Roti Puding Kalimas Malang, Roti Unik yang Hanya Dibuat Khusus Hari Rabu

Salah seorang pekerja saat mengerjakan pembuatan roti puding di perusahaan roti Kalimas, Jl Laksamana Martadinata Kota Malang belum lama ini. Roti resep lawas ini menjadi unik, karena hanya dibuat setiap hari Rabu saja. (ned)

BACAMALANG.COM – Roti adalah makanan yang dibuat dari campuran tepung terigu dan ragi. Roti mulai dikenal di Indonesia sejak masa kolonial, karena pengaruh dari bangsa Eropa yang sehari-harinya memang mengkonsumsi roti.

Pada perkembangannya semakin banyak orang suka makan roti, sehingga orang mulai mendirikan pabrik roti, baik dalam skala kecil maupun menengah.

Semakin banyaknya varian dan semakin terjangkau harganya, membuat roti pada suatu masa hanya dapat dinikmati golongan tertentu saja, sekarang sudah menjadi bahan konsumsi semua kalangan. Saat ini roti mudah ditemui mana-mana, khususnya di toko dan minimarket.

Jito, salah satu sales keliling roti Kalimas siap memasarkan produk-produknya belum lama ini. Menurut Jito, roti puding ini adalah best-seller dari roti-roti yang ia bawa dengan sepedanya. (ned)

Namun ada sejumlah toko roti di Malang yang masih bertahan dengan resep kunonya di tengah gempuran roti-roti produksi massal.
Salah satunya adalah perusahaan roti Kalimas, yang berlokasi di Jl Laksamana Martadinata Kota Malang, Jawa Timur.

Meski demikian, tidak ada papan nama yang terpasang di bagian depan bangunan yang terletak tepat di samping gang Madiun, kawasan Kota Lama ini.

Selain masih bertahan dengan memproduksi roti-roti dengan resep lawas, ada keunikan lain dari Kalimas yang tidak dimiliki perusahaan roti lainnya.

“Kami memproduksi roti puding, yang menjadi salah satu roti yang paling diminati masyarakat,” ungkap Andre, 55, generasi kedua pengelola roti Kalimas belum lama ini.

Uniknya tidak seperti roti lainnya, di Kalimas roti puding ini hanya diproduksi setiap hari Rabu saja.

“Itu pun hanya dalam jumlah tertentu saja,” imbuh Andre.

Ia tidak dapat memberi informasi terkait bahan-bahannya, namun roti berbentuk balok kecil berukuran 6 cm dan tebal sekitar 3 cm cukup rasanya manis dan agak keras ketika digigit, tidak seperti tekstur roti pada umumnya.

Sepintas potongan dan ketebalannya mirip salah satu potongan kue terang bulan yang biasa ditemui sekarang ini.

“Mungkin modelnya lebih mengarah seperti kue, paling enak dinikmati setelah keluar dari pabrik karena masih hangat,” timpalnya.

Andre mengatakan bahwa roti-roti produksinya, baik itu roti tawar, roti isi coklat, keju maupun roti puding ini tidak menggunakan bahan pengawet. Umumnya roti baru matang sekitar jam 13.00 dan segera didistribusikan hari itu juga.
Ia mengaku kue puding ini sudah dibuat oleh ayahnya Ong Jay Tjian, ketika ia masih kecil.

“Waktu saya masih kecil saya sudah ikut membantu bikin roti, termasuk roti puding ini,” ujarnya.

Menurut Andre, sejak dulu roti ini memang tidak diproduksi dalam jumlah besar dan hanya dikeluarkan di hari tertentu.

“Dulu sempat dijual setiap hari Selasa dan Jumat, namun sekarang khusus hari Rabu saja,” terang dia.

Meskipun menjadi tanda tanya terkait hari penjualannya, Andre mengaku tidak ada sesuatu yang khusus. Dia menegaskan bahwa roti puding seharga Rp. 5.000 per bijinya ini dikeluarkan di hari Rabu karena melihat kondisi pasar saja.

“Tidak ada hal-hal khusus, karena saya melihat kondisi penjualan saja,” ungkapnya.

Ia tetap berusaha mempertahankan usaha yang dirintis ayahnya sejak tahun 1968 ini di tengah gerusan roti-roti pabrikan yang diproduksi massal.

Meski demikian menurut Jito, salah satu sales keliling roti Kalimas, roti puding ini adalah best-seller dari roti-roti yang ia bawa dengan sepedanya.

“Roti ini biasanya sudah ada yang pesan, jadi kalau saya pulang langsung habis,” ungkap pria berusia 60-an yang masih kuat berkeliling membawa roti ke dari Bandulan hingga Samaan dengan motornya ini. 

Salah seorang konsumen roti puding Kalimas Irawan Prajitno, mengaku sangat suka dengan rasanya. Selain itu, pria yang aktif dalam kegiatan-kegiatan terkait sejarah maupun heritage di Kota Malang ini juga tertarik dengan sisi historisnya.

“Dalam sejumlah kesempatan roti ini bisa saya bawa dan sajikan sambil menunjukkan keunikannya sebagai kuliner heritage di Malang,” tandas koordinator komunitas Malang Old Photo ini. (ned)