Batik Masuk Dunia Roblox, Edukasi Budaya Dikemas Lewat Game "Chain of Batik" - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EVENT & ACARA · 5 Okt 2026 19:49 WIB ·

Batik Masuk Dunia Roblox, Edukasi Budaya Dikemas Lewat Game “Chain of Batik”


 Pengunjung Festival Batik Kota Malang 2026 mabar game Roblox “Batik Pedia” dengan permainan Perbesar

Pengunjung Festival Batik Kota Malang 2026 mabar game Roblox “Batik Pedia” dengan permainan "Chain of Batik" atau Rantai Batik, di Alun-alun Merdeka Kota Malang, Minggu (4/10/2026). (ist)

BACAMALANG.COM-Festival Batik Kota Malang 2026 digelar melalui kolaborasi Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM,) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), dan Dewan Kesenian Daerah Kota Malang, menghadirkan karya bertajuk “Sekar Jagad Panca Warna”, di Alun-alun Merdeka Kota Malang, Minggu (4/10/2026).

Sementara upaya mengenalkan batik kepada generasi muda terus dilakukan dengan pendekatan kreatif dan interaktif. Salah satunya melalui kegiatan mabar game Roblox “Batik Pedia” dengan permainan bertajuk “Chain of Batik” atau Rantai Batik.

Game tersebut menjadi media edukasi budaya yang mengajak pemain mengenal batik melalui pengalaman bermain. Peserta dapat mengakses permainan dengan mengunduh aplikasi Roblox melalui Google Play Store maupun App Store, kemudian melakukan pendaftaran atau login.

Dosen Program Studi Sastra Jepang, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Fitriana Puspita Dewi, S.S., M.Si., Ph.D., mengatakan game Roblox “Chain of Batik” dikembangkan sebagai permainan petualangan bertema parkour yang menggabungkan edukasi batik dengan pengalaman bermain secara interaktif.

“Chain of Batik ini adalah game petualangan dengan tema parkour, yakni melompati berbagai rintangan yang dilakukan secara tim atau dua pemain,” jelas Fitriana kepada BacaMalang.com.

Game tersebut memiliki sembilan check point dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Menariknya, desain rintangan dan pulau pada setiap check point diadaptasi dari motif batik yang berasal dari lima kecamatan di Kota Malang berdasarkan database Batikpedia.

Ia memaparkan, bahwa di setiap check point, pemain juga dapat menemukan papan informasi yang menjelaskan motif batik yang digunakan pada pulau tersebut. Dengan demikian, pemain tidak hanya ditantang menyelesaikan permainan, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai ragam motif Batik Malangan.

Para model saat memeragakan batik motif Sekar Jagad Panca Warna dari Kecamatan Blimbing Kota Malang. (Nedi Putra AW)

“Pengembangan game tersebut dimulai sejak Mei dan melibatkan kolaborasi mahasiswa FILKOM UB dan FIB UB. Proses pengembangannya juga mendapat pendampingan dosen vokasi UB yang memberikan arahan pada aspek grafis serta melibatkan satu personel dari Politeknik Negeri Malang (Polinema),” tambahnya.

Fitriana berharap Chain of Batik dapat menjadi cara baru untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda, khususnya Generasi Alpha.

“Generasi muda, khususnya generasi Alpha, diharapkan sedikit banyak terekspos dengan pengetahuan batik. Sebagai generasi penerus, mereka sebaiknya diperkenalkan dengan pengetahuan warisan budaya ini melalui cara yang menyenangkan,” ujarnya.

Selain sebagai media edukasi, pengembangan Chain of Batik juga menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan database www.batikpedia.cloud. Gamifikasi diharapkan membuat informasi mengenai batik tidak hanya dimanfaatkan kalangan akademisi, tetapi juga dapat diakses dan dikenal masyarakat luas.

“Gamifikasi ini juga menjadi bentuk promosi website database kami agar informasi mengenai batik tidak hanya terbatas pada kalangan akademisi, tetapi bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” bebernya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, turut diluncurkan buku “Batik Malangan: Identitas dan Kekayaan Budaya Kota Malang”. Buku tersebut merupakan luaran program pengabdian kepada masyarakat dosen FIB UB yang melibatkan Fitriana bersama Rosana Hariyanti,S.S., M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis di FIB UB, Dhita dan Romy Setiawan, S.Pd., M.Sn dari bidang seni rupa.

Fitriana menjelaskan, buku tersebut secara garis besar membahas tiga bagian utama. Pertama, motif klasik, yakni motif yang telah ditemukan pada relief candi-candi di wilayah Malang. Kedua, motif ikonografi, yang mengangkat berbagai ikon khas Malang seperti Tugu, topeng dan trembesi.

“Bagian ketiga membahas peluang pengembangan motif batik Malangan ke depan, termasuk motif Sekar Jagad Panca Warna yang merepresentasikan keberagaman wilayah dan kekayaan budaya Kota Malang,” terang wanita berhijab ini.

Melalui perpaduan riset, teknologi digital dan kreativitas, pengembangan Batik Malangan diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menghadirkan cara baru agar batik semakin dekat dengan generasi muda.

Sekar Jagad Panca Warna sendiri adalah sebuah konsep motif yang menggambarkan keberagaman bidang yang disatukan secara harmonis dalam satu komposisi kesatuan. Istilah Panca Warna merujuk pada lima warna utama yang menjadi bagian penting dari konsep motif batik ini, yaitu hijau, merah, hitam, kuning, dan biru.

Pemilihan lima warna tersebut terinspirasi dari tradisi jenang atau bubur panca warna dalam acara selamatan, yang bermakna sebagai simbol doa serta harapan akan keselamatan. Setiap warna merepresentasikan lima kecamatan yang ada di Kota Malang: Hijau melambangkan Kecamatan Blimbing; Merah melambangkan Kecamatan Kedungkandang; Hitam melambangkan Kecamatan Sukun; Kuning melambangkan Kecamatan Lowokwaru dan Biru melambangkan Kecamatan Klojen.

Dua orang pengunjung Festival Batik Kota Malang 2026 asyik mabar game Roblox “Batik Pedia” dengan permainan “Chain of Batik” atau Rantai Batik, di Alun-alun Merdeka Kota Malang, Minggu (4/10/2026). (ist)

Mewakili pengrajin Batik Blimbing Malang, Aulya Rishmawati menyambut positif peluncuran motif baru Batik Malangan tersebut. Menurutnya, meski Batik Blimbing telah memiliki motif khas tersendiri, kehadiran motif baru menjadi langkah inovasi dan kreativitas yang penting untuk memperkenalkan kembali Batik Malang.

“Motif baru ini menjadi sarana mengenalkan kembali Batik Kota Malang melalui ragam hias, ciri khas, serta narasi cerita yang baru,” ujarnya.

Ia berharap peluncuran motif tersebut dapat membuat masyarakat, khususnya warga Malang, semakin mengenal dan mencintai Batik Malangan. Selain menjadi produk budaya, batik diharapkan terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai potensi budaya serta ekonomi kreatif daerah.

Fashion show batik-batik tersebut berlangsung meriah meski para model harus berkeringat di tengah kondisi panas yang sangat terik. Catwalk yang berupa paving ternyata juga menjadi kendala sendiri bagi para model, khususnya yang bersepatu high heel. Beberapa diantara mereka hampir terjatuh karena hak sepatunya terangkit dalam paving bermotif di Alun-alun Merdeka tersebut.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Departemen Kimia UB Borong Prestasi di IC2MS 2026, Siap Jadi Tuan Rumah IC2MS 2027

5 Oktober 2026 - 20:03 WIB

Pererat Sinergi, Polresta Malang Kota Beri Kejutan Tujuh Tumpeng untuk TNI

5 Oktober 2026 - 17:24 WIB

Kapolresta Malang Kota Buka Ruang Aduan Warga, UMKM Kampung Warna-Warni Ikut Dibahas

5 Oktober 2026 - 16:50 WIB

HUT ke-81 TNI, Polres Malang Datang Bawa Tumpeng ke Lanud Abd Saleh

5 Oktober 2026 - 16:21 WIB

PJT I Mulai Lakukan Pembersihan Sedimen di Bendungan Sengguruh Kepanjen

5 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Siskamling Banjararum Asri Tembus 10 Besar Jogo Jatim 2026, Bawa Nama Kabupaten Malang ke Level Provinsi

5 Oktober 2026 - 14:47 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !