Oleh: Muhammad Khofi
Menjadi mahasiswa bukan soal menunggu hebat baru berani melangkah. Justru dengan berani melangkah, kita menjadi hebat. Prinsip sederhana inilah yang saya pegang hingga mengantarkan saya pada pengalaman yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya: mengikuti International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 6 pada 6–11 Agustus 2026 lalu, di tiga negara, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Bersama delegasi Universitas Al-Qolam Malang, saya mengikuti rangkaian agenda akademik yang padat. Kunjungan studi ke Singapore Management University (SMU), diskusi akademik di International Islamic University Malaysia (IIUM), hingga mempresentasikan paper dan berdebat di forum konferensi di Kuala Lumpur.
Ini bukan sekadar soal stempel tiga negara di paspor. Ini tentang bagaimana gagasan seorang santri diuji di forum dunia. Dan kabar baiknya, saya tidak sendirian. Di bulan yang sama, dua sahabat saya dari Al-Qolam juga menembus forum internasional. Mahfudzi Murtaqi bersama saya di ICSM Batch 6, dan Fathor di forum Paperta Thailand. Ini bukti bahwa santri, bahwa mahasiswa pesantren, sangat bisa bersaing.
*Organisasi Adalah Kawah Candradimuka*
Jika ditanya apa bekal terbesar saya hingga berani di forum itu, jawaban saya tegas: organisasi. Saya kader GMNI Al-Qolam.
Banyak yang memandang sebelah mata organisasi kemahasiswaan, dianggap buang waktu dan mengganggu kuliah. Bagi saya, GMNI adalah kawah candradimuka. Di bale-bale diskusi itulah saya belajar menyampaikan gagasan tanpa gemetar, belajar berdebat tanpa baper, belajar membangun relasi, bekerja sama, dan yang paling penting: belajar berani mengambil kesempatan.
Tanpa proses itu, mungkin saya hanya akan menjadi penonton ketika kesempatan internasional itu lewat.
*Hikmah Disiplin dari Negeri Singa*
Dari tiga negara yang saya jejaki, Singapura dapat masukan (ilmu kemasyarakatan) berharga. Bukan karena gedungnya yang menjulang, tapi karena disiplinnya yang menjelma menjadi sistem.
Di sana saya belajar, disiplin tidak lahir dari imbauan. Disiplin lahir dari sistem yang tegas. Contoh kecil: larangan merokok sembarangan benar-benar ditegakkan dengan denda. Hasilnya? Kota yang rapi, ritme hidup yang teratur. Ini pelajaran mahal yang harus kita bawa pulang ke kampus dan organisasi kita: jika ingin perubahan, bangun sistemnya, jangan hanya mengandalkan kesadaran.
*Penyakit Mahasiswa Hari Ini: Takut Mencoba*
Melihat potret dunia kemahasiswaan kita hari ini, saya jujur prihatin. Yang paling krisis bukan soal kurangnya ilmu atau bekal spiritual, tapi krisis keberanian.
Banyak mahasiswa punya potensi luar biasa, tapi takut keluar dari zona nyaman. Takut mencoba, takut gagal, takut dinilai orang lain. Padahal, bekal ilmu sebanyak apa pun kalau tidak dibarengi keberanian mengambil kesempatan, semua itu hanya akan menjadi modal mati yang tidak pernah dipakai.
Otak berisi, tapi mental tak berani, percuma.
*Untuk Maba: Jangan Jadi Penonton*
Maka, untuk adik-adik mahasiswa baru, izinkan saya menitipkan pesan dari pengalaman kecil saya ini:
Jangan cuma jadi penonton di kampusmu sendiri. Ambil kesempatan sekecil apa pun yang ada di depan mata. Ikut diskusi itu, coba lomba itu, gabung organisasi itu. Kita tidak pernah tahu, langkah kecil hari ini akan membawa kita ke mana.
Jangan tunggu merasa “siap” dulu. Karena kesiapan itu justru lahir saat kita berani memulai.
Seperti yang selalu dihidupi di dada kami kader GMNI, kata Bung Karno: “Apabila kita memiliki niat dan keinginan yang kuat, maka seluruh alam semesta akan bahu-membahu untuk mewujudkannya.”
Perjalanan saya dari bale GMNI hingga panggung dunia adalah bukti kecil dari kutipan besar itu. Bahwa cerita besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani.
*) Penulis : Muhammad Khofi, Kader GMNI Al-Qolam, Delegasi International Conference Santri Mendunia Batch 6
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





















































