebagai objek kajian utama.
Menurutnya, pengalaman hidup Minke dalam novel tersebut dapat digunakan sebagai lensa untuk memahami transformasi identitas yang muncul akibat paparan pendidikan Barat.
“Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, adalah sebuah privilese atau hak istimewa yang tidak banyak pemuda-pemudi Indonesia dapatkan, bahkan ketika pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-20. Mengacu pada Bumi Manusia, pendidikan kolonial bertindak sebagai kekuatan transformatif yang mendorong lulusannya mengadopsi epistemologi Eropa, yang terkadang membuat mereka harus mengorbankan warisan budaya aslinya,” ujarnya.
FX Dono menegaskan bahwa pembahasan mengenai pendidikan dan nasionalisme melalui analisis sastra Bumi Manusia tidak hanya berkaitan dengan tokoh Minke, tetapi juga dengan sosok penulisnya, Pramoedya Ananta Toer.
“Bagaimana sebuah karya sastra yang luar biasa dihasilkan bukan dari meja kerja yang rapi, melainkan dari pengasingan panjang di Pulau Buru. Bahkan karya-karya Pram sempat dilarang pada era Orde Baru karena tuduhan keterkaitan ideologis,” tegasnya.
Melalui momentum Dies Natalis ke-19, FX Dono berharap Universitas Ma Chung terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mampu melahirkan lulusan berdaya saing global sekaligus memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Ia menyampaikan lima rekomendasi untuk pengembangan universitas ke depan. Pertama, terus memfasilitasi mahasiswa memperoleh pendidikan formal berkualitas yang membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan, dan wawasan yang relevan dengan tantangan masa depan sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan yang semakin dinamis.
Kedua, universitas perlu mendorong penguatan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik. Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi kompleksitas persoalan di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, penguatan kemitraan strategis berbasis kolaborasi hexa helix perlu terus dikembangkan dengan melibatkan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pemerintah, akademisi, komunitas, media, serta lingkungan.
“Sinergi lintas sektor ini diharapkan tidak hanya memperluas pengalaman belajar mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai empati, solidaritas, dan semangat menghadirkan perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Keempat, universitas diharapkan semakin memberikan ruang, dukungan, dan fasilitasi bagi mahasiswa maupun sivitas akademika yang memiliki semangat membangun jejaring dan kemitraan strategis dengan DUDI maupun berbagai komunitas masyarakat.
“Langkah ini akan memperkuat budaya kolaborasi sekaligus membuka lebih banyak peluang inovasi dan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.
Sementara rekomendasi kelima adalah mendorong lahirnya pemikiran alternatif dan inovatif di kalangan mahasiswa. Menurutnya, gagasan yang saat ini belum sepenuhnya dipahami atau dianggap relevan bisa menjadi solusi besar bagi berbagai tantangan di masa depan.

Penampilan seni bela diri Wushu menutup Sidang Terbuka Senat Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung di Balai Pertiwi, Selasa (7/7/2026). (Nedi Putra AW)
“Oleh karena itu, iklim akademik yang terbuka terhadap ide-ide baru harus terus dipelihara sebagai bagian dari karakter Universitas Ma Chung dalam mencetak generasi pembelajar yang visioner dan adaptif,” tandas dosen yang memiliki kepakaran di bidang penerjemahan, kritik sastra, penulisan populer, serta stilistika Bahasa Inggris dan Indonesia tersebut.
Sementara itu, Rektor Universitas Ma Chung, Prof. Dr. Ir. Stefanus Yufra M. Taneo, M.S., M.Sc., menegaskan bahwa Dies Natalis ke-19 yang mengusung tema “Fostering Transformative Convergence” dengan tagline “One Vision – Many Disciplines – Real Impact” menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan komitmen universitas dalam membangun kolaborasi lintas disiplin untuk menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kampus ini menargetkan transformasi dari perguruan tinggi yang memberikan teladan menjadi trendsetter pendidikan tinggi di Indonesia menuju 2045,” ujarnya.
Menurut Yufra, setiap disiplin ilmu memiliki manfaat dan kontribusi tersendiri bagi kemajuan peradaban. Ia mencontohkan bagaimana Tiongkok berkembang pesat dengan tetap mengakar pada tradisi sastra dan filosofi Konfusius.
“Oleh karena itu, melalui orasi ilmiahnya, Dr. FX Dono mengajak kita memahami bahwa pendidikan dan nasionalisme merupakan proses panjang dan kompleks,” tuturnya.
Dalam perjalanannya, Universitas Ma Chung cukup aktif melestarikan keberagaman melalui berbagai acara yang menggabungkan budaya Tiongkok dan Nusantara. seperti rangkaian Dies Natalis ke-19 Universitas Ma Chung yang diawali dengan penampilan Tari Tradisional Bambangan Cakil, dilanjutkan pembukaan Sidang Terbuka Senat oleh Rektor yang sekaligus menyampaikan laporan tahunan universitas mengenai berbagai capaian dan perkembangan institusi selama satu tahun terakhir.
Para peserta juga disuguhkan video kaleidoskop perjalanan Universitas Ma Chung serta video ucapan Dies Natalis dari para alumni dan mitra. Setelah orasi ilmiah, acara dilanjutkan dengan paparan Ketua Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera mengenai arah pengembangan universitas ke depan.
Sebagai bentuk apresiasi kepada sivitas akademika, Universitas Ma Chung memberikan Anugerah Pengabdian 10 Tahun kepada empat dosen dan tenaga kependidikan, yakni Dr. apt. Rollando, S.Farm., M.Sc., Didit Prasetyo Nugroho, S.Sn., M.Sn., Anggrah Diah Arlinda, S.S., MTCSOL., serta Amal Dermawan Udjir, S.Kom., M.Tr.Kom.
Selain itu, penghargaan Pengabdian Purna Bakti diberikan kepada sejumlah insan Universitas Ma Chung yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya. Universitas juga menggelar prosesi In Memoriam untuk mengenang jasa para pendiri dan tokoh Universitas Ma Chung yang telah berpulang, di antaranya Murdaya Poo, Rianto Nurhadi, dan Dedik Sudandoko.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan Soegeng Hendarto Award, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada individu yang dinilai memberikan kontribusi dan inspirasi bagi pengembangan pendidikan maupun masyarakat. Acara kemudian ditutup dengan penampilan seni bela diri Wushu sebelum Rektor secara resmi menutup Sidang Terbuka Senat.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































