Tim Bestari Saintek UB Olah Limbah Kandang Ayam Jadi Pupuk Organik - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 4 Nov 2026 19:43 WIB ·

Tim Bestari Saintek UB Olah Limbah Kandang Ayam Jadi Pupuk Organik


 Prof. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, M.S., pimpinan Tim Bestari Saintek 2026 Universitas Brawijaya (UB), saat mengenalkan inovasi pemanfaatan limbah kandang ayam kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Fauzan saat mengunjungi pameran Living Lab UB, di Auditorium UB, Jumat (30/10/2026). (ist)
Perbesar

Prof. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, M.S., pimpinan Tim Bestari Saintek 2026 Universitas Brawijaya (UB), saat mengenalkan inovasi pemanfaatan limbah kandang ayam kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Fauzan saat mengunjungi pameran Living Lab UB, di Auditorium UB, Jumat (30/10/2026). (ist)

BACAMALANG.COM-Tim Bestari Saintek 2026 Universitas Brawijaya (UB) menggelar pengembangan ekosistem ekonomi sirkular di Desa Bluri, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan. Tim yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Setyono Yudo Tyasmoro, M.S., itu mengenalkan inovasi tersebut kepada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Fauzan saat mengunjungi pameran Living Lab UB, di Auditorium UB, Jumat (30/10/2026).

Prof. Yudo menjelaskan, salah satu hasil pengembangan program tersebut adalah pemanfaatan limbah kandang ayam yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan sebagai bahan baku pupuk organik.

“Konsep ekonomi sirkular yang dikembangkan tidak sekadar menghasilkan produk pupuk organik, tetapi juga membangun keterhubungan antara sektor peternakan dan pertanian melalui pendekatan Living Laboratory. Dengan demikian, limbah dari aktivitas peternakan dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian,” ungkapnya.

Selama ini, imbuhnya, limbah kandang ayam kerap dipandang sebagai hasil samping kegiatan peternakan yang membutuhkan penanganan.

“Padahal, apabila diolah melalui proses yang tepat, bahan tersebut berpotensi menjadi sumber bahan baku pupuk organik,” sambung Prof. Yudo.

Gagasan utamanya adalah mengubah salah satu siklus pemanfaatan sumber daya. Tim Bestari Saintek UB berupaya menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor pertanian, melalui pendekatan berbasis riset dan kebutuhan masyarakat..

Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan pendekatan Living Lab yang menempatkan masyarakat dan mitra sebagai bagian penting dalam proses pengembangan inovasi.

Limbah Kandang Ayam Bernilai Ekonomi melalui Inovasi Tim Bestari Saintek UB. (ist)

UB berperan dalam pengembangan teknologi, pendampingan, dan pengujian mutu produk. PT Bless Coco Indonesia turut menjadi mitra dalam pengembangan dan pengolahan produk. Sementara itu, kelompok paguyuban peternak ayam berperan dalam penyediaan bahan baku, dan Kelompok Tani Loh Jinawi Bluri menjadi bagian penting dalam pengembangan pemanfaatan pupuk organik.

Kolaborasi tersebut juga melibatkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan sebagai salah satu unsur pendukung dalam pengembangan ekosistem program.

“Pendekatan ini mengusung semangat co-creation, yaitu menciptakan inovasi bersama melalui keterlibatan berbagai pihak. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima hasil penelitian, tetapi juga dilibatkan dalam proses pengembangan, pengamatan, pengujian, hingga peluang pemanfaatan produk,” papar Prof. Yudo.

Salah satu tahapan utama program adalah pengembangan proses pengolahan limbah kandang ayam menggunakan dekomposer untuk membantu proses penguraian bahan organik. Bahan baku berasal dari limbah kandang ayam petelur dan pedaging yang selanjutnya melalui proses pengolahan dan pemantauan secara berkala.

Selama proses berlangsung, tim melakukan pengamatan terhadap sejumlah parameter, antara lain suhu, pH, dan kondisi bahan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan proses pengolahan serta memastikan kondisi fermentasi berjalan sesuai dengan tahapan yang direncanakan.

Tim Bestari Saintek UB. (ist)

Tidak berhenti pada proses produksi, pupuk organik yang dihasilkan juga melalui pengujian mutu di laboratorium kimia tanah Fakultas Pertanian UB. Pengujian dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan kandungan pupuk berdasarkan parameter standar mutu pupuk organik padat, sehingga kualitas produk dapat dievaluasi secara ilmiah.

Pengembangan program selanjutnya diarahkan pada tahap kedua, yaitu penyempurnaan formulasi pupuk organik melalui penambahan biochar dan mikroorganisme pendukung, di antaranya Azospirillum sp. dan Azotobacter sp.

Tahapan ini dirancang untuk mengembangkan karakteristik pupuk organik yang lebih baik sekaligus menguji potensi efektivitasnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

“Tujuan program tidak hanya menghasilkan produk pupuk organik, tetapi juga membangun sistem kerja sama yang berkelanjutan,” tegas Prof. Yudo.

Dalam ekosistem yang dikembangkan, peternak berperan sebagai penyedia bahan baku limbah kandang ayam, mitra pengolah berperan dalam proses produksi dan pengembangan produk, sedangkan kelompok tani menjadi pengguna yang memanfaatkan pupuk organik untuk kegiatan budidaya.

Rantai tersebut diharapkan dapat membentuk hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Limbah yang sebelumnya membutuhkan penanganan dapat menjadi bahan baku bernilai ekonomi, sementara petani memperoleh alternatif sumber pupuk organik yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian.

Ke depan, pengembangan juga diarahkan pada perhitungan biaya produksi secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan, pengemasan, hingga penentuan harga jual. Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan secara ekonomis.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Kuasa Hukum Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik Mediator PA Kabupaten Malang ke Mahkamah Agung

4 November 2026 - 18:46 WIB

Antisipasi Bencana Musim Hujan, Polres Batu Siagakan Personel dan Petakan Wilayah Rawan

4 November 2026 - 18:40 WIB

Komisi I DPRD Kabupaten Malang Sebut Sektor Pendidikan Masih Butuh 3.179 ASN

4 November 2026 - 15:16 WIB

Bencana Terjang Empat Kecamatan di Kabupaten Malang, BPBD dan DPRD Salurkan Bantuan untuk Warga

4 November 2026 - 14:08 WIB

Perkuat Kerukunan dan Cegah Konflik Sosial, Kapolres Malang Gandeng Tokoh Lintas Agama

4 November 2026 - 12:33 WIB

Operasi Patuh Semeru 2026, Polres Malang Sasar Sopir Truk dan Angkutan Umum, Keselamatan Jadi Prioritas

4 November 2026 - 06:23 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !