UMM Bangun Pabrik Infus Muhammadiyah, Siap Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional Mulai 2027 - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 11 Jun 2026 20:24 WIB ·

UMM Bangun Pabrik Infus Muhammadiyah, Siap Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional Mulai 2027


 Pembangunan pabrik infus milik PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. (ist) Perbesar

Pembangunan pabrik infus milik PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional. Komitmen tersebut diwujudkan dengan penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus milik PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Dari total lahan seluas 14 hektare milik UMM, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Pembangunan pabrik ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) yang digelar pada Kamis (11/6/2026).

Sejumlah tokoh penting hadir dalam acara tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.

Pabrik infus ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 dan diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun kebutuhan masyarakat secara luas.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus tersebut merupakan bagian dari penguatan ekosistem socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah.

Menurutnya, langkah ini menjadi bukti bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui pengelolaan usaha yang profesional, dengan orientasi utama pada kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi bangsa.

“Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” ujar Haedar.

Ia menambahkan, agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri kesehatan dipandang sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa kontribusi UMM tidak berhenti pada penyediaan lahan. Kawasan tersebut nantinya akan diintegrasikan dengan ekosistem Laboratorium Direktorat Sains dan Teknologi (Saintek) UMM yang menghubungkan aktivitas industri dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.

“Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” jelasnya.

Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, langkah ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. Kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan organisasi kemasyarakatan tersebut menjadi bukti bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik dapat berjalan beriringan demi mendukung pembangunan bangsa.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Panen Durian Melimpah, Harga Mulai Rp5 Ribu, Omzet Pedagang Meningkat

11 Juni 2026 - 06:08 WIB

Per 10 Juni 2026 Pertamax Series Naik, Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tetap

10 Juni 2026 - 09:37 WIB

Pemkot Malang Sosialisasikan Aturan Baru Opsen PKB dan BBNKB, Masyarakat Diminta Pahami Skemanya

8 Juni 2026 - 19:42 WIB

ION WATER Dukung AirAsia HYROX Jakarta 2026, Perkuat Ekosistem Fitness dan Sport Tourism Indonesia

5 Juni 2026 - 07:31 WIB

Koperasi SBW Malang Jadi Rujukan Internasional, ANGKASA Selangor Pelajari Sistem Tanggung Renteng

2 Juni 2026 - 22:24 WIB

Libur Panjang Dongkrak Wisata Batu, Selecta Diserbu 5.700 Pengunjung Sehari dan Okupansi Hotel Tembus 80 Persen

2 Juni 2026 - 19:32 WIB

Trending di EKOBIZ

©Hak Cipta Dilindungi !