BACAMALANG.COM – Di tengah derasnya arus informasi, tekanan ekonomi, dan ritme hidup serba cepat yang kerap memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan mental, kesadaran untuk berhenti sejenak menjadi kebutuhan penting.
Komunitas Padhange Ati menggelar ruang kumpul dan cangkruk santai bertajuk “Mindfulness — Ruang Membaca Zaman dengan Kesadaran” di Lawang, belum lama ini.
Mindfulness dinilai relevan karena membantu individu hadir penuh, mengenali pikiran dan emosi sebelum menilai dan bertindak. Manfaatnya tidak hanya menenangkan pikiran, tetapi juga meningkatkan kejernihan dalam mengambil keputusan, mengurangi reaksi impulsif, memperkuat empati sosial, serta membangun ketahanan diri dalam menghadapi perubahan zaman. Dalam perspektif Islam, praktik ini sejalan dengan nilai muraqabah, hudhur al-qalb, dan muhasabah.
Acara dikemas cair ala cangkrukan wong kampung. Warga bebas ngobrol, bertukar pikiran, membaca puisi, hingga menyanyi bersama. Berbagai kalangan melebur mulai dari laki-laki, perempuan, orang tua, anak muda, hingga anak-anak.
Kegiatan ini juga dihadiri para ustadz muda dan santri pondok pesantren. Para Gus muda yang biasanya mengajar santri di dalam pondok ikut lebur dalam kegiatan ini. Selain mengaktualisasikan diri, mereka juga menebarkan butiran hikmah kehidupan lewat bahasa merakyat dan menyentuh hati. Suasana penuh spirit kesetaraan, bisa bercanda, berinteraksi, dan guyonan. Semua sama-sama saling belajar tentang nilai kehidupan tanpa sekat.
Produk UMKM pun ditata rapi dan estetis, mulai dari produk sandang seperti kaos hingga aneka souvenir, sebagai etalase untuk membantu memutar roda perekonomian warga di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini.
Materi kesadaran diri dirumuskan dalam lima langkah sederhana, yakni Hadir, Sadar, Pahami, Pilih, lalu Bertindak. Peserta diajak tidak langsung menuruti setiap perasaan, tidak asal mengucapkan setiap isi pikiran, dan tidak reaktif terhadap setiap kejadian.
Salah satu peserta, Yuri Maula, merasakan manfaat langsung dari ruang tersebut.
“Acara ini benar-benar jadi ruang yang asyik buat kita berhenti sejenak. Selain bisa belajar makin sadar dan paham sama kehidupan, kita juga bisa saling dukung bakat dan jualan warga lokal di tengah dunia yang makin serba cepat,” ujar Yuri, Rabu (30/9/2026).
Di akhir acara, semua peserta meneriakkan yel-yel identitas komunitas secara kompak sebagai penguat tali silaturahmi dan solidaritas. Padhange Ati ingin terus merawat ruang kecil ini sebagai wadah warga belajar lebih sadar dan saling menguatkan, bukan untuk lari dari kenyataan, melainkan agar mampu melihat hidup lebih jernih.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































