Author: Dr. Sukidin, M.Pd, Korprodi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember
Saat ini dunia terus bergerak pada gaya hidup yang mendewakan materi.
Masyarakat seolah menjadi pemuja materi, karena semuanya diukur dengan materi yang berhasil dimilikinya.
Masyarakat juga berkembang ke arah praktek kehidupan yang konsumerisme.
Konsumsi sudah menjadi ideologi baru dalam tatanan kehidupan masyarakat global.
Mereka berusaha memenuhi keinginannya dengan segala cara.
Hasrat berkonsumsi bahkan melampaui pendapatan yang diperolehnya.
Ideologi konsumsi menjadikan mereka memilih mengkonsumsi barang-barang branded, bermerk, berkelas dan mahal.
Mereka akan berusaha memiliki barang-barang tersebut agar terlihat wah, wow, dan rasa kagum bagi yang melihatnya.
Gaya hidup konsumtif terbukti telah mengakibatkan masyarakat berperilaku boros dan cenderung berfoya-foya.
Praktek hidup konsumtif lebih banyak efek negatifnya bagi kehidupan dibanding dengan dampak positifnya.
Untuk mengimbangi gaya hidup konsumtif, maka perlu dipromosikan gaya hidup baru yaitu frugal living.
Frugal living adalah gaya hidup hemat yang mengedepankan kebijaksanaan dalam penggunaan uang.
Saat ini frugal living semakin populer di berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Fenomena ini terlihat dari maraknya konten-konten di media sosial yang membahas tips-tips hidup hemat atau hidup sederhana.
Masyarakat didorong agar bangga melakukan hidup sederhana.
Deborah Taylor-Hough dalam buku Frugal Living for Dummies (2003] menjelaskan bahwa konsep frugal living adalah tentang membuat pilihan-pilihan penting untuk hidup sesuai dengan kemampuan keuangan Anda.
Hidup hemat bukan berarti pelit atau hidup kekurangan. Justru ini tentang membuat pilihan cerdas agar hidup sesuai kemampuan dan terhindar dari jeratan hutang.
Konsep ini pada dasarnya adalah bijak dan cermat dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki.
Gaya hidup frugal living bukan tentang pelit atau kekurangan, melainkan tentang kesadaran dan kontrol terhadap pengeluaran.
Orang yang menerapkan gaya hidup ini bukan berarti tidak mampu membeli barang-barang yang diinginkan, tetapi mereka lebih memilih untuk mengalokasikan uangnya dengan bijak untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Di era konsumerisme yang merajalela, konsep frugal living kian diminati.
Lebih dari sekadar tren, ternyata prinsip ini selaras dengan ajaran agama, yang senantiasa mendorong umatnya hidup sederhana dan mensyukuri nikmat dari Tuhan.
Agama dengan sangat tegas melarang pemborosan dan kemewahan yang berlebihan.
Larangan ini bukan semata-mata untuk membatasi kesenangan hidup, melainkan untuk mendorong umat manusia menjadi pengelola harta yang bijak dan bertanggung jawab. Makki bin Abi Thalib mengatakan, “Janganlah kamu hamburkan apa yang Tuhan berikan kepadamu dari harta kekayaan dengan bermaksiat kepada-Nya.
Dan asal mula pemborosan adalah berlebih-lebihan dan berfoya-foya.
Hal ini dapat berupa membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, menghabiskan uang untuk kesenangan semata, atau berjudi.
Termasuk yang marak saat ini adalah praktek judi online. Sikap pemborosan dapat dipahami dalam arti pengeluaran yang bukan hak, karena itu jika seseorang menafkahkan atau membelanjakan semua hartanya dalam kebaikan atau hak, maka ia bukanlah seorang pemboros.
Misalnya, Abu Bakar menyerahkan semua hartanya kepada Nabi Muhammad dalam rangka perjuangan di jalan Tuhan.
Sedangkan Utsman membelanjakan separuh hartanya. Nafkah mereka diterima Rasulullah SAW dan beliau tidak menilai mereka sebagai para pemboros.
Sebaliknya, tindakan seperti mencuci wajah lebih dari tiga kali saat berwudhu dianggap pemborosan, meskipun dalam situasi tersebut seseorang berwudhu dari aliran sungai.
Ini menunjukkan bahwa pemborosan lebih berkaitan dengan cara pengeluaran dari pada jumlah yang dikeluarkan.
Jika demikian, pemborosan lebih banyak berkaitan dengan tempat bukannya dengan kuantitas.
Frugal living adalah sebuah konsep yang mengacu pada sikap sederhana dan tidak terlalu terikat pada materi.
Hal ini sering kali mencakup pengurangan keinginan akan barang-barang duniawi dan menghindari perilaku konsumtif.
Frugal living adalah gaya hidup yang minimalis, yang menghindari tergoda kekayaan dunia dan tidak dikuasai oleh hawa nafsu.
Gaya hidup minimalis dalam era modern ini berarti membeli hanya berupa barang-barang yang benar-benar diperlukan, bukan barang-barang yang diinginkan semata.
Membeli barang yang hanya berorientasi keinginan seringkali hanya menghasilkan kerugian.
Prinsip frugal living memiliki relevansi dengan prinsip hidup hemat, yaitu seseorang mengurangi pengeluaran untuk barang-barang yang tidak penting dan berfokus pada kebutuhan yang lebih esensial.
Menjalani hidup dengan mengadopsi sikap frugal living dapat membantu seseorang untuk menempuh jalur gaya hidup yang lebih sederhana.
Agama telah lama mengajarkan prinsip kesederhanaan ini. Tuhan menegaskan tentang larangan pada perilaku berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, barang, dan minuman, karena perilaku berlebihan ini dianggap sebagai kesalahan yang mirip dengan tindakan setan.
Lebih dari itu, sikap frugal living ini mampu mencegah manusia dari kecenderungan tamak dan serakah.
Singkatnya, frugal living adalah benteng yang melindungi manusia dari ambisi yang berlebihan dan perilaku serakah yang berpotensi merugikan, bahkan merusak atau menghancurkan tatanan kehidupan.
Frugal living adalah tentang hidup dengan merasa cukup dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan.
Bila Tuhan memberinya cukup untuk kebutuhannya, maka ia tidak perlu memaksakan diri mencari harta secara berlebihan.
Kesabaran adalah hal terbaik bagi orang yang miskin dan syukur adalah yang paling pantas bagi orang yang memiliki materi.
Frugal living bukan berarti meninggalkan semua hal-hal duniawi. Sebaliknya, konsep frugal living mengajarkan kita untuk hidup dengan sikap yang sederhana dan rendah hati dalam menghadapi segala nikmat dan ujian yang diberikan Tuhan.
Ketika seseorang mempraktikkan frugal living, ia lebih mengutamakan kepuasan batin dan hubungannya dengan Tuhan daripada sekadar mengejar kesenangan materi yang fana.
Frugal living bukanlah tentang menghindari dunia, tetapi tentang cara kita memandang dan memperlakukan dunia ini.
Hidup dengan gaya frugal living akan menjadikan seseorang tidak terjerat dalam ambisi dan keinginan yang tidak terbatas untuk memiliki lebih banyak harta atau kekuasaan.
Sebaliknya, seseorang yang berfrugal living akan merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan, baik itu berupa kekayaan, kesehatan, atau hubungan sosial.
Dengan bersyukur, seseorang akan mampu melihat keajaiban dan keindahan dalam setiap detail kehidupan sehari-hari.
Dalam praktiknya, frugal living mengajarkan kita untuk mempertimbangkan setiap tindakan dan pilihan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang berfrugal living tidak akan menghabiskan uang secara berlebihan atau mengejar kesenangan duniawi, tetapi akan lebih memperhatikan kebutuhan spiritual dan moral.
Frugal living mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab terhadap segala yang kita miliki.
Falsafah hidup bagi komunitas frugal living adalah mengembangkan sikap memberi (giving), bukan menerima (taking).
Ketika kita mampu menerapkan konsep frugal living dalam kehidupan sehari-hari, maka seseorang akan dapat mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang sejati di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
Semoga.





















































