BACAMALANG.COM – Kesha (Yasmin Napper), mahasiswi film, dihadapkan pada dilema besar antara mengejar impian atau merawat ibunya, Yuke Yolanda (Lulu Tobing), yang mulai kehilangan ingatan akibat Alzheimer. Kondisi tersebut perlahan mengubah kehangatan keluarga kecil yang terdiri dari Ayah (Ibnu Jamil), sang adik Kenya (Shofia Shireen), dan si bungsu Karlo (Jordan Omar), menjadi suasana yang canggung dan asing. Itulah gambaran singkat dari film “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan”.
Setelah sebelumnya sukses menyentuh emosi penonton lewat Tunggu Aku Sukses Nanti dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Rapi Films bersama Screenplay Films dan Vortera Studios kembali menghadirkan drama keluarga yang mengajak penonton menghargai setiap detik kebersamaan sebelum semuanya berubah menjadi kenangan.
BacaMalang.com mendapat kesempatan mengikuti media screening film garapan sutradara Kuntz Agus dan penulis Alim Sudio ini di Cinépolis Malang Town Square (Matos), Sabtu (9/5/2026). Film ini mengeksplorasi salah satu ketakutan manusia yang paling mendasar, yakni dilupakan oleh orang yang paling dicintai.
Kuntz Agus tidak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan gejala Alzheimer yang dialami Yuke. Mulai dari lupa jalan menuju sekolah tempatnya mengajar, lupa PIN kartu ATM, hingga meninggalkan Karlo saat berbelanja di pasar. Situasi tersebut menjadi genting karena Karlo merupakan pengidap epilepsi yang rentan mengalami kejang saat panik.
Meski demikian, film ini tidak terlalu jauh mengeksplorasi Alzheimer dari sisi medis. Fokus utamanya justru berada pada dinamika sebuah keluarga yang awalnya solid, lalu perlahan menghadapi tekanan berbeda-beda ketika sang ibu mulai kehilangan memorinya. Jawaban atas konflik emosional itu dihadirkan di bagian akhir dari film yang dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 13 Mei 2026 ini.

Shelly (kanan), bersama rekannya usai menonton “Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan” di Cinépolis Malang Town Square (Matos), Sabtu (9/5/2026). (Nedi Putra AW)
Shelly, salah satu penonton di Cinépolis Matos, mengaku sangat terkesan dengan film tersebut.
“Adegan-adegan keluarganya ‘kena’ banget dan relate dengan saya yang juga sebagai sulung dari tiga bersaudara seperti si Kesha. Jadi bikin homesick,” ungkapnya.
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Sumatera itu menilai banyak momen dalam film yang terasa dekat dengan kehidupannya, termasuk tradisi merayakan ulang tahun pernikahan orang tua.
“Momennya jadi kerasa banget bagi perantau seperti saya, karena dengan kuliah di sini, saya tidak bisa ikut merayakan ultah pernikahan bersama Mamak dan Ayah di rumah,” ujarnya haru.
Menurut Shelly, film ini juga membuka wawasan tentang Alzheimer. Ia merasa, pengobatan terbaik bagi penderita bukan hanya datang dari sisi medis, tetapi juga dukungan keluarga.
Sementara itu, dalam rilis yang diterima redaksi, Lulu Tobing mengaku perannya sebagai Yuke Yolanda membuatnya harus menyelami rasa sakit yang tenang namun mendalam.
“Yang paling menyesakkan bagi saya adalah posisi Yuke sebagai sosok yang sangat dicintai, namun karena memorinya berkhianat dan terus memudar, dia harus belajar hidup tanpa menyadari besarnya kasih sayang di sekelilingnya. Ini bukan hanya tentang lupa nama atau jalan pulang, tapi perjuangan untuk tetap ‘ada’ saat pikiran mulai menjauh dari orang-orang tersayang,” ungkap juara pertama Gadis Sampul 1992 tersebut.
Sedangkan bagi Yasmin Napper, film ini memberinya perspektif baru tentang hubungan keluarga. Pemeran yang mulai dikenal luas lewat serial Love Story the Series itu mengaku menemukan “rumah baru” selama proses produksi.
“Kedekatan kami sebagai ‘keluarga’ terasa sangat jujur dan jauh berbeda dari peran-peran yang pernah aku mainkan sebelumnya. Chemistry yang terbangun membuat setiap adegan kehilangan di film ini terasa sangat nyata, karena kami benar-benar tumbuh sebagai keluarga selama proses produksi,” ujarnya.
Sementara di sisi lain, sutradara Kuntz Agus menambahkan, bahwa film ini lahir dari keresahan personal tentang kefanaan dan memori yang sering dianggap sepele, padahal justru menjadi harta paling berharga dalam hidup.
“Satu pertanyaan besarnya adalah apa yang tersisa saat memori kita akan orang-orang tersayang mulai hilang?” tandasnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































