BACAMALANG.COM-Festival Batik Kota Malang 2026 digelar melalui kolaborasi Asosiasi Perajin Batik Kota Malang (APBKM,) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), dan Dewan Kesenian Daerah Kota Malang, menghadirkan karya bertajuk “Sekar Jagad Panca Warna”, di Alun-alun Merdeka Kota Malang, Minggu (4/10/2026).
Sementara upaya mengenalkan batik kepada generasi muda terus dilakukan dengan pendekatan kreatif dan interaktif. Salah satunya melalui kegiatan mabar game Roblox “Batik Pedia” dengan permainan bertajuk “Chain of Batik” atau Rantai Batik.
Game tersebut menjadi media edukasi budaya yang mengajak pemain mengenal batik melalui pengalaman bermain. Peserta dapat mengakses permainan dengan mengunduh aplikasi Roblox melalui Google Play Store maupun App Store, kemudian melakukan pendaftaran atau login.
Dosen Program Studi Sastra Jepang, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Fitriana Puspita Dewi, S.S., M.Si., Ph.D., mengatakan game Roblox “Chain of Batik” dikembangkan sebagai permainan petualangan bertema parkour yang menggabungkan edukasi batik dengan pengalaman bermain secara interaktif.
“Chain of Batik ini adalah game petualangan dengan tema parkour, yakni melompati berbagai rintangan yang dilakukan secara tim atau dua pemain,” jelas Fitriana kepada BacaMalang.com.
Game tersebut memiliki sembilan check point dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Menariknya, desain rintangan dan pulau pada setiap check point diadaptasi dari motif batik yang berasal dari lima kecamatan di Kota Malang berdasarkan database Batikpedia.
Ia memaparkan, bahwa di setiap check point, pemain juga dapat menemukan papan informasi yang menjelaskan motif batik yang digunakan pada pulau tersebut. Dengan demikian, pemain tidak hanya ditantang menyelesaikan permainan, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai ragam motif Batik Malangan.

Para model saat memeragakan batik motif Sekar Jagad Panca Warna dari Kecamatan Blimbing Kota Malang. (Nedi Putra AW)
“Pengembangan game tersebut dimulai sejak Mei dan melibatkan kolaborasi mahasiswa FILKOM UB dan FIB UB. Proses pengembangannya juga mendapat pendampingan dosen vokasi UB yang memberikan arahan pada aspek grafis serta melibatkan satu personel dari Politeknik Negeri Malang (Polinema),” tambahnya.
Fitriana berharap Chain of Batik dapat menjadi cara baru untuk memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda, khususnya Generasi Alpha.
“Generasi muda, khususnya generasi Alpha, diharapkan sedikit banyak terekspos dengan pengetahuan batik. Sebagai generasi penerus, mereka sebaiknya diperkenalkan dengan pengetahuan warisan budaya ini melalui cara yang menyenangkan,” ujarnya.
Selain sebagai media edukasi, pengembangan Chain of Batik juga menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan database www.batikpedia.cloud. Gamifikasi diharapkan membuat informasi mengenai batik tidak hanya dimanfaatkan kalangan akademisi, tetapi juga dapat diakses dan dikenal masyarakat luas.
“Gamifikasi ini juga menjadi bentuk promosi website database kami agar informasi mengenai batik tidak hanya terbatas pada kalangan akademisi, tetapi bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” bebernya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, turut diluncurkan buku “Batik Malangan: Identitas dan Kekayaan Budaya Kota Malang”. Buku tersebut merupakan luaran program pengabdian kepada masyarakat dosen FIB UB yang melibatkan Fitriana bersama Rosana Hariyanti,S.S., M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis di FIB UB, Dhita dan Romy Setiawan, S.Pd., M.Sn dari bidang seni rupa.
Fitriana menjelaskan, buku tersebut secara garis besar membahas tiga bagian utama. Pertama, motif klasik, yakni motif yang telah ditemukan pada relief candi-candi di wilayah Malang. Kedua, motif ikonografi, yang mengangkat berbagai ikon khas Malang seperti Tugu, topeng dan trembesi.
“Bagian ketiga membahas peluang pengembangan motif batik Malangan ke depan, termasuk motif Sekar Jagad Panca Warna yang merepresentasikan keberagaman wilayah dan kekayaan budaya Kota Malang,” terang wanita berhijab ini.
Melalui perpaduan riset, teknologi digital dan kreativitas, pengembangan Batik Malangan diharapkan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menghadirkan cara baru agar batik semakin dekat dengan generasi muda.
Sekar Jagad Panca Warna sendiri adalah sebuah konsep motif yang menggambarkan keberagaman bidang yang disatukan secara harmonis dalam satu komposisi kesatuan. Istilah Panca Warna merujuk pada lima warna utama yang menjadi bagian penting dari konsep motif batik ini, yaitu hijau, merah, hitam, kuning, dan biru.
Pemilihan lima warna tersebut terinspirasi dari tradisi jenang atau bubur panca warna dalam acara selamatan, yang bermakna sebagai simbol doa serta harapan akan keselamatan. Setiap warna merepresentasikan lima kecamatan yang ada di Kota Malang: Hijau melambangkan Kecamatan Blimbing; Merah melambangkan Kecamatan Kedungkandang; Hitam melambangkan Kecamatan Sukun; Kuning melambangkan Kecamatan Lowokwaru dan Biru melambangkan Kecamatan Klojen.

Dua orang pengunjung Festival Batik Kota Malang 2026 asyik mabar game Roblox “Batik Pedia” dengan permainan “Chain of Batik” atau Rantai Batik, di Alun-alun Merdeka Kota Malang, Minggu (4/10/2026). (ist)
Mewakili pengrajin Batik Blimbing Malang, Aulya Rishmawati menyambut positif peluncuran motif baru Batik Malangan tersebut. Menurutnya, meski Batik Blimbing telah memiliki motif khas tersendiri, kehadiran motif baru menjadi langkah inovasi dan kreativitas yang penting untuk memperkenalkan kembali Batik Malang.
“Motif baru ini menjadi sarana mengenalkan kembali Batik Kota Malang melalui ragam hias, ciri khas, serta narasi cerita yang baru,” ujarnya.
Ia berharap peluncuran motif tersebut dapat membuat masyarakat, khususnya warga Malang, semakin mengenal dan mencintai Batik Malangan. Selain menjadi produk budaya, batik diharapkan terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai potensi budaya serta ekonomi kreatif daerah.
Fashion show batik-batik tersebut berlangsung meriah meski para model harus berkeringat di tengah kondisi panas yang sangat terik. Catwalk yang berupa paving ternyata juga menjadi kendala sendiri bagi para model, khususnya yang bersepatu high heel. Beberapa diantara mereka hampir terjatuh karena hak sepatunya terangkit dalam paving bermotif di Alun-alun Merdeka tersebut.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































