BACAMALANG.COM – Grup musik world music asal Malang, Arca Tatasawara, resmi merilis tiga video klip terbaru mereka untuk lagu berjudul Pertanian, Jegeg Sajan, dan Javarabian. Peluncuran yang berlangsung pada 16 Juni 2026 ini menjadi penantian panjang setelah proses produksi yang memakan waktu hingga tiga tahun.
Rilis ketiga video klip tersebut sekaligus menjadi momentum peringatan 1 Muharam melalui lagu Javarabian serta Hari Krida Pertanian melalui lagu Pertanian. Karya-karya ini menghadirkan perpaduan musik etnik dengan sentuhan visual yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah Nusantara.
Dalam proses penggarapan musik, Arca Tatasawara turut melibatkan sejumlah musisi tambahan, yakni Wahyu pada kendang dan gamelan serta Ayub pada instrumen biola.
Formasi Arca Tatasawara saat ini terdiri dari Agus Wayan yang memainkan penting Karangasem Bali dan sape Kalimantan, Nova (vokal dan gitar akustik), Koko (gitar elektrik dan backing vokal), Fisal (suling dan saksofon), Mohammad (bass), serta Aditya (drum).
Video klip lagu Pertanian menampilkan visual kehidupan agraris yang kuat. Lagu ini terinspirasi dari kejayaan sektor pertanian di Pulau Jawa sebagaimana tercatat dalam Prasasti Canggal tahun 732 Masehi yang menyebutkan Jawa sebagai pulau yang kaya akan hasil pertanian, khususnya padi. Pengambilan gambar dilakukan di kawasan Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Sementara itu, lagu Jegeg Sajan mengangkat makna kecantikan perempuan Bali. Lagu ini terinspirasi dari sosok Dewi Saraswati serta figur legendaris Ken Dedes yang dalam Kitab Pararaton digambarkan memiliki kecantikan luar biasa atau dikenal dengan istilah hayu anulus. Proses videografi dilakukan di kawasan Museum Mpu Purwa, Kota Malang, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.
Keunikan lain dalam video klip Jegeg Sajan terlihat dari kostum yang dikenakan para pemain. Busana tersebut merupakan karya desainer Dinar Weddover yang terinspirasi dari motif relief yang terdapat di Candi Kidal.
Adapun lagu Javarabian merupakan gabungan kata “Jawa” dan “Arabia”. Lagu ini menggambarkan proses pertemuan budaya Jawa dengan pengaruh Islam yang masuk ke Nusantara sejak abad ke-11 Masehi melalui jalur perdagangan dan penyebaran budaya dari Persia serta Gujarat.
Visual video klip Javarabian semakin kuat dengan keterlibatan penari sufi dari komunitas Gubuk Sufi di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, yang menampilkan tarian berputar khas tradisi sufistik.
Selain merilis video klip terbaru, Arca Tatasawara juga telah menyiapkan sejumlah agenda pertunjukan. Grup ini dijadwalkan tampil pada 12 Juli 2026 di Surabaya, 2 Agustus 2026 di Malang, dan 26 Agustus 2026 di Ubud, Bali.
“Peluncuran video klip ini merupakan bentuk dedikasi kami kepada para penggemar yang terus membersamai perjalanan Arca Tatasawara sejak awal hingga hari ini,” ujar Agus Wayan, atau yang akrab disapa Aak, pencipta lagu Jegeg Sajan dan Javarabian.
Sementara itu, Nova selaku pencipta lagu Pertanian menyampaikan apresiasi kepada Ravy Dirga, mahasiswa Institut Asia Malang, yang menjadikan Arca Tatasawara sebagai objek tugas akhir skripsinya.
Ke depan, Arca Tatasawara berencana melanjutkan produksi video klip untuk sejumlah lagu lainnya, seperti Singgah, Reng Medura, Garudeya, Nusantara, dan Malang, sebagai bagian dari komitmen mereka dalam mengangkat kekayaan budaya Indonesia melalui musik.
Pewarta/Editor: Wahyu Tri Pujosakti





















































