1 Juni: Pancasila dan Tugas Sejarah Kaum Muda Mengawal Republik - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 1 Jun 2026 17:39 WIB ·

1 Juni: Pancasila dan Tugas Sejarah Kaum Muda Mengawal Republik


 Muhammad Ulil Albab, S.H, Ketua DPC GMNI Kabupaten Malang. (Ulil for Baca Malang) Perbesar

Muhammad Ulil Albab, S.H, Ketua DPC GMNI Kabupaten Malang. (Ulil for Baca Malang)

Oleh: Muhammad Ulil Albab, S.H

Tanggal 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali cita-cita besar yang diletakkan oleh Bung Karno tentang arah bangsa Indonesia. Di hadapan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Bung Karno menggali nilai-nilai yang hidup di tengah rakyat Indonesia dan merumuskannya menjadi dasar negara yang kemudian kita kenal sebagai Pancasila.

Pancasila bukan hadiah dari langit. Ia lahir dari pergulatan sejarah panjang bangsa Indonesia melawan penjajahan, kemiskinan, ketidakadilan, dan segala bentuk penindasan terhadap manusia. Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan upacara dan seremoni. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi rakyat saat ini, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar telah menjadi arah pembangunan bangsa?

Ketika petani masih kesulitan mendapatkan pupuk sesuai haknya, ketika buruh bekerja keras tetapi tetap hidup dalam ketidakpastian ekonomi, ketika rakyat kecil harus berhadapan dengan birokrasi yang tidak transparan, maka kita harus berani melakukan refleksi. Sebab Pancasila tidak hanya berbicara tentang simbol negara, tetapi juga tentang keadilan sosial yang harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Negara harus hadir untuk melindungi mereka yang lemah dan memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata. Keadilan bukanlah slogan, melainkan amanat konstitusi yang harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata.

Begitu pula Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengandung pesan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan mendengarkan suara rakyat. Demokrasi bukan hanya soal pemilu lima tahunan, tetapi juga tentang kesediaan para pemegang kekuasaan untuk membuka ruang kritik dan partisipasi masyarakat.

Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pemikiran Bung Karno, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk terus mengawal cita-cita tersebut. Marhaenisme mengajarkan bahwa politik harus berpihak kepada rakyat kecil, kepada petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan seluruh kelompok masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa.

Oleh karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila juga berarti memperkuat komitmen untuk melawan segala bentuk ketidakadilan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik-praktik yang menjauhkan negara dari rakyatnya. Kritik terhadap kebijakan publik bukanlah bentuk permusuhan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari upaya menjaga agar arah pembangunan tetap sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Bagi kaum muda, khususnya mahasiswa, tantangan terbesar hari ini bukan lagi penjajahan fisik seperti yang dihadapi para pendiri bangsa. Tantangan kita adalah bagaimana memastikan bahwa Indonesia tidak kehilangan arah ideologis di tengah arus pragmatisme, individualisme, dan ketimpangan sosial yang semakin nyata.

Mahasiswa harus tetap menjadi kekuatan moral, kekuatan intelektual, dan kekuatan kontrol sosial. Mahasiswa tidak boleh menjadi penonton ketika rakyat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat, mendengar suara mereka, mengorganisir aspirasi mereka, dan memperjuangkannya melalui jalur-jalur demokratis.

Pancasila akan tetap hidup bukan karena dihafalkan, tetapi karena diperjuangkan. Pancasila akan tetap relevan bukan karena diperingati setiap tahun, tetapi karena dijadikan pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.

Pada momentum 1 Juni ini, mari kita jadikan Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan energi perjuangan untuk menghadirkan Indonesia yang lebih berkeadilan. Sebab cita-cita para pendiri bangsa belum selesai. Dan tugas sejarah generasi hari ini adalah memastikan bahwa negara benar-benar hadir untuk seluruh rakyat Indonesia.

Dirgahayu Hari Lahir Pancasila.

“Negara Republik Indonesia bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia.”
— Soekarno

Merdeka!
Marhaen Menang!
GMNI Jaya!

*) Penulis Muhammad Ulil Albab, S.H, Ketua DPC GMNI Kabupaten Malang

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Hari Lahir Pancasila: Merawat Gagasan Besar di Tengah Bangsa yang Terus Berubah

1 Juni 2026 - 20:09 WIB

Dua Puluh Satu Mei Reformasi: Ketika Semangat Pemuda Kabupaten Malang Diuji oleh Zaman

22 Mei 2026 - 11:19 WIB

Membaca Dengan Kritis Hibah Aset Daerah Oleh Pemkab Malang ke UNIBRAW

18 Mei 2026 - 20:43 WIB

“Pokoknya Ada” dan Ilusi Partisipasi Anggaran

24 April 2026 - 11:08 WIB

Melukis Malang dalam Busana

21 April 2026 - 18:27 WIB

Refleksi Hari Kartini: Perempuan dan Pendidikan, Warisan Kartini di Era Modern

21 April 2026 - 15:29 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !