BACAMALANG.COM – Menyulap jalan di tengah kampung jadi bernuansa tempo dulu, warga RT 09 / RW 01 Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, menggelar Kacoek Tempo Doeloe di sepanjang jalan RT 09 / RW 01 dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Membawa konsep tempo dulu, warga Kebonsari ini ingin memberikan suasana atmosfer Kota Malang saat zaman dahulu.
Digelar di sepanjang jalan 200 meter di tengah-tengah kampung ini. Acara berjalan selama dua hari mulai 20 – 21 Agustus 2022 dari pukul 16.00 WIB hingga malam pukul 22.00 WIB.
Menurut Ketua Panitia Kacoek Tempoe Doeloe Achmad Candra Irawan menuturkan, acara ini merupakan realisasi dari keinginan warga. Untuk merealisasikan hal tersebut Dirinya bersama anak-anak muda dan warga sekitar mulai berbagi ide, membuat konsep dan rancangan sampai terwujudnya acara ini.
“Acara ini dimulai dari pukul 16.00 sore hingga pukul 22.00 malam. dimulai sore bazar makanan dan minuman sudah dapat dikunjungi, bahkan sebelum area ini dibuka pun sudah ramai pengunjung,” tutur Candra sapaan akrabnya.
Kacoek Tempo Doeloe ini menyuguhkan beberapa penampilan yang menyenangkan dan juga menenangkan untuk dilihat bersama keluarga.
Pada hari Sabtu, hiburan dibuka dengan gelaran musik Gendhing Jawa, dilanjut tari-tarian daerah dari Dewan Kesenian Malang dan kemudian penampilan cosplay dari Kevin Art Cosplay Design.
Kemudian pada hari Minggu, pengunjung dihanyutkan dengan alunan musik keroncong dari Anashyr Keroncong dan permainan alat musik angklung bernama Banyumas dan Tegal.
“Untuk hiburan-hiburan kami pusatkan setelah salat magrib, kedatangan bintang tamu ini sudah di lokasi,” tandas Candra.
Tambah Candra, kegiatan ini menuai respon positif dari berbagai pihak, dan semua warga sekitar maupun diluar wilayah Kebonsari.
“Harapannya, ini bisa menjadi agenda tahunan, terus harapan kami seluruh pengunjung itu terhibur dengan suasana yang kita buat. Sehingga, kita melaksanakan tahun depan lebih baik lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua RT 09 RW 01 Mohammad Hariyadi mengungkapkan, bahwa antusias baik warga luar dan dalam sangat besar sekali, padatnya pengunjung yang datang dalam acara ini ternyata di luar ekspetasinya.
“Di hari pertama kemarin kita diluar dugaan, diluar ekspektasi. Kita sebelum pukul 20.00 malam itu makanan, minuman dan jajanan setiap kedai-kedai sudah habis, pada dasarnya kita membuka ini sampai pukul 22.00 malam,” ungkapnya.
Dirinya bersama anak-anak muda dan warga sekitar berusaha mengangkat kembali nuansa Kota Malang tempo dulu. Seperti spot-spot replika rumah tempo dulu, replika ruang dapur tempo dulu lengkap dengan alat masaknya.
“Sehingga kita ingin menyerupai tempo dulu, untuk dekorasi lampu pun kita rangkai seperti lampu teplok minyak tanah supaya suasana seperti tempo dulu,” urainya.
Pantauan BacaMalang.com di lokasi, kedai-kedai penjual makan-makanan tempo dulu ini dihias begitu unik, dengan penutup daun-daun kering, dinding anyaman bambu, dengan lauk-pauk yang disajikan di atas cowek-cowek.
Makanan yang disuguhkan ada nasi jagung dan tiwul, jajanan permen gulali dan minuman dawet. Menariknya, makanan ini dimasak tanpa menggunakan kompor, melainkan menggunakan bara api dari kayu bakar.
“Untuk makanan tempo dulu ada andalan, yaitu sawut yang terbuat dari singkong dikasih gula merah dan parutan kelapa, kemudian cenil, kue rangin, kemudian ditambah makanan-makanan lainnya dengan wedang-wedang penghangat tubuh,” pungkas Mohammad Hariyadi. (why)





















































