BACAMALANG.COM – Kesenian tradisional kuda lumping kembali membuktikan daya tariknya di tengah derasnya hiburan digital. Di Desa Jeru, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, ribuan warga rela berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisi tersebut.
Selama dua hari, Sabtu-Minggu (3-4/10/2026), kawasan pertunjukan di Desa Jeru dipenuhi warga. Bukan hanya masyarakat setempat, penonton dari sejumlah wilayah di sekitar Turen juga turut memadati lokasi.
Sejak sore hingga malam, suasana berlangsung meriah. Irama gamelan, hentakan kaki para penari, serta riuh tepuk tangan penonton menyatu menjadi hiburan rakyat yang masih mendapat tempat di tengah masyarakat.
Pada Sabtu (3/10/2026), panggung kesenian diisi grup Satriyo Suro Sejati (Tripel S) pimpinan Bopo Sunari. Sehari berikutnya, Minggu (4/10/2026), giliran kelompok Gayatri Rojokoyo dari Tumpang pimpinan Bopo Ngadi tampil menghibur masyarakat.
Atraksi khas kuda lumping menjadi salah satu magnet utama. Penampilan para penari mendapat sambutan antusias dari penonton yang datang dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa.
Namun, keramaian tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan. Ribuan orang yang datang turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Sejumlah pelaku UMKM memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak di sekitar lokasi pertunjukan. Pedagang kopi, makanan, gorengan, jajanan ringan hingga mainan anak ikut meramaikan kawasan.
Kerumunan penonton pun berubah menjadi pasar dadakan. Aktivitas jual beli meningkat dan memberikan tambahan penghasilan bagi warga yang berjualan selama pertunjukan berlangsung.
Tokoh pemuda Desa Jeru, Gus Wildan Roziqi, mengapresiasi kreativitas para pemuda yang terus menghidupkan kesenian tradisional di desanya.
Menurutnya, kegiatan kesenian tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga memiliki manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
“Kami sangat mendukung kegiatan kreativitas pemuda Desa Jeru, karena kegiatan seperti ini bisa menghidupkan UMKM desa setempat,” ujar Gus Wildan.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar dan dikembangkan. Dengan begitu, kesenian tradisional tetap memiliki ruang di tengah perkembangan zaman sekaligus mampu memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat desa.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































