Tahun Baru Hijriah: Saatnya Berhenti Mengeluh dan Mulai Berbenah - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 18 Jun 2026 05:48 WIB ·

Tahun Baru Hijriah: Saatnya Berhenti Mengeluh dan Mulai Berbenah


 Syaifudin Zuhri, S.Pd, aktivis pemuda, pengamat kebijakan publik, Pengurus Alumni (PA) GMNI Malang Selatan, serta pendiri (Founder) dari Ayaskara Foundation. (Syaifudin for bacamalang) Perbesar

Syaifudin Zuhri, S.Pd, aktivis pemuda, pengamat kebijakan publik, Pengurus Alumni (PA) GMNI Malang Selatan, serta pendiri (Founder) dari Ayaskara Foundation. (Syaifudin for bacamalang)

Oleh: Syaifudin Zuhri

Setiap kali Tahun Baru Hijriah diperingati, ruang refleksi seolah kembali dibuka di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan yang terus bergerak. Pergantian kalender Islam tidak semata-mata dimaknai sebagai bertambahnya hitungan waktu, melainkan juga sebagai momentum untuk mengevaluasi berbagai langkah yang telah ditempuh. Semangat hijrah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW selayaknya tidak hanya dipahami sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai perubahan sikap, pola pikir, dan cara memandang kehidupan. Di tengah beragam persoalan sosial, politik, dan keagamaan yang dihadapi saat ini, nilai-nilai hijrah semakin penting untuk direnungkan secara mendalam. Oleh karena itu, Tahun Baru Hijriah patut dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat kontribusi bagi kehidupan bermasyarakat.

Berbagai tantangan terus dihadapi oleh masyarakat. Kemajuan teknologi yang telah mempermudah komunikasi pada kenyataannya juga diikuti oleh semakin berkurangnya interaksi sosial yang bersifat langsung. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar dalam beberapa kondisi tampak mulai tergeser oleh kecenderungan untuk lebih fokus pada kepentingan pribadi. Budaya gotong – royong yang selama ini menjadi kekuatan bangsa juga dirasakan semakin jarang ditemukan di sejumlah lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu, semangat kebersamaan perlu kembali dihidupkan melalui berbagai tindakan nyata yang memperkuat solidaritas sosial. Keharmonisan masyarakat pada akhirnya hanya dapat diwujudkan apabila nilai kepedulian dan rasa tanggung jawab sosial terus dipelihara bersama.

Momentum refleksi juga perlu diarahkan kepada dunia kemahasiswaan. Peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial selama ini telah diakui sebagai salah satu kekuatan penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, tantangan zaman menuntut agar peran tersebut tidak hanya diwujudkan melalui kritik terhadap berbagai kebijakan publik. Gagasan yang solutif, argumentasi yang berbasis data, dan kontribusi nyata bagi masyarakat juga perlu terus dikembangkan. Independensi gerakan mahasiswa harus tetap dijaga agar tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan politik praktis yang bersifat sesaat. Dengan demikian, fungsi mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual dapat terus dipertahankan serta diperkuat.

Harapan besar masih terus disematkan kepada para pemegang amanah untuk menghadirkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Jabatan publik semestinya dipandang sebagai bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan dengan penuh integritas. Kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya melalui narasi dan pencitraan, melainkan harus diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat. Berbagai persoalan yang masih ditemukan dalam praktik politik hendaknya dijadikan bahan evaluasi bersama. Melalui semangat hijrah, nilai kejujuran, keadilan, dan pelayanan kepada masyarakat perlu semakin diperkuat dalam setiap proses penyelenggaraan pemerintahan.

Penguatan kualitas keimanan dan akhlak juga perlu terus dilakukan. Perbedaan pandangan yang terdapat dalam kehidupan beragama seharusnya tidak dijadikan alasan untuk memperlebar jarak antarsesama. Sebaliknya, sikap saling menghormati dan semangat persaudaraan perlu terus ditumbuhkan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Ajaran agama pada hakikatnya diturunkan untuk menghadirkan kedamaian, keadilan, dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, nilai-nilai keagamaan hendaknya tidak hanya diwujudkan dalam simbol dan seremonial semata, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dengan cara demikian, kehidupan beragama yang moderat dan harmonis akan semakin mudah diwujudkan.

Perubahan yang besar selalu diawali oleh langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa tidak seharusnya hanya disikapi dengan keluhan dan pesimisme. Kesadaran untuk melakukan perbaikan, kemauan untuk belajar, serta komitmen untuk berkontribusi perlu terus ditumbuhkan dalam setiap lapisan masyarakat. Tahun Baru Hijriah hendaknya dimaknai sebagai titik awal untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang produktif dan menggantinya dengan tindakan yang lebih bermanfaat. Dengan semangat hijrah, masa depan yang lebih baik diyakini dapat diwujudkan melalui kerja bersama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kolektif sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Semoga semangat hijrah terus dihidupkan, nilai-nilai kebaikan semakin diperkuat, dan berbagai ikhtiar perbaikan dapat diwujudkan demi terciptanya masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan bermartabat

*) Penulis: Syaifudin Zuhri, S.Pd, aktivis pemuda, pengamat kebijakan publik, Pengurus Alumni (PA) GMNI Malang Selatan, serta pendiri (Founder) dari Ayaskara Foundation.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Refleksi Peringatan Hari Ikrar Gerakan Pramuka

30 Juli 2026 - 12:23 WIB

Bangsa dalam Lorong Krisis Sistemik: Sebuah Ulasan Kritis tentang Hukum, Ekonomi, Keadilan, dan Kerusakan Peradaban

28 Juli 2026 - 08:33 WIB

Jangan Mudah Membid’ahkan, Islam Mengajarkan Kebijaksanaan

21 Juli 2026 - 09:19 WIB

Polisi Vs Jaksa

19 Juli 2026 - 06:00 WIB

Menata Kelola Aset Negara: Catatan Hukum dari Polemik Lahan Pagak

13 Juli 2026 - 08:01 WIB

Restorative Justice: Jalan Tengah Efisien Selesaikan Sengketa Pidana Tanpa Meja Hijau

11 Juli 2026 - 14:17 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !