BACAMALANG.COM – Momentum Hari Ulang Tahun ke-44 Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) dimaknai bukan sekadar seremoni, tetapi juga ruang refleksi sosial dan kebangsaan. Presiden KPJ, Anto Baret, menyoroti fenomena “omong kosong” yang dinilai semakin terasa dalam kehidupan masyarakat, terutama ketika keluar dari ucapan para pemimpin.
Menurutnya, terdapat dua dimensi “omong kosong” dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, omong kosong yang tidak merugikan, yakni obrolan santai atau gurauan yang tetap menjaga perasaan orang lain dan tidak menyakiti lawan bicara.
Namun, ia menilai persoalan menjadi serius ketika “omong kosong” datang dari pemimpin yang ucapannya tidak sejalan dengan realita maupun implementasi kebijakan. “Kalau pemimpin omongannya sudah tidak bisa dipegang, harapan rakyat jelata untuk merasakan kemerdekaan yang sebenarnya itu sulit,” ujar Anto Baret.
Ia mengkritik sejumlah program yang dinilai dipaksakan, padahal menurutnya sudah ada payung hukum lain yang lebih tepat sasaran. Salah satu contoh yang disoroti adalah pemenuhan hak pendidikan anak melalui sekolah gratis yang dianggap lebih relevan sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak dibanding program makan gratis yang disebut belum memiliki dasar hukum kuat.
Anto juga menilai ketidaksinkronan kebijakan berdampak luas, mulai dari penggunaan keuangan negara yang tidak tepat guna hingga menyangkut harga diri bangsa. “Bukan hanya soal reputasi pribadi pemimpin, tetapi martabat bangsa juga dipertaruhkan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pemimpin seharusnya tidak anti kritik, terutama ketika masyarakat menyampaikan kondisi nyata tentang penderitaan rakyat dan janji-janji kampanye yang belum terealisasi bagi masyarakat kecil.
Di usia KPJ yang ke-44 tahun, Anto berharap organisasinya tetap berpijak pada nilai kepedulian, kebersamaan, dan persaudaraan. Baginya, KPJ tidak harus mengejar prestasi besar secara formal, tetapi lebih penting menjaga solidaritas antaranggota.
Ia juga menjadikan konsep “omong kosong” sebagai pengingat internal bagi seluruh anggota KPJ agar tidak terjerumus dalam tindakan kriminal, tidak memicu konflik antar saudara, serta terus membangun persaudaraan yang tulus. “KPJ harus semakin solid. Persaudaraan itu harus benar-benar menyentuh sampai ke relung hati,” pungkasnya.
Pewarta/Editor : Rahmat Mashudi Prayoga


























































