BACAMALANG.COM – “Meraki” adalah sebuah kata dari bahasa Yunani, yang berarti segala sesuatu yang berkaitan dengan jiwa, kreativitas dan cinta. Jika dihubungkan dengan kesepakatan bahwa seni tidak selalu tentang logika dan keteraturan, maka dapat dikatakan Meraki juga menjadi semacam prinsip berkarya yang melibatkan rasa.
Tema inilah yang diusung Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ma Chung Malang, dengan menggelar pameran bertajuk Tongseng & PAS 2023 “Meraki” di gedung Malang Creative Center (MCC).
Pameran ini dihelat selama tiga hari, mulai Jumat (16/6/2023) hingga Minggu (18/6/2023) ini menampilkan puluhan karya, mulai Nirmana, semiotika visual dalam bentuk poster, hingga 3D modelling.
Ketua Himpunan DKV Ma Chung Kathleeya SE mengatakan, bahwa kegiatan ini bertajuk Tongseng atau Tongkrongan Seni Grafis & Pameran Akhir Semester, dari mahasiswa aktif angkatan 2020, 2021 dan 2022.
“Kebetulan kali ini cukup spesial dan cukup banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena menampilkan karya selama dua semster, yakni ganjil dan genap,” ungkapnya kepada BacaMalang.com di lokasi pameran, Minggu (18/6/2023).

Kathleeya menjelaskan, Nirmana yang dipamerkan tersebut adalah semacam pengolahan bidang, garis object dan media lain yang ditata dan dikomposisikan sedemikian rupa sehingga bertujuan lebih kepada bentuk abstrak baik itu instalasi maupun dalam bentuk dua dimensi dan mix media.
“Kalau semiotika visual dari angkatan 2021 tersebut lebih kepada digital imaging, yakni mengolah beberapa gambar menjadi satu gambar yang menyiratkan makna sebuah produk lewat poster digital,” urainya tegas.
Selain pameran, kegiatan juga diisi seminar dari 3D Sculpture Miniatur Mike Yusak, yang produk-produk mainannya sudah berhasil dieskpor ke mancanegara, baik di lingkup Asia hingga Amerika.
“Mike Yusak juga kami beri ruang juga untuk menampilkan action figure-nya sebagai motivasi dalam pameran kali ini,” imbuh gadis berkacamata ini.
Meraki ini juga diisi workshop dari Pena Hitam, salah satu komunitas menggambar yang bermarks di kawasan Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Saat disinggung tujuan pameran, Kathleeya memaparkan bawah kegiatan ini adalah mengenalkan DKV kepada khalayak umum serta mengharapkan apresiasi masyarakat terhadap karya-karya yang dihadirkan. Selain itu, tambahnya, ada beberapa impact yang juga diharapkan dari acara ini.
“Pertama, menambah portofolio kami pada saat nanti berkecimpung di industri kreatif yang kini menuntut beragam karya, baik itu instalasi, digital maupun cetak dua dimensi misalnya. Dari pameran ini kami berharap dapat lebih mengeksplor keahlian dalam berkreasi menggunakan bermacam media, namun yang paling penting adalah menjadi langkah dalam proses untuk mencari passion masing-masing,” urainya.
Kathleeya mengaku bahwa berbagai kreasi bersama teman-temannya ini dibuat dengan melibatkan berbagai perasaan, baik itu cemas, jengkel, di bawah tekanan tenggat waktu yang ketat.
“Namun di balik semua itu ada rasa cinta yang mampu memadamkan semua rasa itu, dan justru menyulut kembali semangat dalam diri hingga menghasilkan karya-karya ini,” tandasnya.
Terpisah, seniman lukis dari Malang Bambang AW, melihat karya para mahasiswa, khususnya di bidang Desain Komunikasi Visual ini tetap harus diasah.
“Para mahasiswa harus terus mengasah insting dalam berkarya, karena bidang ini luas, tak terbatas,” ujarnya.
Meski demikian, budayawan pemilik Dialectica Gallery Malang ini menambahkan, bahwa karya-karya itu tersebut nantinya harus dapat diterima oleh masyarakat luas.
“Sebagai intelektual, idealisme tetap harus dijunjung tinggi dalam berkreativitas, tapi karya-karya yang dihasilkan sebaiknya tetap bersinggungan dengan publik, agar tercipta link and match,” tegasnya.
Bagaimana prosesnya? Bambang mengajukan dua kata kunci.
“Lakukan selalu pengamatan dan riset, ” ucapnya mengakhiri.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki





















































