BACAMALANG.COM – Membludaknya jemaah di Masjid Jami Al Ilyas, CV Sayap Mas, Gondanglegi, Malang, setiap Ramadan memang menjadi pemandangan menarik. Namun, muncul pertanyaan: apakah tingginya antusiasme ini murni karena semangat beribadah, atau lebih dipicu oleh faktor ekonomi?
Tradisi pembagian uang oleh H. Sulaiman, seorang pengusaha rokok dermawan, tentu patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian sosial. Namun, jika praktik ini menjadi daya tarik utama bagi jemaah, maka ada kekhawatiran bahwa motivasi ibadah bisa bergeser. Sebagian masyarakat mungkin datang bukan semata-mata untuk mencari ridha Allah, melainkan karena faktor insentif finansial.
Ikbar, seorang pemuda Kabupaten Malang, memberikan pandangannya, “Saya senang melihat banyaknya jemaah di masjid, terutama selama bulan Ramadan. Namun, saya berharap motivasi utama mereka adalah ibadah, bukan hanya karena adanya pembagian uang. Kita perlu mendorong masyarakat untuk lebih ikhlas dalam beribadah.”
Dari sudut pandang sosial, hal ini bisa menciptakan ketergantungan, di mana masyarakat terbiasa mengandalkan bantuan sesaat alih-alih membangun kemandirian ekonomi. Dari segi ekonomi, aliran uang ini memang bisa membantu meringankan beban masyarakat kurang mampu, tetapi solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan perlu dipikirkan. Misalnya, alih-alih membagikan uang secara langsung, dana tersebut dapat dialihkan ke program pemberdayaan ekonomi atau pendidikan bagi masyarakat sekitar.
Ulil Albab, seorang akademisi Al Qolam, menyoroti kondisi saat ini di mana banyak terjadi PHK dan lapangan kerja sempit serta keterbelahan netizen di media sosial. “Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, di mana banyak terjadi PHK dan lapangan kerja semakin sempit, semangat berbagi memang penting. Namun, kita juga perlu memikirkan solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan. Pembagian uang bisa menjadi bantuan sementara, tetapi pemberdayaan ekonomi dan pendidikan adalah kunci untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.
Ulil menambahkan, “Selain itu, keterbelahan netizen di media sosial menunjukkan bahwa kita perlu lebih banyak inisiatif untuk mempererat solidaritas sosial. Program-program yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat harus lebih banyak digalakkan.”
Beribadah di bulan Ramadan seharusnya berlandaskan keikhlasan, bukan sekadar iming-iming rezeki instan. Maka, perlu refleksi bersama: bagaimana memastikan bahwa motivasi utama dalam beribadah tetap murni, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi yang lebih berdampak jangka panjang.
Kegiatan di Masjid Jami Al Ilyas selama Ramadan selalu menarik perhatian banyak jemaah. Selain salat Tarawih, kegiatan lainnya seperti pengajian dan tadarus Al-Quran juga ramai diikuti oleh masyarakat setempat.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































