BACAMALANG.COM – Bagi anak-anak yang tumbuh di kota, nasi, sayur, dan buah umumnya hadir dalam bentuk siap disantap. Mereka mengenal rasa dan bentuknya, tetapi belum tentu memahami perjalanan panjang di balik makanan tersebut: bagaimana tanaman tumbuh, siapa yang merawatnya, hingga bagaimana pangan akhirnya sampai ke meja makan.
Jarak antara anak-anak dan proses produksi pangan terasa semakin nyata di tengah menyusutnya ruang pertanian perkotaan. Di Depok, misalnya, data BPS menunjukkan luas sawah yang tercatat sekitar 135 hektare pada 2021, kemudian menjadi 61 hektare pada 2024.
Angka tersebut bukan hanya berbicara tentang berkurangnya lahan pertanian. Di baliknya terdapat persoalan lain, yakni ketika ruang pertanian semakin jauh dari kehidupan anak-anak, kesempatan mereka untuk memahami asal pangan juga semakin terbatas.
Gagasan tersebut menjadi salah satu latar peringatan Hari Tani Nasional 2026 di TK Siti Maryam, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Depok, Kamis (24/9/2026) pagi.
Kebun sekolah, berubah menjadi ruang belajar. Anak-anak tidak sekadar diajak menyebut nama tanaman, tetapi juga mengamati bentuk dan bagian tanaman serta membandingkan apa yang tumbuh di atas permukaan tanah dengan bagian yang tersembunyi di dalamnya.
Tanaman-tanaman seperti cabai, singkong, pisang, mangga, pepaya, dan kacang menjadi benda yang dapat diamati dan disentuh secara langsung, bukan sekadar gambar atau materi di dalam buku. Dari sana, pertanyaan berkembang. Bukan lagi sekadar “ini tanaman apa?”, tetapi juga bagaimana cara merawatnya agar dapat tumbuh dan menghasilkan.
Anak-anak kemudian diajak menanam singkong dan kacang. Bibit dimasukkan ke dalam tanah untuk dirawat bersama hingga tiba waktunya dipanen.
Kepala TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, SE, mengatakan kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk mengenalkan kerja petani melalui pengalaman langsung.
“Anak-anak perlu mengenal bahwa di balik pangan yang mereka konsumsi ada petani yang menanam, merawat, dan bekerja keras hingga hasilnya bisa dinikmati. Karena itu, Hari Tani Nasional kami manfaatkan untuk menanamkan rasa syukur sekaligus penghargaan kepada petani Indonesia,” ungkapnya di sela kegiatan.
Menurutnya, menanam bukan hal baru bagi anak-anak di sekolah tersebut. Kebun menjadi bagian dari pembelajaran yang terhubung dengan konsep pertanian terpadu.
Selain tanaman sayuran, anak-anak diperkenalkan pada pemeliharaan ikan lele, ayam, dan maggot. Hasilnya, pada kesempatan tertentu, kemudian dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran cooking class atau memasak bersama.
Aktivitas berkebun biasanya dilakukan pada pagi hari, sebelum anak-anak mengikuti pembelajaran di kelas dan sarapan. Dengan demikian, tanaman hadir sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari, bukan sekadar materi dalam satu kegiatan khusus.
Sementara Aprilianti Putri Hermawan, guru Kelompok Bermain sekaligus koordinator kegiatan Hari Tani Nasional, menambahkan, bahwa hal yang diperkenalkan kepada anak-anak bukan sekadar nama dan jenis tanaman.
“Yang ingin kami tanamkan bukan hanya pengetahuan tentang tanaman. Anak-anak belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan proses dan perawatan. Dari sana mereka belajar menghargai makanan, alam, dan orang-orang yang bekerja menghasilkan pangan,” tegasnya.
Pengalaman tersebut kemudian bertemu dengan kebiasaan makan bersama. Saat sarapan, guru mengajak anak-anak bersyukur atas makanan yang tersedia sekaligus mengenalkan bahwa setiap butir nasi memiliki cerita panjang di belakangnya.
Sebelum kegiatan Hari Tani Nasional, anak-anak juga mendapat tugas bersama orang tua untuk membuat topi petani dari karton atau kardus bekas. Topi tersebut dihias secara kreatif dan kemudian dikenakan dalam kegiatan peringatan.
Bagi orang tua, rangkaian kegiatan semacam ini memberikan kesempatan untuk melanjutkan pengalaman anak di luar lingkungan sekolah.
Nur Kholisoh Labibah, wali murid dari M. Nu’man Abdullah, salah seorang siswa TK A, mengapresiasi kegiatan yang secara konsisten mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan melalui aktivitas menanam dan merawat tanaman.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini melalui menanam dan merawat tanaman. Saya melihat anak saya menjadi lebih bersemangat berkebun di rumah. Dari kegiatan seperti ini, anak juga belajar menghargai alam dan mengenal jasa petani,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi menjadi bagian dari cara anak-anak memandang lingkungan dan makanan yang mereka temui setiap hari.
“Semoga anak-anak semakin mengenal alam, memahami pentingnya menjaga lingkungan, dan tumbuh dengan kesadaran bahwa apa yang ada di sekitar kita perlu dirawat bersama,” ungkapnya.
Bagi anak-anak, memahami perjalanan pangan tidak harus dimulai dari angka produksi atau luas lahan. Mereka dapat memulainya dari tanaman yang dilihat, tanah yang disentuh, dan makanan yang disantap.
Di balik setiap butir nasi terdapat proses panjang. Petani menanam dan merawat padi, hasilnya dipanen dan diolah, kemudian berpindah melalui berbagai tangan hingga menjadi beras dan akhirnya tersaji sebagai nasi di meja makan.
Kesadaran sederhana tersebut menjadi penting karena sebagian besar proses itu tidak terlihat oleh anak-anak yang tumbuh di perkotaan. Mereka menerima pangan pada tahap akhirnya, sementara proses yang membuatnya tersedia berlangsung jauh dari pandangan.
Kebun sekolah menghadirkan sebagian kecil proses tersebut dalam jarak yang dekat. Anak-anak dapat melihat tanaman tumbuh, belajar merawatnya, dan memahami bahwa hasil tidak dapat diperoleh secara instan.
Bibit singkong yang ditanam hari itu belum menghasilkan apa-apa. Anak-anak masih harus kembali melihatnya, merawatnya, menunggu, dan kelak menyaksikan hasilnya.
Dari proses sederhana tersebut, penghargaan kepada petani diperkenalkan bukan sebagai hafalan tentang Hari Tani Nasional, melainkan sebagai pengalaman: menanam, merawat, menunggu, dan memahami bahwa pangan yang hadir di meja makan merupakan hasil kerja banyak tangan.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































