Kisah Si Pencipta ‘Mendung Tanpo Udan’ di Kayutangan Heritage

Pencipta 'Mendung Tanpo Udan',Prasetya Kudamai saat tour bersama Jungle Cafe group di Bali Cafe, Hotel Whiz Prime Basuki Rahmat, Kayutangan Malang, Sabtu (5/6/2022). (ned)

BACAMALANG.COM – Bagi masyarakat Indonesia, lagu ‘Mendung Tanpo Udan’ sudah tak asing lagi, khususnya di platform media sosial. “Awakdewe tau duwe bayangan, besok yen wis wayah omah-omahan, aku moco koran sarungan, kowe belonjo dasteran…”, penggalan lirik ini seakan juga menjadi lagu ‘wajib’ di setiap acara gathering.

Lagu yang viral yang dibawakan Ndarboy Genk dan Deni Caknan versi dangdut koplo ini ternyata karya seorang pria kelahiran Madiun bernama Kukuh Prasetya Kudamai. “Saya ini basic-nya teater, sehingga segala sesuatu harus lewat observasi dan baca literasi dahulu,” ungkapnya usai gelar tour bersama Jungle Cafe group di di Bali Cafe, Hotel Whiz Prime Basuki Rahmat, Kayutangan Malang, Sabtu (5/6/2022) lalu. 

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengatakan, dari observasi itulah lagu tersebut tercipta. “Mendung seringkali ditandai dengan ketakutan, padahal ketika hujan menikmati sekali. Lalu saya juga sering mendengarkan curhatan teman-teman, seperti yang LDR dan sebagainya, sehingga mulailah saya rangkai menjadi lirik, baru kemudian musiknya,” paparnya.

Oleh karena itu, imbuhnya, proses kreatif ini ia sebut harus berprinsip jujur, serius dan berlapang dada. “Tujuan saya membuat lagu seperti orang bercerita, sebuah kejadian sehari-hari yang ditulis namun lewat literasi sebagai referensi. Jadi kalau temanya putus cinta, tentunya tidak jauh dari janji, ditinggalkan, dikhianati, tapi saya coba untuk menggunakan selain kata-kata tersebut,” urainya.

Namun pemilik nama asli Muhammad Kukuh Prasetya Kudamai ini justru membawakan lagu hits tersebut tidak seperti yang viral beredar selama ini.
“Saya kalau membawakan lagu seperti orang dialog di film, karena jujur saja saya tidak bisa menyanyi dangdut karena cengkoknya itu sulit sekali,” akunya.

Kukuh juga mengaku kalau misi tour ini bukan karena ingin mengedepankan ke publik bahwa dia adalah pencipta lagu tersebut. “Justru karena saya merasa belum apa-apa, sehingga kewajiban punya karya, ya harus muter (keliling), urusan ramai nggak ramai, nggak masalah, yang penting musik saya dapat dinikmati publik,” ungkapnya.

Dijelaskan Kukuh, tour di Malang ini adalah adalah titik yang ke dua puluhan, setelah sebelumnya digelar di Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Bali dan Lombok. “Insyaallah akan diteruskan ke Kalimantan, mungkin juga ke Sumatera,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, membawakan enam lagu, yang kebanyakan liriknya berbahasa Jawa dan mengusung unsur Mendung dan Udan (hujan), sebagai judul seperti ‘Mendung Tanpo Udan’, ‘Udan Tanpo Mendung’, dan ‘Udane Ora Roto’, serta satu lagu yang belum dirilis, yang rencananya akan dimasukkan ke dalam album berikutnya. “Album itu prosesnya masih setengah jalan, ada aransemen-aransemen yang perlu digarap,” tandasnya.

Com Manager Cluster Jatim, AM Lukman, didampingi Account Executive Whiz Prime Basuki Rahmat, Wanda Rosalina mengatakan, Jungle Cafe Grup sengaja mengundang Kukuh Prasetya Kudamai dalam tour Mendung Tanpo Udan. “Identitas musiknya sesuai dengan semangat Jungle Cafe yang mengusung kearifan lokal,” ungkapnya.

Animo masyarakat cukup tinggi selama tampil, apalagi tour ini bertepatan dengan digelarnya Malang 108 Rise & Shine di kawasan Kayutangan Heritage. (ned)